“Jangan Takut!”

Retret Kepausan: Sebuah pelayanan yang menyemangati, dan mengingatkan mengenai penyembahan berhala
Pengkhotbah untuk Latihan Rohani tahun ini untuk Kuria Roma, Pastor Pietro Bovati, memperingatkan mengenai bentuk-bentuk penyembahan berhala modern, dan mendorong sebuah “pelayanan yang menyemangati”. Setelah pulih dari flu, Paus Fransiskus terus mengikuti latihan dari Vatikan.

Paus Fransiskus melanjutkan misa di Casa Santa Marta, dan mengikuti latihan spiritual untuk Kuria Roma, menurut pernyataan dari Direktur Kantor Pers Takhta Suci, Matteo Bruni pada hari Selasa malam. “Bapa Suci dalam beberapa hari terakhir mengalami flu seperti hasil diagnosa, tanpa gejala yang disebabkan oleh penyakit lain”.

Pastor Pietro Bovati, yang memimpin latihan spiritual Yesuit, memperingatkan terhadap bentuk-bentuk penyembahan berhala modern selama renungannya pada Selasa sore.

Hari 3 sore: Penyembahan berhala berakar dari kurangnya iman
Berfokus pada kisah anak lembu emas dalam kitab Keluaran, Pastor Bovati mengatakan bahwa, meskipun penyembahan berhala kadang-kadang dipandang sebagai masalah di masa lalu, toh tetap merupakan “dosa besar”. Merenungkan berbagai aspek penyembahan berhala, ia menyoroti keinginan akan kepastian, memilih “melihat” daripada mendengarkan suara Allah yang tidak terlihat.

Pastor Bovati juga memperingatkan tentang bahaya, khususnya di dunia digital modern, untuk menjadi “pengikut” dari obyek penyembahan berhala. Secara khusus, ia berkata bahwa mungkin ada semacam penyembahan berhala dalam ritualisme, berkaitan dengan upacara-upacara indah yang mungkin kurang doa yang otentik, yang berakar dalam mendengarkan dan menerima Firman Tuhan.

Yesus mengatasi godaan untuk menyembah berhala ini, ketika Ia menang atas Setan selama pencobaan di padang pasir. Melalui teladan-Nya, Tuhan mengajar kita cara mengatasi kebutaan kita sendiri.

Merenungkan Penyeberangan Laut Merah (Kel. 14) dan kisah Yesus berjalan di atas air (Mat. 14), Pastor Bovati mencatat bahwa tema penyeberangan malam sangat menonjol dalam kedua cerita. Secara khusus, orang-orang Ibrani tidak senang dengan kesulitan meninggalkan Mesir. Musa, alih-alih mengritik orang-orang, melakukan sebuah “pelayanan yang menyemangati” untuk membantu orang-orang memercayai Tuhan.

Dalam Injil Matius, para Rasul ketakutan ketika badai mengancam perahu mereka. Yesus datang kepada mereka, berjalan di atas air, dan menyemangati mereka, “Jangan takut”. Dia mengundang Petrus untuk memiliki pengalaman yang sama berjalan di atas air, dan ketika iman Petrus goyah, Yesus mengangkatnya.

Yesus menyelamatkan dan membebaskan kita
Pastor Bovati mengakhiri renungannya pada hari Rabu pagi dengan menyarankan kepada mereka yang hadir untuk berdoa Mazmur 124 “sebagai doa pujian untuk Tuhan yang membebaskan kita, yang menyelamatkan kita”. Jika Yesus bukan “Dia apa adanya Dia”, kita akan binasa di perairan yang dalam. “Tetapi sebelum air menenggelamkan kita: jerat itu putus, dan kita dibebaskan”.

04 Maret 2020
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s