Perjanjian Kesetiaan kepada Allah

Paus Fransiskus mengawali Misa harian Kamis pagi, 2 April 2020, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan. “Hari-hari dukacita dan kesedihan ini menyoroti begitu banyak masalah yang tersembunyi”, kata paus Fransiskus. Beliau menyebutkan sebuah foto yang ditampilkan di surat kabar harian, yang menyentuh hatinya: “Begitu banyak tunawisma di sebuah kota, berkerumun di sebuah tempat parkir… ada begitu banyak tunawisma hari ini”. Paus Fransiskus juga mengajak umat untuk memohon kepada Santa Teresa dari Kalkuta untuk membangkitkan dalam diri kita rasa kedekatan terhadap mereka yang hidup, rekahan masyarakat, seperti para gelandangan yang nasibnya sangat jelas dalam saat krisis ini.

Dalam homilinya, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa umat Kristiani harus sadar telah dipilih oleh Allah, bersukacita saat mereka menapaki jalan keselamatan, dan setia kepada Perjanjian. Setelah membaca Antifon Misa hari itu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa menjaga mata kita tertuju pada Yesus dan pada pengharapan yang tidak pernah mengecewakan, adalah sebuah undangan.

“Kristus adalah Pengantara Perjanjian Baru sehingga, melalui wafat-Nya, orang-orang yang telah dipanggil dapat menerima warisan kekal yang telah dijanjikan kepada mereka”, kata Paus Fransiskus.

Mengulas kedua Bacaan liturgi hari itu (Kej. 17:3-9 dan Yoh. 8:51-59), Paus Fransiskus mencatat bahwa keduanya berfokus pada sosok Abraham, pada Perjanjian dengan Allah dan pada bagaimana Yesus datang untuk “menciptakan kembali” dengan mengampuni dosa-dosa kita. “Tuhan telah menjanjikan kita dan sekarang Ia meminta kita untuk masuk ke dalam sebuah Perjanjian, sebuah Perjanjian kesetiaan”, kata Paus Fransiskus.

Kita adalah umat Kristiani, Paus Fransiskus menjelaskan, “karena kita dipilih, dipilih oleh Allah, dan kita telah menerima janji kelimpahan, yang harus kita tanggapi dengan kesetiaan terhadap Perjanjian tersebut”.

“Orang Kristiani bukanlah seseorang yang bisa menunjukkan surat baptis. Surat baptis hanyalah selembar kertas. Kamu adalah orang Kristiani jika kamu mengatakan ‘ya ’terhadap pemilihan Tuhan, jika kamu mengikuti janji yang telah dibuat Tuhan untukmu dan jika kamu melaksanakan Perjanjian dengan Allah tersebut. Inilah hidup Kristiani”, kata Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa dosa-dosa kita bertentangan dalam tiga dimensi: tidak menerima pemilihan dengan menyembah berhala, tidak mengharapkan janji, dan melupakan Perjanjian. Tuhan, beliau mengingatkan umat, senantiasa mengingat Perjanjian-Nya, dan tidak pernah melupakan umat-Nya.

“Ia hanya melupakan satu perkara, ketika Ia mengampuni dosa-dosa. Setelah mengampuni Ia kehilangan ingatan, Ia tidak mengingat dosa-dosa tersebut. Dalam perkara lain, Allah tidak lupa. Kesetiaan-Nya adalah ingatan. Kesetiaan-Nya kepada umat-Nya. Kesetiaan-Nya kepada Abraham adalah ingatan akan janji-janji yang dibuat-Nya”, kata Paus Fransiskus.

Menguraikan fakta bahwa kita masing-masing adalah orang yang dipilih, dan bahwa dalam pemilihan ini ada janji pengharapan dan tanda kelimpahan, Paus Fransiskus mengingat bahwa ketika Tuhan memberitahu Abraham, Ia telah memilihnya untuk menjadi “bapa segala bangsa”, Ia juga memberitahunya untuk berlimpah dalam iman “yang akan berkembang dalam perbuatan baik”, dan “mematuhi Perjanjian dengan-Ku”.

Paus Fransiskus mengakhiri homilinya dengan mengatakan, “Inilah pewahyuan tentang keberadaan Kristiani kita yang diberikan Sabda Allah kepada kita hari ini. Terjadilah menurut kehendak Bapa kita: menyadari telah dipilih, bersukacita dalam berjalan menuju janji dan setia dalam membuat Perjanjian”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s