Ingat Ajaran Yesus – Corona Jangan Matikan Belas Kasih!

Renungan Harian Misioner
Kamis, 5 Maret 2020
Hari Biasa Pekan I Prapaskah
P. S. Eusibius, S. Gerasimos
Est. 4:10a,10c-12,17-19; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,7c-8; Mat. 7:7-12

Dua hari yang lalu, secara resmi Presiden Jokowi mengumumkan dua warga negara Indonesia terjangkit virus Corona, yaitu seorang ibu yang berusia 64 tahun putrinya yang berusia 31 tahun. Tiba-tiba terjadi panic buying, setelah masyarakat Indonesia mengetahui berita tersebut. Supermarket dan toko-toko obat di Jakarta diserbu orang-orang yang melakukan pembelian dengan ‘kalap’. Antrian yang panjang terlihat di mana-mana. Parkiran di tempat-tempat perbelanjaan penuh. Banyak barang dalam sekejap habis. Orang-orang ketakutan, dan berpikir untuk menimbun persediaan, kalau-kalau nantinya virus menyebar dengan cepat. Mereka tak mau menderita, mereka ingin dapat mengontrol hidup mereka tetap aman dan selamat.

Hari ini, CNN Indonesia memberitakan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, telah memastikan kepolisian sudah diperintahkan untuk mengamankan fenomena pembelian sembako secara panik atau panic buying akibat isu virus Corona di sejumlah daerah. Presiden Jokowi pun telah menyatakan agar masyarakat tidak panik, karena Corona itu bisa dihadapi dan persediaan sembako cukup.

Bukan hanya persediaan sembako, namun beberapa barang tertentu yang sangat penting pun habis, menghilang dari pasaran: masker, hand sanitizer, termometer, dll. Ada sebagian orang yang melihat situasi ini sebagai peluang bisnis bisa meraup keuntungan yang lebih besar. Masker yang sangat dibutuhkan saat ini untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap virus, diborong dan dijual dengan harga selangit. Dari harga normal Rp. 40 ribu per boks, sekarang telah tembus hingga ke harga Rp. 600 ribu per boks.

Menyedihkan melihat situasi yang terjadi saat ini. Bukan saja sejumlah orang kehilangan akal sehat, tapi juga iman dan belas kasih. Yang begitu terasa adalah ketakutan akan kematian, ketidakpedulian, dan keserakahan. Tindakan penyelamatan diri sendiri dilakukan dengan membabi buta, sementara sebagian orang lain menggunakannya untuk melakukan eksploitasi. Monopoli mencerminkan bahwa tidak adanya keadilan dan empati bagi orang lain, yang juga pasti membutuhkan. Dampak monopoli tersebut barang-barang menjadi langka di pasaran. Jika pun masih ada, itu dikuasai oleh oknum-oknum tertentu yang berusaha ‘memeras’. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki materi lebih dan tidak mampu membeli dengan harga selangit itu? Apakah kemudian mereka hanya bisa diam, menerima nasib? Apakah mereka tidak memiliki hak yang sama untuk menjaga diri mereka dan tetap hidup? Lalu bagaimana dengan instansi-instansi kesehatan yang menangani begitu banyak pasien yang menderita dengan bermacam penyakit, yang butuh dilayani? Bagaimana mereka akan dapat bekerja melayani para pasien jika mereka tidak memiliki alat-alat vital tersebut?

Mari kita berhenti sejenak dari segala kepanikan di seputar tumpang tindihnya berita mengenai Corona serta situasi kekacauan yang terjadi saat ini. Tenangkan hati dan pikiran, ingat kembali siapa diri kita. Dari mana kita berasal? Siapa sumber keselamatan kita?

Manusia adalah ciptaan Tuhan. Hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Benar bahwa kita harus berusaha menjaga kehidupan, tapi tidak berarti kita membiarkan diri kita kehilangan kemanusiaan kita. Apakah kita masih pantas disebut sebagai manusia yang diciptakan Tuhan dengan akal budi? Jangan gadaikan iman kita akan Tuhan, mempersetankan apa yang diajarkan dan diperintahkan Tuhan kita, hanya karena besarnya ketakutan kita akan virus.

Dalam Injil Matius hari ini, Yesus merangkumkan isi seluruh hukum Taurat dan kitab pada nabi (ada tambahannya!): “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat. 7:12).

Ingin tetap hidup? Jagalah juga kehidupan orang lain. Ingin tetap makan? Berikan juga makanan kepada yang lain. Ingin akan keselamatan? Selamatkanlah juga mereka yang tidak mampu. Berbelas kasihlah kepada setiap orang, karena Tuhan juga selalu berbelas kasih kepada kita.

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Umat Katolik di Cina: Semoga umat Katolik di Cina bertahan dalam keteguhan iman pada Injil dan bertumbuh dalam persatuan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pasar tradisional: Semoga di tengah merebaknya mal-mal modern, pasar-pasar tradisional tetap bisa berfungsi dan memperoleh hak hidupnya sehingga pedagang-pedagang kecil tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menghunjukkan Masa Prapaskah: untuk menjadi masa Penyelenggaraan Latihan Keadilan bagi seluruh umat Keuskupan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s