Kesetiaan Kita, Tanggapan Kesetiaan Allah

Paus Fransiskus mengawali Misa harian Rabu pagi, 15 April 2020, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan, dengan mendoakan orang-orang lanjut usia, terutama mereka yang terasing atau berada di panti jompo. Kebanyakan dari mereka, beliau mengatakan, takut meninggal seorang diri saja. Tetapi “mereka adalah akar kita, cerita kita, sejarah kita”. Beliau mengundang kita untuk mendoakan mereka, “agar Tuhan sudi semakin dekat dengan mereka pada saat ini.”

Tanggapan Kita Terhadap Kesetiaan Allah

Paus Fransiskus mengingatkan permenungannya kemarin tentang Santa Maria Magdalena sebagai “ikon kesetiaan” dalam Bacaan Injil. Hari ini Paus Fransiskus bertanya apa artinya setia kepada Allah bagi kita. Kesetiaan kita kepada Allah, beliau berkata, “tidak lebih daripada sebuah tanggapan terhadap kesetiaan Allah”.

Allah “setia terhadap sabda-Nya… setia terhadap janji-Nya”. Ia “berjalan bersama umat-Nya, melaksanakan janji-Nya untuk dekat dengan umat-Nya”. Kita terus-menerus mengalami Allah sebagai Sang Juruselamat, Paus Fransiskus mengatakan, karena “Ia setia terhadap janji-Nya”.

Penciptaan Kembali yang Lebih Indah

Dalam Bacaan Pertama (Kis. 3:1-10), seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahir disembuhkan demi nama Yesus. Paus Fransiskus mengatakan ini adalah contoh kesetiaan Allah, “yang mampu mengulangi berbagai hal, menciptakan kembali berbagai hal… inilah kesetiaan-Nya kepada kita: penciptaan kembali yang lebih menakjubkan daripada penciptaan”.

Seperti seorang gembala yang baik, Allah tidak pernah lelah mencari domba yang hilang, kata Paus Fransiskus. Ia melakukannya “demi cinta, demi kesetiaan” dan bukan meminta bayaran, tetapi bebas, cuma-cuma. Allah adalah seperti seorang ayah yang tidak pernah kenal lelah menunggu anaknya pulang ke rumah – dan yang mengadakan sebuah pesta ketika ia pulang. “Kesetiaan Allah adalah sebuah pesta, sebuah pesta yang bebas, sebuah pesta bagi kita semua”.

Kesetiaan Allah yang Datang Sebelum Kita

Kesetiaan Allah yaitu kesetiaan ilahi yang menuntun “Allah kita yang murah hati” untuk mencari Petrus, yang telah menyangkal Yesus selama sengsara-Nya. Paus Fransiskus menjelaskan bahwa meskipun kita tidak tahu apa yang dikatakan Tuhan kepada Petrus ketika Ia pertama kali menampakkan diri kepadanya setelah kebangkitan, “Kita tahu bahwa kesetiaan Allah lah yang mencari-cari Petrus”.

Seperti Petrus, kesetiaan Allah selalu mendahului kesetiaan kita, “dan kesetiaan kita selalu sebuah tanggapan terhadap kesetiaan yang mendahului kita”.

Bagi kita, Paus Fransiskus mengakhiri homilinya, “setia adalah memuji kesetiaan ini, setia kepada kesetiaan Allah. Kesetiaan merupakan sebuah tanggapan terhadap kesetiaan ini”.

Homili selengkapnya: disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s