Berani utuk Keterbukaan

Homili Paus Fransiskus pada Misa di Casa Santa Marta 18 April 2020

“Kemarin, saya menerima surat dari seorang saudari yang bekerja sebagai penerjemah bahasa isyarat untuk para tunarungu”, kata Paus Fransiskus mengawali Misa harian Sabtu pagi, 18 April 2020 di Kapel Casa Santa Marta, Vatikan.

Beliau melanjutkan dan mengatakan bahwa ia telah memahami betapa sulitnya bagi penyedia layanan kesehatan untuk merawat para penyandang cacat. “Jadi marilah kita mendoakan mereka yang selalu melayani para penyandang cacat ini”.

Dalam homilinya, Paus Fransiskus berfokus pada keberanian para Rasul dalam memberitakan Injil setelah Pentakosta. Beliau mengacu pada Bacaan pertama hari ini (Kis. 4:13-21) yang menceritakan para imam kepala, para tua-tua dan para ahli Taurat heran melihat “keberanian” Petrus dan Yohanes.

Keberanian

Petrus dan Yohanes – dua “orang yang tidak berpendidikan” – menyudutkan para imam kepala, para ahli Taurat dan para tua-tua karena keberanian mereka. Para pemimpin agama sangat heran sehingga mereka tidak bisa menanggapi fakta di depan mata mereka. Seseorang telah disembuhkan ketika Petrus dan Yohanes memanggil nama Tuhan.

Paus Fransiskus memberi perhatian pada pentingnya kata Yunani, parrhesia. Parrhesia sering diterjemahkan sebagai keberanian, keterusterangan, atau keteguhan hati. Parrhesia menjadi “gaya para pewarta Kristiani dalam Kisah Para Rasul”, kata Paus Fransiskus.

“Keberanian Kristiani itulah yang mendorong seseorang untuk berbicara secara terbuka … Misalnya, dalam Kisah Para Rasul, dikatakan bahwa Paulus dan Barnabas berusaha untuk menjelaskan misteri Kristus kepada orang-orang Ibrani dengan berani dan memberitakan Injil dengan berani”.

Jangan Buang Kepercayaan Dirimu

Parrhesia adalah ciri khas umat Kristiani, kata Paus Fransiskus, sehingga jika orang Kristiani tidak memilikinya, “kamu bukan orang Kristiani yang baik”. Kemudian beliau mengutip perikop dari surat kepada orang-orang Ibrani, yang dikatakan Paus Fransiskus “sangat disukai”-nya. Penulis menjadi sadar bahwa jemaat Kristiani telah mulai kehilangan keberanian asli mereka. Mereka menjadi suam-suam kuku. “Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat … Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu” (Ibr 10:32,35).

Namun, keberanian itu bertemu dengan hati para imam kepala, para ahli Taurat, dan para tua-tua yang mengeras, tertutup, jahat.

“Mereka tidak tahu harus berbuat apa …. Mereka tetap heran … Ketimbang menerima kebenaran yang mereka lihat di hadapan mereka, hati mereka begitu tertutup sehingga mereka memilih jalan diplomasi, jalan kompromi. Mereka benar-benar telah disudutkan karena keberanian Petrus dan Yohanes. Mereka tidak tahu bagaimana keluar dari situasi itu. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk mengatakan: ‘Mungkinkah ini benar?’.”

Apa yang Mengubah Petrus yang Pengecut?

Jalan keluar mereka adalah mengancam Petrus dan Yohanes, dan memerintahkan mereka untuk jangan pernah berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tanggapan para rasul sangat berani mengingat fakta bahwa dengan pengecut Petrus baru saja menyangkal Yesus. “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah : taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (ayat 19). “Apa yang terjadi pada hati orang ini?”, tanya Paus Fransiskus.

“Karunia Roh Kudus: keterusterangan, keberanian, parrhesia, adalah karunia, rahmat yang diberikan Roh Kudus kepadanya pada hari Pentakosta. Segera setelah menerima Roh Kudus, mereka pergi untuk berkhotbah dengan berani, sesuatu yang baru bagi mereka”.

Tanda Seorang Kristiani

Tuhan mencela para murid-Nya dalam Bacaan Injil (Mrk 16:9-15) justru karena “ketidakpercayaan dan kedegilan hati” mereka, lanjut Paus Fransiskus. Mereka menolak untuk percaya bahwa Ia telah bangkit berdasarkan perkataan orang-orang yang telah melihat-Nya. Mereka menerima keberanian yang diperlukan untuk “pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan kabar baik kepada segala makhluk” ketika Yesus memberikan kepada mereka “kekuatan Roh Kudus”, dengan mengatakan kepada mereka “Terimalah Roh Kudus”.

“Misi perutusan dimulai di sini, dari karunia ini yang membuat kita berani, berani dalam mewartakan Sabda.”

Doa Paus Fransiskus

Paus Fransiskus mengakhiri homilinya dengan berdoa. “Semoga Tuhan membantu kita untuk selalu seperti itu: berani. Ini tidak berarti ceroboh – tidak, tidak. Berani. Keberanian orang Kristiani selalu berhati-hati, tetapi berani”.

 

(Sr Bernadette Mary Reis, fsp – Vatican News)
Terj. BN-KKI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s