Menyatakan Dosa seperti Anak Kecil

Paus Fransiskus mempersembahkan Misa Rabu pagi di Casa Santa Marta untuk persatuan di benua Eropa, dan merenungkan homilinya tentang rahmat kerukunan.


Pada awal Misa harian Rabu pagi, 29 April 2020, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan, yang bertepatan dengan peringatan wajib Santa Katarina dari Siena, pelindung Eropa, Paus Fransiskus berdoa untuk benua Eropa.

“Marilah kita mendoakan Eropa, kesatuan Eropa, kesatuan Uni Eropa, agar semua orang bersama-sama dapat berkembang sebagai saudara dan saudari.”

Panggilan untuk Kekonkretan

Dalam homilinya, Paus Fransiskus berfokus pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (1Yoh. 1:5-2:2) berisi kontras antara terang dan gelap, dusta dan kebenaran, serta dosa dan kesucian. Namun, sebagai umat Kristiani, kita dipanggil kepada kenyataan, karena kita tidak bisa bersatu dengan Yesus dan berjalan dalam kegelapan. Kita tidak bisa berada di wilayah abu-abu di antara keduanya.

Bahaya dalam wilayah abu-abu, Paus Fransiskus menjelaskan, yaitu “wilayah abu-abu membuat kamu berpikir bahwa kamu berjalan dalam terang karena kamu tidak berada dalam kegelapan, dan hal ini menenangkan dirimu”. Wilayah abu-abu, dalam arti ini, “berbahaya”.

Kita Semua Berdosa

Mengutip Bacaan Pertama, Paus Fransiskus mengatakan: “Jika kita berkata, bahwa ‘kita tidak berdosa’, maka kita menipu diri kita sendiri”.

Namun, Paus Fransiskus mencatat bahwa kita cenderung mengakui bahwa kita adalah orang-orang berdosa seolah-olah itu adalah kebenaran sosial. Tetapi, beliau mengatakan, kita tidak mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya ketika pengakuan dosa kita. Kebenaran selalu nyata sebagai lawan dari dusta yang seperti udara. Bersikap nyata berarti mengatakan “aku melakukan ini” atau, “aku berpikir dengan cara ini”, dan tidak berusaha melapisi kata-kata kita selama pengakuan dosa.

Jadilah Seperti Anak Kecil

Bapa Suci mengatakan bahwa anak-anak kecil memiliki karunia menyatakan. Karena alasan inilah Yesus bersyukur kepada Bapa karena “semuanya itu disembunyikan dari orang bijak dan orang pandai, tetapi dinyatakan kepada orang kecil”.

Selama pengakuan dosa, Paus Fransiskus menjelaskan, kesederhanaan anak-anak membuat mereka mengatakan hal-hal apa adanya. Beliau kemudian memberikan contoh tentang seorang anak yang mengaku secara terperinci bagaimana ia bersikap kasar kepada bibinya yang menolak permintaannya untuk bermain dan bukannya mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Paus Fransiskus memberi contoh lain tentang surat yang diterimanya pada hari Selasa dari seorang anak bernama Andrea dari Caravaggio. Andrea menegur Paus karena meminta umat yang berkumpul dalam Misa untuk saling memberikan salam damai, meskipun ada kekhawatiran tentang penyebaran virus Corona.

Konkretitas membawa kerendahan hati

“Kenyataan membawa kita kepada kerendahan hati karena kerendahan hati itu nyata”, kata Paus Fransiskus.

Mengatakan bahwa kita semua adalah orang-orang berdosa adalah hal yang abstrak. Ketika kita mengakui bahwa kita adalah orang-orang berdosa, kita seharusnya dapat memberikan alasan untuk pengakuan itu. Dengan cara itu, kita merasakan kenyataan dosa kita dan kita datang kepada Yesus untuk pengampunan. Inilah sikap sejati seorang pendosa.

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa kehidupan rohani tidaklah rumit, tetapi kita menjadikannya rumit karena berbagai kekelabuan kita. Beliau mencatat bahwa Iblis ingin kita menjadi suam-suam kuku dan hidup di wilayah abu-abu yang “bukan baik ataupun buruk, putih ataupun hitam”.

Oleh karena itu kita perlu kenyataan agar tidak menjadi para pendusta. Sama seperti Petrus setelah mukjizat penangkapan ikan, kenyataan seharusnya menggerakkan kita untuk mengenali dosa kita dan berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa!”.

Mengakhiri homilinya, Paus Fransiskus berdoa agar kita menerima rahmat untuk mengetahui siapa kita di hadapan Allah. “Marilah kita memohonkan kepada Tuhan rahmat kesederhanaan agar Ia sudi memberikan kita rahmat yang Ia berikan kepada orang-orang yang sederhana dan kepada anak-anak yang mengatakan apa yang mereka rasakan, bahkan ketika itu salah”.

 

Fr. Benedict Mayaki, SJ – Vatican News
Terj. BN-KKI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s