Jangan Terperangkap dalam Rayuan iblis!

Renungan Harian Misioner
Selasa, 07 April 2020
P. S. Yohanes Baptista de la Salle
Yes. 49:1-6; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh. 13:21-33,36-38

“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” ( 1Sam. 16:7), demikian bunyi firman Tuhan kepada Samuel.

Firman Tuhan kepada Samuel ini, sungguh-sungguh menggambarkan kisah pengkhianatan Yudas terhadap Yesus sebagaimana yang kita dengar dalam kisah injil pada hari ini. Siapa sangka orang yang sudah dipilih secara khusus oleh Yesus menjadi murid-Nya, akan mengkhianati-Nya. Para murid pun yang ada bersama dengan Yesus tidak sedikit pun menduga bahwa Yudas akan mengkhianati Yesus.

Dalam perjamuan itu Yesus berkata para murid-Nya “Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (ay. 21). Pernyataan Yesus ini menimbulkan kebingungan diantara para murid, dan mereka ragu-ragu siapakah diantara mereka yang akan menyerahkan Yesus. Murid yang dikasihi Yesus mewakili murid-murid yang lain bertanya kepada Yesus “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus: “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya”. Dan ternyata roti itu diberikan kepada Yudas. Sampai pada titik ini para murid belum mengerti juga.

Menarik untuk kita renungkan adalah perintah untuk melaksanakan misi pengkhianatan itu dengan simbol “memberikan roti”. Bukankah roti yang biasanya diberikan oleh Yesus itu melambangkan kehidupan, sumber kekuatan yang datangnya dari Yesus sendiri? Tetapi mengapa malah mendatangkan petaka yakni Yudas kerasukan iblis? Kita perlu sadar bahwa yang diberikan oleh Yesus ini bukanlah roti ekaristi “sumber kehidupan”, namun yang mau ditekankan di sini adalah terpenuhinya apa yang telah dinyatakan dalam kitab Suci. Dalam Mzm. 41; 10 “Sahabat karib-Ku yang Kupercayai, yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku”. Tentang kenyataan ini (memberikan roti), kita bisa ingat kembali kisah Yesus dicobai di padang gurun. Cobaan pertama adalah iblis meminta Yesus mengubah batu menjadi roti. Si iblis memang pandai merayu dan menaklukkan manusia. Adalah sesuatu yang membingungkan di mana tindakan kasih berubah menjadi rangsangan kebencian. Inilah taktik atau cara kerja dari si iblis. Ia dapat mengubah sesuatu yang baik dan benar menjadi sesuatu yang buruk, mendatangkan kesombongan dan keangkuhan bagi manusia. Ia dapat memakai rasa cinta kasih dan mengubahnya menjadi rasa kepuasan demi kepentingan diri sendiri. Yudas terperangkap dalam taktik yang dirancangkan oleh si iblis ini.

Selanjutnya setelah Yudas menerima roti itu, reaksi Yudas adalah meninggalkan Yesus. Dan pada waktu itu hari sudah malam. Penginjil Yohanes seringkali menjelaskan sesuatu dengan membuat perbandingan, seperti terang-gelap, siang-malam, atau atas-bawah. Waktu yang dipakai oleh Yohanes untuk menegaskan tindakan pengkhianatan ini adalah malam. Malam meninggalkan kenangan pahit dalam kisah ini.

Malam itu gelap, dan gelap itu identik dengan dosa. Gelap adalah tempat tinggal si iblis. Yudas masuk ke dalam kegelapan, dia memilih meninggalkan Yesus. Berpaling dari Yesus dan pergi berjumpa dengan iblis. Jika seseorang pergi dari Yesus dan mengikuti kehendak hatinya sendiri, maka membuat hari selalu malam, gelap gulita selalu menaunginya.

Saudara-saudariku, pilihan ada di tangan kita. terang dan gelap selalu berjalan beriringan. Siapa sangka Yudas akan mengkhianati Yesus. Bukankah hari-harinya dilalui bersama Yesus. Yudas adalah teladan bagi kita, tentang bagaimana harus mengikuti Yesus dengan sepenuh hati.

Camkanlah firman Tuhan berikut ini “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” ( Kej. 4:7). Yudas gagal dalam mengemban misi ini.

Karena itu kita perlu berdoa: Tuhan berilah kami hikmat agar dapat mengikuti Putra-Mu Yesus Kristus dengan sepenuh hati, yakni selalu memilih tinggal dalam terang dan mengelakkan segala yang gelap yang dapat menyesatkan kami untuk mengkhianati Putra-Mu.

(RD. Stefanus Si – Imam Keuskupan Weetebula)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menolong mereka yang kecanduan: Semoga saudara-saudara kita yang menderita karena kecanduan, dalam bentuk apapun, bisa mendapatkan pertolongan dan pendampingan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Membentuk budaya membaca: Semoga Gereja berkenan mencari sarana-sarana konkret untuk melatih keluarga-keluarga Katolik dalam menghidupi dan meningkatkan budaya literasi baca. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Berkatilah umat di Keuskupan kami: agar para wanita dan anak mengalami dan melaksanakan keadilan dalam keluarga Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s