Homili Paus Fransiskus pada Misa 17 April 2020

Para murid adalah para penjala ikan: pada kenyataannya, Yesus memanggil mereka ketika mereka sedang bekerja. Andreas dan Petrus sedang menebarkan jala. Mereka meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus (bdk. Mat 4:18-20). Sama halnya dengan Yohanes dan Yakobus: mereka meninggalkan ayahnya dan anak-anak sedang bekerja bersama mereka serta mengikuti Yesus (bdk. Mat 4:21-22). Panggilan tersebut sebenarnya terjadi dalam pekerjaan mereka sebagai penjala ikan. Dan Bacaan Injil hari ini (Yoh. 21:1-14), mukjizat ini, tentang penangkapan yang ajaib, membuat kita berpikir tentang penangkapan yang ajaib lainnya, yang diceritakan oleh Lukas (bdk. Luk 5:1-11), hal yang sama juga terjadi di sana. Mereka memiliki tangkapan, ketika mereka berpikir mereka tidak memiliki tangkapan apapun. Setelah Ia berhenti berbicara, Yesus berkata: “Bertolaklah ke tempat yang dalam” – “Telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa!” “Pergilah”. “Percayalah pada sabda-Nya – kata Petrus – aku akan menebarkan jalaku”. Demikian banyaknya di sana – kata Injil – sehingga “mereka takjub” (bdk. Luk 5:9) oleh mukjizat itu. Hari ini, dalam tangkapan yang lain ini, tidak ada pembicaraan tentang ketakjuban. Suatu kewajaran terlihat, kita melihat bahwa ada kemajuan, jalan yang diliputi pengetahuan akan Tuhan, dalam keintiman dengan Tuhan; saya akan mengatakan sepatah kata: dalam keakraban dengan Tuhan. Ketika Yohanes melihat hal ini, ia berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan!”, dan Petrus mengenakan pakaiannya lalu terjun ke dalam danau untuk pergi kepada Tuhan (bdk. Yoh 21:7). Pertama-tama, ia tersungkur di depan-Nya dan berkata: “Pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (bdk. Luk 5:8). Kali ini ia tidak mengatakan apa-apa, ia lebih alami. Tidak ada seorang pun yang bertanya: “Siapakah Engkau?” Mereka tahu itu Tuhan, perjumpaan dengan Tuhan tersebut alami; keakraban para Rasul dengan Tuhan telah tumbuh.

Kita juga sebagai umat Kristiani, dalam perjalanan hidup kita berada dalam kondisi berjalan, berkembang dalam keakraban dengan Tuhan. Tuhan, bisa saya katakan, “agak siap sedia”, bukan “siap sedia” karena Ia berjalan bersama kita; kita tahu itu Dia. Tidak ada seorang pun di sini yang bertanya kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Mereka tahu itu Tuhan. Keakraban orang Kristiani adalah keakraban sehari-hari dengan Tuhan. Dan, tidak diragukan lagi, mereka sarapan bersama, dengan roti dan ikan; tidak diragukan lagi mereka berbicara banyak hal secara alami. Keakraban umat Kristiani dengan Tuhan ini selalu berkenaan dengan komunitas. Ya, keintiman pribadi tetapi dalam komunitas. Keakraban tanpa komunitas, keakraban tanpa Roti, keakraban tanpa Gereja, tanpa umat, tanpa Sakramen-sakramen, berbahaya. Keakraban tersebut bisa menjadi – katakanlah – suatu keakraban gnostik, keakraban hanya untuk diriku sendiri, terlepas dari umat Allah. Keakraban para Rasul dengan Tuhan selalu keakraban komunitas, selalu keakraban meja, tanda komunitas; selalu keakraban dengan Sakramen, dengan Roti.

Saya mengatakan hal ini karena seseorang membuat saya merenungkan bahaya bahwa saat yang sedang kita jalani ini, pandemi yang telah membuat kita semua berkomunikasi ini, termasuk secara religius, melalui media, melalui sarana komunikasi, juga Misa ini, kita semua sedang berkomunikasi, tetapi tidak bersama-sama, kita secara rohani bersama-sama. Sedikit orang dalam jumlah tetapi ada banyak orang: kita bersama-sama, tetapi tidak bersama-sama. Sakramen juga: kamu memilikinya, Ekaristi, hari ini, tetapi orang-orang yang terhubung dengan kita hanya memiliki Komuni Rohani. Dan ini bukan Gereja: ini adalah Gereja dari sebuah situasi yang sulit, yang diperkenankan Tuhan, tetapi cita-cita Gereja selalu bersama umat dan bersama Sakramen-sakramen – selalu.

Sebelum Paskah, ketika ada berita bahwa saya akan merayakan Paskah di Basilika Santo Petrus yang kosong, seorang Uskup menulis kepada saya – seorang Uskup yang baik, baik, dan ia mencela saya. “Tetapi bagaimana bisa, Santo Petrus begitu besar, mengapa kamu tidak menempatkan setidaknya 30 orang di sana, sehingga terlihat orang-orang? Tidak akan ada bahaya… Saya berpikir: “Tetapi apa yang ada di benaknya dengan mengatakan hal ini kepada saya?” Pada saat itu, saya tidak mengerti. Namun, karena ia seorang Uskup yang baik, sangat dekat dengan umat, ia pasti ingin mengatakan sesuatu kepada saya. Ketika saya bertemu dengannya, saya akan bertanya kepadanya. Lalu saya mengerti. Ia berkata kepada saya: “Berhati-hatilah untuk tidak memvirtualisasikan Gereja, memvirtualisasikan Sakramen, untuk memvirtualisasikan Umat Allah. Gereja, Sakramen-sakramen, Umat Allah itu nyata. Memang benar bahwa pada saat ini kita harus memiliki keakraban dengan Tuhan dengan cara ini, tetapi kita harus keluar dari terowongan, tidak tinggal di sana. Dan inilah keakraban para Rasul: bukan gnostik, bukan divirtualisasi, tidak egois untuk diri mereka masing-masing, tetapi keakraban yang nyata dalam umat – keakraban dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, keakraban dengan Tuhan dalam Sakramen-sakramen, di tengah-tengah Umat Allah. Mereka melaksanakan jalan kedewasaan dalam keakraban dengan Tuhan : marilah kita juga belajar untuk melaksanakannya. Mereka mengerti sejak saat pertama bahwa keakraban ini berbeda dari keakraban yang mereka bayangkan, dan mereka sampai pada hal ini. Mereka tahu itu Tuhan, mereka mengikutsertakan segalanya: komunitas, Sakramen-sakramen, Tuhan, kedamaian dan perayaan.

Semoga Tuhan mengajarkan kita keintiman dengan-Nya ini, keakraban dengan-Nya ini tetapi dalam Gereja, dengan Sakramen-sakramen, dengan umat Allah yang kudus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s