Melihat “Hati” – Dengan “Hati”

Renungan Harian Misioner
Minggu, 22 Maret 2020
Hari Minggu Prapaskah IV
1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41 (panjang) atau Yoh. 9:1,6-9,13-17,34-38 (pendek)

Samuel pernah dijuluki “si Pelihat”,waktu sebutan “nabi” belum lazim. Mengapa? Sebab, Ia mampu melihat apa yang luput dari mata orang biasa (1Sam. 9:9,11). Maka, ia menjadi tempat umat dan raja bertanya tentang kehendak Allah. Tetapi, cerita ini memperlihatkan bahwa “si Pelihat” kondang ini ternyata dapat juga “salah lihat”. Nabi juga manusia! Ia juga harus “belajar melihat” secara tepat. Artinya: belajar untuk melihat dan menilai manusia dengan kriteria dan cara-pandang Allah.

TUHAN mengutus Samuel untuk melantik raja baru, yang belum ia tahu. Samuel berangkat mengandalkan pengalaman. Waktu memilih Saul sebagai raja, Allah tampaknya setuju dengan cara-pandangnya. Saat itu, Saul dipilih karena penampilan fisiknya: “seorang muda yang tampan, tidak ada orang Israel yang lebih tampan daripadanya. Ia lebih tinggi dari semua orang sebahu ke atas” (1Sam. 9:2, 10:23-24). Pada saat pemilihan Saul tersebut, Samuel tampil aktif mengatur peristiwa. Ia bagaikan sutradara yang merekayasa pentas. Saul yang “lebih tinggi sebahu ke atas” langsung kelihatan di tengah rakyat yang berkumpul. Ia dipilih justru karena posturnya tersebut.

Sekarang, Samuel memakai kriteria yang sama saat mencari pengganti Saul. Begitu melihat Eliab, si sulung yang tinggi dan rupawan, Samuel langsung yakin: “sungguh, di hadapan TUHAN berdiri orang yang diurapi-Nya”. Akan tetapi, TUHAN langsung mengoreksi sang nabi: “Jangan pandang rupanya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan seperti yang dilihat manusia, sebab manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Tujuh anak Isai yang dihadirkan, semuanya tidak dipilih. Kriteria lama sang Nabi secara total tidak berlaku lagi. TUHAN punya kriteria dan cara-pandang-Nya sendiri. Ia memilih raja yang “berkenan di hati-Nya” (1Sam. 13:14). Ia memilih Daud, si bungsu yang tidak masuk hitungan. Itulah cara-kerja dan cara-pandang TUHAN yang standar: memilih orang yang dianggap lemah dan tidak diperhitungkan manusia. Mengapa? Supaya terbukti-nyata bahwa Dialah yang berkarya, bukan prestasi dan kehebatan manusia, yang biasanya mudah sekali diklaim, dipamerkan dan dibanggakan!

Dalam dunia yang serba visual, hal-hal yang tampak semakin dijadikan ukuran. Kita hidup dalam dunia casing dan acting, di mana kepuasan inderawi menjadi prioritas tertinggi. Penampilan modis dan stylish menentukan harga-diri. Kita sibuk di permukaan, lupa dengan kedalaman. Kita melihat dan menilai “apa yang di depan mata” saja. Seperti Samuel: kita terpukau dan terpasung pada pengalaman masa lampau, pada kriteria dan cara-pandang lama, menyangkut diri sendiri dan orang lain. TUHAN mengajak kita untuk belajar “melihat” secara baru. Melihatlah seperti DIA: “melihat hati” dan “dengan hati”, bukan melihat rupa, penampilan, harta dan pelbagai hal luaran. Melihat seperti DIA berarti kita dituntut untuk melihat dan memilih mereka yang dilupakan, yang dikecilkan dan diabaikan oleh manusia. Ini tidak mudah. Kita bahkan lebih sering “buta” daripada melihat. Kita butuh Dia, Sang Terang Dunia!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Umat Katolik di Cina: Semoga umat Katolik di Cina bertahan dalam keteguhan iman pada Injil dan bertumbuh dalam persatuan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pasar tradisional: Semoga di tengah merebaknya mal-mal modern, pasar-pasar tradisional tetap bisa berfungsi dan memperoleh hak hidupnya sehingga pedagang-pedagang kecil tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menghunjukkan Masa Prapaskah: untuk menjadi masa Penyelenggaraan Latihan Keadilan bagi seluruh umat Keuskupan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s