Dengarkan Tuhan Bicara – Berdoa Bukan Sekedar “Minta-Minta”

Retret Kepausan untuk fokus mendengarkan Tuhan sebagai pengalaman kenabian
Dalam persiapan untuk retret tahunan Paus Fransiskus dan Kuria Roma, dari 1-6 Maret di Ariccia, Fr. Peter Bovati, SJ., Direktur retret, berbicara mengenai dinamika Latihan Rohani.

Paus Fransiskus dan Kuria Roma akan mengadakan retret tahunan mereka minggu depan. Temanya adalah “Semak itu terbakar (Kel. 3: 2) – Perjumpaan antara Allah dan manusia dalam terang kitab Keluaran, Injil Matius, dan doa Mazmur”.

Latihan Rohani berlangsung dari tanggal 1 – 6 Maret di Divine Master House di Ariccia, perbukitan Alban dekat Roma. Dalam wawancara ini, Amedeo Lomonaco Radio Vatikan berbicara kepada direktur retret, Fr. Pietro Bovati, imam Yesuit dan Sekretaris Kepausan Komisi Alkitab.

Tema retret ini menyinggung mengenai pengalaman kita akan Allah, yang diwakili oleh perjumpaan Musa dengan Allah dan mendengar suara-Nya dari semak yang terbakar. Suara inilah yang menerangi kehidupan orang-orang dan menuntun cara hidup. Latihan spiritual, pada dasarnya, membantu terjadinya perjumpaan pribadi antara jiwa dengan Tuhan. Tugas dari pembimbing spiritual adalah mendorong perjumpaan setiap orang dengan Tuhan agar mereka dapat mendengarkan Firman Tuhan, secara pribadi. Hanya Dia yang dapat memberikan arahan kepada setiap orang secara normatif dan menghibur.

Bagaimana rencana susunan latihan spiritual ini?

Saya pikir ini dibuat agar setiap orang mendengarkan Firman Tuhan yang diberikan dalam Kitab Suci mengikuti rencana para nabi. Mendengarkan Allah dalam doa sebenarnya adalah pengalaman kenabian. Itulah tepatnya yang dialami Musa ketika dia mendengar suara Tuhan. Dan hal yang sama dilakukan Yesus Kristus, yang melalui sepanjang hidup-Nya menyatakan bahwa Dia berbicara karena Dia adalah Allah. Karena itu, kita akan membaca beberapa ayat Alkitab yang memperlihatkan bagaimana Musa dan Kristus mengatur Diri mereka untuk mendengarkan Firman sedemikian rupa, agar dapat membantu saudara-saudari Mereka dalam pengalaman kenabian.

Akankah nubuat dan doa menjadi fokus dari latihan spiritual ini?

Tema doa dan nubuat akan memandu jadwal yang akan saya coba tawarkan dengan secara esensial mengikuti beberapa teks dari kitab Keluaran dan beberapa bagian dari Injil Matius. Juga, sebagai ungkapan dinamisme Prapaskah, selama Prapaskah kita diundang untuk secara spiritual menelusuri kembali perjalanan orang-orang di gurun menuju gunung Allah – menuju pengalaman Paskah.

Jadi itu akan menjadi perjalanan dalam terang Firman Tuhan…

Pada dasarnya ini yang akan saya coba lakukan. Saya akan membahas beberapa tema seperti: panggilan, penolakan terhadap rahmat Tuhan, dan kemudian mengilustrasikan beberapa tugas yang secara khusus dipercayakan kepada mereka yang ada di komunitas, yang memegang peran tanggung jawab. Saya berencana untuk menyimpulkan dengan pengalaman penghiburan akan kehadiran Allah yang dekat dengan orang-orang yang mengikuti-Nya; memimpin mereka dan mengubah mereka menjadi orang-orang yang mampu memancarkan cahaya Tuhan.

