Sukacita dalam Dukacita

Renungan Harian Misioner
Jumat, 22 Mei 2020
Hari Biasa Pekan Paskah VI
P. S. Rita dr Cascia
Kis. 18:9-18; Mzm. 47:2-3,4-5,6-7; Yoh. 16:20-23a

16:20: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.”

16:21: “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.”

16:22: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.”

16:23: “Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku.”

Dalam amanat perpisahan dengan para murid-Nya, Yesus memberi tahu terlebih dahulu bahwa mereka akan mengalami dukacita. Beberapa hal yang menjadi alasan adalah sebagai berikut:

Pertama, mereka akan kehilangan sebuah figur yang sudah dekat, tidak hanya secara emosional tetapi juga spiritual. Kedekatan yang sudah sedemikian dalam tentu akan meninggalkan “rongga” di dalam dada para murid. Bagi yang telah mengalami ditinggalkan oleh orang tua, pasangan hidup, atau anak, tentu bisa merasakan sendiri apa arti sebuah kehilangan. Ada sesuatu yang “hilang” dalam hidup ini.

Kedua, sikap dunia yang anti Kristus, akan membuat para murid-Nya menangis dan meratap. Dunia yang pada waktu itu diwakili oleh kaum Farisi dan Ahli Taurat jutru akan bergembira. Bagi mereka, dengan kematian Yesus, maka para murid-Nya tidak akan lagi menjadi gangguan. Bisa jadi mereka berkata dalam hati: “Kita telah menyingkirkan pemimpin mereka, dan tidak ada lagi satu kelompok orang yang menentang kita. Kita aman.”

Ketiga, dukacita para murid menjadi semakin dalam karena apa yang mereka harapkan tidak menjadi kenyataan. Kekecewaan inilah yang di kemudian hari terbukti pada diri kedua murid yang berjalan pulang menuju Emaus, seperti terungkap dalam kata-kata ini: “Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (Luk. 24: 19-21).

Kematian Yesus di kayu salib benar-benar menjadi tragedi bagi mereka. Tiga hari lamanya mereka berduka. Tetapi dukacita berubah seketika menjadi sukacita tatkala Yesus bangkit dari alam maut. Kebangkitan mengubah segalanya. Salib bukan lagi tragedi melainkan kemenangan. Bagi Paulus, salib justru adalah “kemuliannya” (Gal. 6:14).

Wejangan Yesus kiranya menjadi kekuatan spiritual hidup ini, terlebih ketika kita mengalami berbagai macam pencobaan dan penderitaan di tengah pandemi yang berkepanjangan ini. Inilah saatnya kita membaca Kitab Suci yang selalu mengingatkan kita untuk percaya bahwa Dia tetap hadir dan menyertai perjalanan hidup umat-Nya.

Inilah saatnya kita memohon kasih karunia-Nya agar kita tetap kuat dalam bertahan. Paulus sangat yakin bahwa kekuatan yang berlimpah-limpah dalam dirinya bukan berasal dari manusia, melainkan dari Allah: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa (2 Kor. 4:8-9).

Hanya kasih karunia Allah yang dapat membuat kita tetap bersukacita saat ini. Bersukacita dalam penderitaan bukanlah sesuatu yang mustahil. Paulus menyaksikan sendiri bagaimana kasih karunia Allah itu telah diberikan kepada jemaat di Makedonia: “Mereka dicobai dengan berat dalam pelbagai macam penderitaan, tetapi sukacita mereka meluap” (2 Kor. 1:2).

Akhirnya marilah kita percaya akan firman ini, bahwa penderitaan yang kita alami tidaklah sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima.

(RP. Anton Rosari, SVD – Imam Keuskupan Bogor)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kesetiaan para diakon: Semoga para diakon, dengan kesetiaannya pada pelayanan Sabda Tuhan dan orang miskin, bisa menjadi simbol Gereja yang inspiratif dan menggugah semangat umat. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Maria Bunda Keteguhan Hati: Semoga di tengah kebingungan dan ketidakpastian, umat Katolik mau meneladan Bunda Maria sebagai Bunda Keteguhan Hati. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Bunda Maria menyertai kami, untuk dipersatukan dengan Sang Putera dalam mengupayakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s