Jadikanlah Hatiku Seperti Hati-MU

Renungan Harian Misioner
Jumat, 19 Juni 2020
HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
Ul. 7:6-11; Mzm. 103:1-2,3-4,6-7,8,10; 1Yoh. 4:7-16; Mat. 11:25-30

Saudara dan saudariku yang dikasihi Tuhan, hari ini bersama dengan seluruh Gereja kita merayakan Hati Yesus yang Mahakudus. Kita semua dipanggil untuk memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati seperti hati-Nya. Bacaan Injil hari ini memiliki kenangan tersendiri dalam hidup saya secara khusus pada ayat: “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah pada-KU, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka Hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku” (Mat. 11:28-30). Tidak ada seorang pun dari kita yang benar-benar bisa lepas dari beban hidup. Sejak bangun pagi dan mulai beraktivitas, beban pekerjaan mulai muncul, beban dari tagihan listrik yang mungkin tiba-tiba naik, hubungan dengan rekan kerja di kantor, keluarga yang sedang sakit, gagalnya suatu proyek yang sudah dirancang sedemikian rupa. Bahkan di saat ini setiap kali hendak keluar dari rumah harus menggunakan masker pelindung diri dan menjaga jarak bisa jadi juga menjadi suatu beban. Namun setiap orang dapat menjalani dan menerima beban dengan cara berbeda. Ada yang pasrah, masa bodoh dan ada pula yang tetap bersukacita.

Saya ingat betul bagaimana tahun 2007-2008 ketika saya mulai menyusun skripsi sebagai tugas akhir Strata Satu di Fakultas Teologi Wedhabakti Kentungan-Yogyakarta. Terasa bagaimana beratnya karena berganti-ganti judul, melakukan penelitian dan wawancara via telepon kepada para buruh di pabrik-pabrik, pembimbing yang sulit ditemui, kegiatan pastoral yang menumpuk dan belum lagi masalah keluarga: Ibu saya terkena serangan stroke ringan, dan belum bisa saya jenguk saat itu. Sungguh beban waktu itu terasa semakin berat. Saya hampir tidak dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. Ada perasaaan mau menyerah, lalu tanpa sengaja saya membaca perikop di atas dan perlahan saya bangkit, mengakomodir beban-beban hidup satu demi satu lewat doa yang terus menguatkan. Luar biasanya, saya akhirnya bisa menjalani dan menyelesaikan semuanya, bahkan di dalam karya tulis tersebut, saya mengambil perikop di atas dan menulisnya di halaman motto hidup.

Saudara dan saudariku, setiap dari kita tentu memiliki kuk berbeda. Kuk dalam tradisi Perjanjian Lama dan yang dapat kita temukan saat ini juga, merupakan alat yang terbuat dari kayu besar yang dipasang pada pundak leher hewan untuk menarik mata bajak, penggirik atau bahkan kereta pedati yang sangat berat. Dalam konteks ini Yesus mau mengarahkan pendengar-Nya untuk menghidupi ajaran Taurat yang berat dan mengikat agar dijalani tidak secara buta saja. Ketika beban semakin berat, Yesus bersedia menerima kita dan ikut bersama-sama meringankan beban hidup kita. Kata “datanglah” atau “marilah” bagi saya pribadi adalah ajakan penuh kelembutan kepada setiap yang percaya kepada-Nya bahwa Yesus akan menerimamu kapan saja bahkan berada di sisimu untuk membantu meringankan beban hidupmu. Yesus melanjutkan dengan ajakan untuk “memikul” kuk yang dipasang-Nya kepada setiap murid-Nya dan belajar menghidupinya dengan kelemahlembutan serta kerendahan hati. Yesus berkata, “Belajarlah dari pada-Ku” agar kita sungguh belajar dan melihat bagaimana Yesus sendiri memikul kuk yakni beban-beban dosa kita di kayu salib, namun tetap memiliki hati yang lemah lembut yakni mendoakan mereka yang menyiksanya, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Untuk bagian yang terakhir ini saya ingin memperdalam refleksi kita bersama apakah ada hubungan antara beban dengan tetap lemah lembut dan rendah hati. Pernahkah kita merasa lapar lalu mudah marah? Atau sedang sakit gigi lalu mudah tersinggung? Atau marah-marah tidak jelas di tempat kerja, yang sebenarnya terjadi karena kita membawa masalah dari rumah? Semua itu dikarenakan beban hidup yang tidak diolah dengan baik justru membuat kita menjadi pribadi yang semakin jauh dari Tuhan. Kita mudah marah ketika kita dihimpit oleh beban hidup. Kita mudah mencari pelampiasan lari dari beban hidup itu dengan mencari kesenangan duniawi. Atau kita berkeinginan untuk segera keluar dari beban hidup misalnya beban keuangan dengan cara merampas, menipu, mencuri dan korupsi.

Saudara dan saudariku, itulah sebabnya Yesus terus mengingatkan kita agar ketika kita memiliki beban hidup yang begitu berat, datanglah kepada-Nya dan belajarlah terus daripada-Nya. Agar kita terus terarah di jalan-Nya meski beban hidup sangat berat karena Yesus pun mau berada di samping kita memikul kuk beban hidup kita. Marilah kita senantiasa berdoa kepada-Nya di kala beban semakin berat, “Yesus yang lemah lembut dan rendah hati jadikanlah hatiku seperti hati-Mu”. Amin.

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

One thought on “Jadikanlah Hatiku Seperti Hati-MU

  1. Renungan yg sangat luar biasa n sangat menyentuh hatiku romo,,, hati yesus yg maha dahsyat dlm pergumulan hidup saya,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s