Kepedulian Paus terhadap Gereja-Gereja Muda yang terkena dampak Pandemi

picKota Vatikan (Agenzia Fides) – “Selama hampir seabad, Serikat Kepausan Misioner (PMS) telah menjadi perpanjangan tangan Paus untuk kepentingan Gereja di wilayah misi. Di bawah ini adalah hasil wawancara Agenzia Fides dengan Presiden Serikat Kepausan Misioner, Uskup Agung Mgr. Giampietro Dal Toso.  Wawancara ini sehubungan dengan adanya wabah corona virus 19, yang sedang menimpa dunia saat ini. Inilah beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Agenzia Fides.

Yang Mulia, dalam situasi pandemi ini, bagaimana dengan misi Gereja?

Kami telah mendengar banyak pengalaman dalam minggu-minggu ini: penyakit itu membuat kita menderita dan mengubah cara hidup kita. Membuat cara pandang kita berbeda, dan membuat kita peduli dan tergerak hati. Gereja juga membantu setiap orang, dalam semua dimensinya, untuk menghadapi situasi baru ini. Saya percaya bahwa refleksi Bapa Suci pada hari Jumat 27 Maret, di lapangan St. Petrus yang kosong, menyentuh dimensi-dimensi yang berbeda dan dengan cara yang mengagumkan. Di antara banyak hal, saya ingin menyoroti masalah kerawanan: manusia, tidak hanya sebagai individu – tetapi sebagai orang yang kali ini dia mendapati dirinya dihadapkan pada kekurangannya, pada batas kemampuannya. Sebagai Gereja kita harus bertanya pada diri sendiri, apa jawaban yang kita berikan kepada orang yang hari ini mendapati dirinya secara dramatis dihadapkan dengan situasi yang ada.

Yang Mulia, Refleksi apa secara spesifik memengaruhi “missi ad gentes”?

 Di sinilah tepatnya respons spesifik Gereja ditempatkan: untuk mendorong orang yang kebingungan, untuk menemukan harapan kepada Allah yang telah dinyatakan Yesus kepada kita. Mengetahui bahwa Allah mencintai manusia dan tidak meninggalkannya sendirian, karena Allah mencintai semua yang ia ciptakan, seperti yang diingatkan oleh Alkitab kepada kita. “Missi ad gentes” adalah manifestasi dari kata-kata, karya dan sakramen. Gereja mewartakan kematian Kristus di Kayu Salib, dan kematian yang sangat menakutkan kita karena corono virus 19 mengetuk pintu kita dalam minggu-minggu ini, dan ini menjadi pengalaman tentang Allah yang bangkit dari salib dan membuka kita menuju kehidupan kekal.

Orang beriman dan berbagai gereja mempunyai karakter cinta kasih yang mengalir dari dalam dirinya sendiri. Apa hubungannya secara khusus antara amal kasih dan evangelisasi?  

 Sekali lagi Kristus memberikan diri-Nya sepenuhnya kepada kita. Seluruh misteri Kristus adalah karunia bagi setiap orang. Gereja tidak melakukan apa pun kecuali melanjutkan, pemberian Kristus kepada manusia. Karena itu orang-orang Kristen dipanggil melaksanakan apa yang dilakukan oleh Kristus sendiri. Juga pada saat ini kita membawa Kristus: firman yang memberikan penghiburan, kasih-Nya, dan penderitaan-Nya. Bahkan Ketika pewartaan Injil dan amal kasih bertemu menjadi satu. Kita memberitakan Tuhan yang telah memberi diri-Nya penuh kasih tanpa syarat.

Dalam semangat apa Serikat Kepausan Misioner (PMS) mengusulkan kepada Paus, adanya lembaga Dana Darurat khusus untuk para korban virus corona di “wilayah misi”?

Serikat Kepausan Misoner (PMS) telah menjadi milik kepausan selama hampir seabad karena mereka adalah perpanjangan tangan Paus untuk kepentingan Gereja di wilayah misi. Menjadi instrumennya, tampak jelas bahwa, pada titik ini, kami harus menunjukkan tanda bahwa kami siap membantu Paus. Selanjutnya, saya ingin menggarisbawahi bahwa kami telah menerima permintaan dalam hal ini juga dari beberapa Direktur Nasional PMS. Kesadaran bahwa kita adalah “Paus” masih hidup di PMS. Kita juga tahu bahwa ada dampak krisis ini di seluruh dunia, dalam bidang ekonomi dalam masyarakat. Beberapa negara sudah meminta bantuan kepada PMS. Namun, kami ingin menegaskan kembali bahwa kerangka intervensi kami khusus untuk Dana Darurat Covid-19. Tujuannya untuk membantu dan memperkuat Gereja-gereja muda, di Asia, Afrika, Amerika Latin, Oseania, dalam kegiatan pastoral mereka.

Ini tidak tampak seperti “krisis seperti yang lain”, seperti banyak krisis yang telah melalui sejarah dekade terakhir. “Pelajaran” apa yang bisa diambil darinya? Paradigma baru apa untuk masa depan evangelisasi?

 Mungkin kita berada di awal proses yang akan memiliki konsekuensi sosial dan budaya yang mendalam. Namun, tampaknya terlalu dini bagi saya untuk merumuskan analisis yang cukup jelas. Tentunya pelajaran yang telah kita pelajari adalah bahwa kita semua terikat pada utas yang sama, di mana pun kita hidup di planet ini; dan bahwa kita semua milik keluarga manusia yang sama. Mungkin kita juga mengerti bahwa kita saling membutuhkan dan bersama dalam keluarga, bahkan secara paksa, memberi tahu kita bahwa kita membutuhkan “rumah”. Saya juga percaya bahwa kita telah mengalami, dengan kesadaran yang lebih besar, bahwa kita membutuhkan doa: di mana manusia mengalami keterbatasannya, Tuhan muncul dengan segenap kekuatannya, karena, God of Love lebih kuat daripada kematian.

(Yohana/Agenzia Fides 8/4/2020)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s