Memerangi Roh Jahat: Berdialog atau Tinggal Diam?

Paus Fransiskus mengawali homilinya dalam Misa harian Jumat pagi, 27 Maret 2020, di Casa Santa Marta, Vatikan, dengan menekankan bahwa masa-masa sulit yang sedang kita hadapi telah mengilhami banyak orang untuk semakin memiliki kepedulian menyeluruh terhadap orang lain: terhadap keluarga-keluarga yang tidak memiliki cukup uang untuk bertahan hidup, terhadap orang-orang berusia lanjut yang kesepian, terhadap orang-orang sakit di rumah sakit. Mereka sedang mendoakan orang lain, “agar entah bagaimana pertolongan segera tiba”. “Ini adalah suatu pertanda yang baik”, kata Paus Fransiskus, “dan kita bersyukur kepada Tuhan, yang membangkitkan kepekaan perasaan ini dalam hati umat beriman”.

Dalam homilinya Paus Fransiskus berfokus pada Bacaan-bacaan liturgi hari itu. Bacaan Pertama (Keb. 2:1a,12-22),  Paus Fransiskus mengatakan, hampir seperti warta berita tentang apa yang akan terjadi pada Yesus. “Bacaan Pertama hampir merupakan catatan sejarah tentang apa yang akan terjadi kemudian”. Bacaan Pertama menceritakan bagaimana “orang-orang fasik” terobsesi dengan Yesus karena Ia menegur cara hidup mereka yang jahat; dan karenanya mereka berencana untuk mencobai-Nya “dengan cemoohan dan siksaan”, dan akhirnya “menghukum-Nya sampai mati dengan cara yang mengenaskan”.

“Ini bukan kebencian yang sederhana”, kata Paus Fransiskus, tetapi semacam “amarah tiada henti” yang diilhami oleh iblis. Seperti yang dilakukannya terhadap Ayub, iblis berusaha memisahkan orang-orang dari Allah, “menghancurkan pekerjaan Allah”. Macam tekad bengis untuk menghancurkan orang lain ini berasal “dari iblis”. Tekad tersebut dapat dilihat tidak hanya dalam bagaimana iblis menyerang Yesus, tetapi juga dalam penganiayaan terhadap umat Kristiani. Iblis, kata Paus Fransiskus, menggunakan “cara yang paling ampuh untuk menuntun umat Kristiani menuju kesesatan, adalah menjauhkan mereka dari Allah” – dan hal ini secara harfiah “sangat jahat”.

“Bagaimana seharusnya kita menanggapi tekad yang sangat bengis tersebut?”, tanya Paus Fransiskus. Hanya ada dua cara yang tepat untuk bereaksi: berdialog, atau tinggal diam. Kita seharusnya melakukan apa yang dilakukan Yesus: Dalam keempat Injil, kita melihat bahwa Yesus berbicara, tetapi ketika Ia tahu bahwa kata-kata tidak akan ada gunanya, Ia diam. Berhadapan dengan “roh amarah”, Yesus tinggal diam, Paus Fransiskus menekankan, dan dalam keheningan, Ia menjalani sengsara-Nya.

Keheningan, kata Paus Fransiskus, juga merupakan tanggapan yang tepat terhadap “tindakan-tindakan amarah ringan” yang kita hadapi setiap hari, seperti pergunjingan. Membicarakan orang-orang di belakang mereka, bergunjing tentang mereka, adalah semacam “pelecehan sosial”, tidak sekuat penganiayaan, mungkin, tetapi semacam amarah, karena menghancurkan orang lain.

“Marilah kita memohonkan kepada Tuhan rahmat untuk memerangi roh jahat”, kata Paus Fransiskus mengakhiri homilinya, “berdialog ketika kita perlu berdialog, tetapi, ketika berhadapan dengan roh amarah, memiliki keberanian untuk tinggal diam, dan memperkenankan orang lain untuk berbicara ”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s