Mendengarkan firman Allah adalah langkah dasar untuk sampai pada perjumpaan pribadi dengan Yesus dan untuk mengalami pengalaman kenabian otentik…

Saya melihat bahwa doa, sering kali, ditafsirkan sebagai percakapan, ekspresi jiwa seseorang kepada Tuhan. Ini adalah satu dimensi doa, tetapi dimensi yang lebih dalam, lebih autentik adalah dimensi orang yang berbicara kepada Tuhan dan berkata: hamba-Mu mendengarkan-Mu. Pada saat itulah Musa memasuki tenda dan Tuhan berbicara kepadanya seperti yang dilakukan manusia terhadap temannya. Keakraban mendengarkan Tuhan ini adalah pengalaman kenabian. Dalam perjumpaan ini seseorang mengetahui kehendak Tuhan, seseorang mendengar bahwa apa yang dikatakan Tuhan itu baik. Karena itu, ini menempatkan manusia ke dalam dimensi kepatuhan, kesetiaan, iman yang merupakan pengalaman religius yang otentik. Inilah yang harus dicoba orang-orang, untuk hidup dalam doa. Tidak hanya menafsirkan doa sebagai permohonan, atau sebagai pelafalan kata-kata yang ia tujukan kepada Tuhan. Hal mendasar pertama adalah mendengarkan: “Dengarkan suara-Nya hari ini, jangan mengeraskan hatimu seperti yang kamu lakukan di padang pasir”.

Manusia yang hidup dalam doa mendengarkan Firman Tuhan. Bagaimana Tuhan dapat berbicara kepada kita seperti yang dilakukan-Nya kepada Musa?

Kita berpikir bahwa pengalaman Musa adalah pengalaman yang sepenuhnya luar biasa, seperti pengalaman para nabi, Yesus Kristus, dan juga para rasul pertama. Tetapi ini tidak benar. Kisah-kisah ini dimaksudkan untuk memberi tahu kita apa yang sebenarnya terjadi ketika orang-orang mengatur diri mereka dalam doa dan menerima Roh. Artinya, orang siap untuk dibuat mampu menerima Firman yang intim yang Tuhan sampaikan kepada masing-masing di dalam hati mereka. Ini adalah pengalaman Pantekosta setiap orang beriman. Pengalaman otentik yang membuat orang mampu masuk ke dalam hubungan pribadi dengan Tuhan.

Bagaimana hubungan ini bisa dipupuk?

Dengan menerima nubuat Firman. Yaitu, Firman Allah yang sama yang diberikan dalam Alkitab dan berusaha untuk mengasimilasinya karena dengan berbicara kepada kita melalui para nabi, Allah berbicara kepada kita melalui Firman-Nya. Itu adalah Firman yang penuh dengan Roh dan tidak ketinggalan zaman. Sebuah Firman yang menjangkau kita hari ini karena setiap kata yang diilhami berguna untuk memberi tahu kita apa yang diinginkan Allah dalam hidup kita.

Firman mencapai kita hari ini, dalam hidup kita, tetapi itu juga menerangi makna sejarah, makna zaman…

Ini membantu kita untuk memahami dan menafsirkan makna sejarah yang bukan hanya dari visi teoretis dan umum. Ini membantu kita untuk melihat kepenuhan sejarah di masa kini. Itu juga memampukan kita tidak hanya menghidupi apa yang Allah inginkan dari kita masing-masing, tetapi juga untuk menjadi alat terang, bimbingan dan dorongan. Untuk bersaksi bagi saudara-saudari kita sedemikian rupa untuk menjadi pelita itu, terang itu dan ragi yang diinginkan Tuhan bagi Gereja-Nya. Bagi mereka yang memiliki tanggung jawab gerejawi, maka, ini sangat penting.

Kehadiran Paus dan Kuria juga akan menjadi sumber inspirasi khusus untuk Anda…

Hampir ada perasaan kagum berada dalam situasi ini. Tetapi tugas rendah hati saya sebagai saudara adalah untuk mengirimkan pengalaman religius yang saya peroleh dari mendengarkan Firman Tuhan dan memberikan bantuan, inspirasi untuk berdoa, sehingga seseorang dapat mengalami keindahan ini, kedalaman ini, kebenaran dari Firman Tuhan. Sebuah Perkataan yang menjangkau kita secara mendalam dan pribadi.

Firman yang tercerahkan dan hati baru. Ini adalah ikatan mendasar…

Firman Allah yang, dalam arti tertentu, memiliki fungsi melembutkan hati ini, membarui hati mereka, membuat hati semakin mampu mencapai kedalaman spiritual dan kelembutan itu, dari kerahiman itu, dari belas kasih yang kita tahu menjadi inti pewahyuan Allah bagi umat manusia: pergi menemui orang-orang untuk membantu mereka, membuat mereka menjadi semakin mampu menyambut misteri kehidupan sampai pada kepenuhan eskatologisnya.

29 Februari 2020
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s