Iman dalam Penderitaan

Renungan Harian Misioner
Selasa, 24 Maret 2020
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah
P. S. Katarina dr Swedia
Yeh. 47:1-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 5:1-16

Injil hari ini menampilkan sebuah kisah tentang apa yang terjadi di Yerusalem, dekat Pintu Gerbang Domba di sebuah kolam yang disebut Bethesda. Kolam itu mempunyai lima serambi dan di serambi-serambi itu berbaringlah sejumlah besar orang sakit. Dari antara mereka, ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.

Penderitaan Manusia
Tiga puluh delapan tahun sakit, sungguh-sungguh menyakitkan. Secara fisik jelas, ia tidak bisa bergerak banyak. Ia sering hanya bisa berbaring menahan rasa sakit itu sendiri. Secara batiniah ia tidak merasa nyaman, atau bahkan tersiksa dalam waktu lama. Secara rohani lebih lagi, ia tidak tahir, merasa digolongkan sebagai pendosa seturut pandangan zaman. Bukan mustahil kalau dia merasa ditinggalkan oleh Allah sendiri.

Penderitaan orang itu adalah penderitaan kita juga. Wabah corona yang melanda dunia saat ini membuat kita merasa cemas. Pergerakan kita terbatas. Pertemuan-pertemuan yang membawa sukacita tertunda sampai masa yang belum pasti. Barangkali terlalu berlebihan kalau situasi kita saat ini bak kota Oran, yang dilukiskan Albert Camus dalam “La Peste”, tiba-tiba terjangkit penyakit sampar. Penyakit itu datang secara mendadak dan membuat seluruh penduduk kota cemas. Akan tetapi penduduk kota itu tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menerima saja. Permasalahan menjadi “absurd” karena penyakit sampar bukanlah akibat dari suatu sebab, apalagi yang menjadi korban adalah anak-anak yang tidak bersalah.

Bagi Henry Nouwen, penderitaan semacam ini merupakan penderitaan yang biasa kita alami. Baginya, penderitaan abad ini bukalah disebabkan oleh kemiskinan, penyakit, bencana alam, atau bahkan terorisme, melainkan karena manusia sudah kehilangan kontak dengan yang Ilahi. Inilah yang kiranya penderitaan yang paling dahsyat dalam hidup manusia.

Kitab Suci memberi kesaksian bahwa sebagai manusia, Yesus juga mengalami hal ini. Demi keselamatan banyak orang, Ia berhadapan dengan berbagai macam tantangan dan penderitaan. Penderitaan yang paling berat dirasakan-Nya ketika Dia merasa ditinggalkan oleh para murid-Nya dan bahkan oleh Allah sendiri, seperti terucap dalam doa ini: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani”“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk. 15:34).

Iman dan Perjuangan
Kita tidak bisa mengerti apa yang diperbuat Yesus terhadap orang itu. Bagaimana mungkin Ia mengatakan “bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” kepada seorang yang tidak berdaya. Bukankah hal itu merupakan sesuatu yang mustahil? Namun demikian, orang itu berbuat seperti apa yang dikatakan-Nya. Perjuangan untuk melakukan tiga hal yang mustahil itulah yang merupakan tanda bahwa dia masih mempunyai iman.

Iman dalam pelajaran agama berbunyi “penyerahan diri secara total” kepada Allah. Tetapi dalam realita hidup sehari-hari, iman berbunyi lain. Dalam situasi kekurangan, iman Maria mengatakan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” (Yoh. 2:5). Dalam situasi kegagalan, iman Petrus berkata: “Guru telah sepanjang malam kami bekerja dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (Luk. 5:5). Dalam keadaan sakit pendarahan selama dua belas tahun dan hampir putus asa karena hartanya sudah habis, iman perempuan itu muncul dalam kata-kata ini: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh” (Mrk. 5: 28). Demikian juga iman seorang perwira: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat. 8:8).

Iman dan perjuangan membuat penyembuhan terjadi. Karena itu peran keduanya dalam menghadapi penderitaan tidak perlu lagi diragukan. Telah terbukti bahwa mereka yang mempunyai iman dan terus berjuang akan mendapatkan kekuatan adikodrati yang melampau batas kekuatan dan kehebatan manusia. Kecemasan dan keputusasaan adalah tanda kurangnya iman. Hal inilah yang membuat manusia tidak bisa melihat bahwa di balik situasi berat yang tidak bisa diatasi dengan cara manusia, ternyata ada rencana ilahi yang tidak mudah untuk dipahami. Iman yang dimiliki oleh orang sakit itulah yang dicari oleh Tuhan, seperti tertulis: “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk. 18:8).

(RP. Anton Rosari, SVD – Imam di Keuskupan Bogor)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Umat Katolik di Cina: Semoga umat Katolik di Cina bertahan dalam keteguhan iman pada Injil dan bertumbuh dalam persatuan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pasar tradisional: Semoga di tengah merebaknya mal-mal modern, pasar-pasar tradisional tetap bisa berfungsi dan memperoleh hak hidupnya sehingga pedagang-pedagang kecil tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menghunjukkan Masa Prapaskah: untuk menjadi masa Penyelenggaraan Latihan Keadilan bagi seluruh umat Keuskupan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s