Bukan Kebenaran Orang Lain yang Menuntunku kepada Iman, Namun Kebenaranku Akan Tuhan.

Paus Fransiskus mengawali liturgi Misa Hari Minggu Prapaskah III, Minggu pagi, 15 Maret 2020 di Casa Santa Marta, Vatikan, dengan mengingat orang-orang yang sedang sakit dan menderita. Kemudian beliau meminta kita semua untuk bersama-sama mendoakan terutama “semua orang yang bekerja untuk memastikan pelayanan umum: orang-orang yang bekerja di apotek, supermarket, transportasi, aparat kepolisian … sehingga kehidupan sosial dan sipil dapat berlanjut”.

Dalam homilinya Paus Fransiskus berfokus pada Bacaan Injil liturgi hari itu (Yoh. 4:5-42) yang menceritakan percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Paus Fransiskus mencirikan pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria tersebut sebagai “sebuah dialog, sebuah dialog bersejarah. Dialog tersebut bukan sebuah perumpamaan. Dialog tersebut terjadi”, katanya. Yesus bertemu dengan seorang perempuan, seorang pendosa dan “untuk pertama kalinya dalam Injil, Yesus mengejawantahkan jatidiri-Nya. Ia mengejawantahkannya kepada seorang pendosa yang memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran kepada-Nya”. Dan berdasarkan pada kebenaran itu, “ia pergi untuk memberitakan Yesus. ‘Mari. Mungkin Ia adalah Mesias, karena Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat'”.

Paus Fransiskus kemudian menjelaskan bahwa bukan melalui debat teoretis tentang apakah Allah seharusnya disembah di gunung ini atau itu tempat perempuan itu menemukan jatidiri Yesus yang sebenarnya. Sebaliknya, perempuan itu menemukan bahwa Ia adalah Mesias oleh karena “kebenarannya” yang menguduskan dan membenarkan dirinya.

“Itulah apa yang dipergunakan Tuhan – kebenarannya – untuk memberitakan Injil. Kita tidak bisa menjadi murid Yesus tanpa kebenaran kita sendiri. … Perempuan ini memiliki keberanian untuk berdialog dengan Yesus. Karena kedua bangsa ini tidak saling berdialog. Ia memberanikan diri untuk berminat terhadap tawaran Yesus, tawaran air, karena ia tahu ia dahaga. Ia berani mengakui kelemahannya dan dosa-dosanya.

Selanjutnya Paus Fransiskus mengatakan bahwa keberanian perempuan Samaria itu menuntunnya untuk “mempergunakan kisahnya sendiri sebagai jaminan bahwa orang itu adalah seorang nabi”. “Tuhan selalu menginginkan dialog yang terus terang tanpa menyembunyikan berbagai hal, tanpa ujud palsu. Sama seperti itu. Aku dapat berbicara dengan Tuhan secara ini, sama seperti aku dengan kebenaranku sendiri. Jadi, dari kebenaranku sendiri dengan kekuatan Roh Kudus, aku akan menemukan kebenaran – bahwa Tuhan adalah Sang Penyelamat, Dialah yang datang untuk menyelamatkanku dan menyelamatkan kita”. Karena dialog antara perempuan Samaria dan Yesus begitu terus terang, Paus Fransiskus mengatakan bahwa ia kemudian dapat menyatakan “kenyataan mesianik Yesus” yang membawa “pertobatan bangsa itu…. Ini saatnya menuai”, kata Paus Fransiskus.

Seperti kebiasaannya, Paus Fransiskus kemudian mengakhiri homilinya dengan sebuah doa: “Semoga Tuhan menganugerahkan kita rahmat untuk senantiasa berdoa dalam kebenaran, berbalik kepada Tuhan dengan kebenaranku sendiri dan bukan dengan kebenaran orang lain, bukan dengan kebenaran yang telah disuling dalam perdebatan…. “Benar, aku mempunyai lima suami. Inilah kebenaranku”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s