Tedung Tembaga yang Menubuatkan Yesus Akan Ditinggikan di Kayu Salib

“Hari ini kita mendoakan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal”, kata Paus Fransiskus mengawali Misa harian Selasa pagi, 31 Maret 2020, di Casa Santa Marta, Vatikan. “Pada saat ini di mana setiap orang dianjurkan berada di rumah, semoga masyarakat, laki-laki dan perempuan, menyadari kenyataan ini dan membantu mereka, dan agar Gereja sudi menyambut mereka”.

Dalam homilinya, Paus Fransiskus merenungkan lambang ular yang disajikan dalam kedua Bacaan liturgi hari itu (Bil 21:4-9 dan Yoh 8:21-30). “Seekor ular tentu saja bukan binatang yang bersahabat”, kata Paus Fransiskus, mengawali homilinya. “Ular selalu dikaitkan dengan kejahatan. Bahkan dalam kitab Wahyu, ular adalah binatang yang dipergunakan iblis untuk menyebabkan dosa. Dalam Kitab Wahyu, iblis disebut ‘si ular tua’, sosok yang sejak awal menggigit, meracuni, menghancurkan, membunuh”.

Bangsa Israel tidak bisa lagi menahan hati dengan perjalanan panjang. Mereka bersungut-sungut karena mereka tidak memiliki makanan atau air, serta muak makan manna. “Selalu bernada sama. ‘Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini’ Bayangan mereka… selalu kembali ke Mesir. ‘Kami baik-baik saja di sana. Kami makan enak’”.

“Tampaknya Tuhan juga tidak tahan dengan umat-Nya saat ini. Ia marah. Murka Allah kadang-kadang terlihat. Lalu, ‘Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati’. Pada saat itu ular selalu menjadi gambaran kejahatan. Ketika melihat ular, bangsa itu melihat dosa mereka… apa yang telah mereka lakukan salah… Mereka bertobat”.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa beliau sendiri bertanya-tanya apakah ular yang ditaruh Musa pada sebuah tiang bisa menjadi penyembahan berhala. Alih-alih menjadi penyembahan berhala, beliau berkata, “ular tersebut merupakan sebuah nubuat, pemberitaan tentang apa yang akan terjadi” di masa depan. Yesus sendiri mengingat ular yang ditaruh pada sebuah tiang tersebut dan menerapkannya pada diri-Nya. Untuk semakin memahaminya, kita perlu menempatkan nubuat Yesus bahwa Ia akan ditinggikan seperti ular yang ditaruh pada sebuah tiang itu, bersama dengan nubuat terdahulu.

“Inti dari nubuat itu adalah bahwa Yesus menjadikan diri-Nya berdosa bagi kita. Ia tidak berdosa; Ia menjadikan diri-Nya berdosa. Seperti dikatakan Santo Petrus dalam suratnya, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya”. Dan ketika kita memandang salib, kita memikirkan Tuhan yang menderita, dan semua itu benar. Tetapi marilah kita berhenti sejenak untuk sampai di pusat kebenaran itu. ‘Pada saat ini Engkau tampaknya menjadi sang pendosa yang paling berat! Engkau menjadikan diri-Mu berdosa’. Ia menanggung semua dosa kita…. Ada balas dendam oleh para ahli Taurat yang tidak menginginkan-Nya. Semua itu benar. Tetapi kebenaran yang berasal dari Allah yaitu Ia datang ke dunia untuk menanggung dosa-dosa kita hingga menjadikan diri-Nya berdosa…. Dosa-dosa kita berada di sana”.

Umat Kristiani perlu menjadikannya sebuah kebiasaan melihat salib “dalam terang ini”, dalam “terang penebusan” dan sebagai pengingat bahwa Yesus tidak berpura-pura menderita dan mati. Itu sama sekali bukan saat kekalahan-Nya. Ia sepenuhnya sendirian dengan beban dosa kita yang telah dipikul-Nya hingga titik kebinasaan dan merasa ditinggalkan sepenuhnya oleh Bapa-Nya, kata Paus Fransiskus.

“Tidaklah mudah untuk memahami hal ini dan jika kita memikirkannya, kita tidak akan pernah sampai pada sebuah kesimpulan. Kita hanya bisa merenung, berdoa, dan bersyukur”.

 

Baca juga homili lengkapnya: disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s