Mengampuni dengan Segenap Hati

Renungan Harian Misioner
Selasa, 17 Maret 2020
Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Dan 3:25.34-43; Mzm. 25:4b-5b.6-7bc.8-9; Mat 18:21-35

Kesalahan si hamba dalam perumpamaan yang diberikan Yesus bukanlah ketidakmampuannya untuk melunasi hutangnya, melainkan karena ia tidak berlaku sama seperti rajanya yang telah lebih dahulu mengasihinya. Sang raja tidak menuntut si hamba untuk melunasi hutangnya, melainkan ia menuntut si hamba untuk mengasihi sesamanya yang berhutang kepadanya: “Bukankah engkau pun harus mengasihi kawanmu seperti aku telah menghasihi engkau?” (Mat. 18:33). Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa kita pun adalah orang-orang yang memiliki hutang dosa yang membuat kita kehilangan rahmat Allah yang kita butuhkan untuk hidup dan keselamatan kita. Namun, Allah tidak membiarkan kita kehilangan rahmat dan belas kasihan-Nya. Allah mengutus Yesus Putera-Nya untuk membebaskan kita dari hutang dosa yang mendatangkan hukuman dan kebinasaan.

Bagaimana tanggapan kita akan belas kasih Allah terhadap kita? Satu-satunya tanggapan yang tepat untuk rahmat seperti itu adalah membiarkan Allah mengubah hati kita sedemikian rupa sehingga kita pada gilirannya mampu bertindak sama murah hatinya kepada orang lain. Kita pun dituntut untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita karena Allah terlebih dahulu mengampuni kita sebagaimana yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya: “…dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Kita dituntut untuk berbelas kasih kepada sesama karena Allah telah lebih dulu berbelas kasih kepada kita.

Michael McCullough, salah seorang pakar dalam psychology of forgiveness, mengatakan bahwa syarat penting bagi bertumbuhnya belas kasih (compassion) adalah pribadi itu sendiri mesti mengalami secara konkret bagaimana rasanya menerima belas kasih dari pihak lain, sehingga belas kasih bukanlah sekadar wacana yang indah semata, melainkan suatu pengalaman nyata. Saya tahu bagaimana rasanya menjadi pihak yang menerima belas kasih sehingga dapat berbelas kasih kepada orang lain. Dengan kata lain, kesanggupan untuk berbelas kasih bisa jadi tidak sepenuhnya bersumber pada kemampuan diri kita sendiri, melainkan dari pemberian penuh kasih pihak yang lain.

Melalui Yesus, kita telah mengalami belas kasih dan pengampunan dari Allah. Kita pun sering mengalami belas kasih dan pengampunan dari sesama kita. Kita tentu merasa damai, tenang, dan bahagia. Pengalaman indah akan belas kasih yang kita peroleh dari Allah dan yang kita terima dari sesama kita mesti kita bagikan kepada orang lain melalui tindakan belas kasih dan pengampunan. Apabila kita mohon belas kasih dan pengampunan dari Allah tanpa kita rela mengampuni orang yang bersalah kepada kita, kita sebenarnya sedang melakukan kesalahan yang sama seperti si hamba yang jahat.

Kemurahan hati, belas kasih, kerahiman adalah salah satu hukum fundamental yang memungkinkan manusia masuk ke dalam kerajaan Surga: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Mat. 5:7). Orang yang berbelas kasih mempercepat Kerajaan Surga. Orang yang tidak mau berbelas kasih, mengucilkan dirinya sendiri dari Kerajaan Surga. Pengampunan harus asli, sejati, penuh, sebab pengampunan macam ini saja dapat muncul dari dalam hati. Semoga Allah berbelas kasih kepada kita dan memampukan kita untuk mengampuni sesama dengan segenap hati.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Umat Katolik di Cina: Semoga umat Katolik di Cina bertahan dalam keteguhan iman pada Injil dan bertumbuh dalam persatuan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pasar tradisional: Semoga di tengah merebaknya mal-mal modern, pasar-pasar tradisional tetap bisa berfungsi dan memperoleh hak hidupnya sehingga pedagang-pedagang kecil tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menghunjukkan Masa Prapaskah: untuk menjadi masa Penyelenggaraan Latihan Keadilan bagi seluruh umat Keuskupan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s