Kasih itu Membahagiakan

Renungan Harian Misioner
Jumat, 15 Mei 2020
Hari Biasa Pekan Paskah V
P. S. Pakomius
Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17

Dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 15:12-17), kita menemukan dua ayat yang berisi perintah Yesus untuk saling mengasihi: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (ay. 12); dan “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (ay. 17). Apa sesungguhnya kehendak dan kerinduan Yesus di balik perintah kasih itu? Yang pasti bahwa Yesus tidak sedang memperlihatkan kekuasaan-Nya atas para murid-Nya. Yang jelas bahwa Yesus tidak sedang menunjukkan posisi diri-Nya sebagai orang yang berkedudukan lebih tinggi dari para murid-Nya. Yesus menghendaki supaya para murid-Nya senantiasa mengalami kegembiraan dan sukacita dalam hidup dan perutusan mereka. Yesus, melalui ajaran-Nya, perbuatan-Nya dan hidup-Nya sendiri menunjukkan “jalan” menuju sumber sukacita dan kegembiraan sejati, yaitu jalan kasih. Yesus memberi perintah kepada para murid-Nya untuk saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi mereka (Yoh. 15:12).

Yesus menjadikan kasih itu sebagai inti pewartaan, karya dan hidup-Nya sendiri. Yesus menjadikan kasih sebagai hukum yang utama dan pertama. Mengapa? Karena “kasih berasal dari Allah” (1Yoh. 4:7) dan “Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:8). Ini berarti bahwa dalam Tuhan kita menemukan sumber cinta kasih dan kebaikan. Bila kita mengasihi, kita tidak terlepas dari Tuhan. Setiap orang yang tidak terlepas dari Tuhan dan tinggal dalam kasih-Nya akan mengalami sukacita dan kegembiraan. Kasih mendatangkan sukacita dan kegembiraan. Tidak ada kegembiraan yang begitu dalam seperti kegembiraan yang berasal dari memberi, tidak mementingkan diri sendiri, mencintai dan berbuat baik. Kesenangan yang dibeli dengan uang, segera memberikan rasa pahit. Kebahagiaan yang diraih dengan ambisi itu rapuh dan sementara. Bahkan kenikmatan yang kita rasakan dari keindahan alam, kesenian, kesusastraan, musik, sport, makanan, kesuksesan, ketenaran dan kesehatan yang baik masih lebih kecil daripada sukacita dan kegembiraan yang kita peroleh kalau kita membuat sesama kita bahagia.

Kita patut bergembira karena Yesus telah memilih dan menjadikan kita sebagai sahabat-sahabat-Nya (Yoh. 15:15-16). Kita layak bersukacita karena Allah, melalui Yesus, telah menjadikan kita sebagai orang-orang pilihan-Nya. Apa yang seharusnya kita lakukan supaya sukacita dan kegembiraan tetap menetap dalam hidup kita dan sekaligus dialami oleh sesama melalui kita? Nasihat Rasul Paulus ini hendaknya menjadi pegangan bagi kita: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belaskasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain, apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol. 3:12-14).

Nasihat Rasul Paulus ini akan mampu kita hayati jika kita terus-menerus berjuang untuk tinggal di dalam persahabatan dengan Yesus. Persahabatan dengan Yesus ini adalah sesuatu yang dalam, namun sederhana, seperti persahabatan yang lain; bukan pengalaman mistik yang hebat atau penampakan yang gegap gempita, melainkan hidup dari hari ke hari bersama Yesus, berjalan bersama Dia, mendengarkan Dia, mengikuti kehendak-Nya, dikenyangkan oleh sabda dan tubuh-Nya. Ketika kita berjalan, berjumpa, dan berbagi dengan orang lain; ketika kita mengerjakan pekerjaan dan berusaha menyelesaikan rencana-rencana kita; ketika kita hidup bersama dengan yang lain dalam keluarga, dalam komunitas, atau hidup sebagai teman dan sahabat; ketika kita menunjukkan sikap-sikap sederhana yang mencerminkan kasih, kebaikan hati, perhatian, dan pengampunan, khususnya terhadap mereka yang lemah dan membutuhkan, maka kita berada dalam Yesus dan menyatakan Yesus kepada orang lain. Itulah tindakan kasih yang membuat sesama kita bahagia dan sekaligus membahagiakan kita.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kesetiaan para diakon: Semoga para diakon, dengan kesetiaannya pada pelayanan Sabda Tuhan dan orang miskin, bisa menjadi simbol Gereja yang inspiratif dan menggugah semangat umat. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Maria Bunda Keteguhan Hati: Semoga di tengah kebingungan dan ketidakpastian, umat Katolik mau meneladan Bunda Maria sebagai Bunda Keteguhan Hati. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Bunda Maria menyertai kami, untuk dipersatukan dengan Sang Putera dalam mengupayakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s