REFLEKSI-REFLEKSI DINI TENTANG KELAHIRAN KEMBALI KEHIDUPAN

AKADEMI KEPAUSAN UNTUK KEHIDUPAN

HUMANA COMMUNITAS DI MASA PANDEMI:

REFLEKSI-REFLEKSI DINI 

TENTANG KELAHIRAN KEMBALI KEHIDUPAN

(Humana Communitas in the Age of Pandemic: untimely meditations on Life’s Rebirth)


 

Covid-19 telah membawa kepedihan bagi dunia. Kita telah menjalaninya untuk begitu lama, sekarang, dan itu belum berakhir juga. Mungkin belum berakhir untuk waktu yang lama. Apa yang membuatnya demikian? Tentu saja, kita dipanggil untuk berani melawan. Pencarian vaksin dan penjelasan ilmiah menyeluruh tentang apa yang memicu bencana membuktikan hal itu. Apakah kita dipanggil kepada kesadaran lebih dalam juga? Jikalau demikian, bagaimana waktu jeda kita akan mencegah kita jatuh ke dalam inersia kepuasan (sikap tidak aktif karena puas diri), atau lebih buruk lagi, kepada tindakan diam-diam untuk menyerah? Apakah ada “langkah mundur” yang bijaksana, yang bukan berarti tidak berbuat apa-apa, sebuah pemikiran yang mungkin berubah menjadi rasa terima kasih atas kehidupan yang diberikan, sehingga menjadi jalan menuju kelahiran kembali kehidupan?

Covid-19 adalah nama krisis global (pan-demi) dengan berbagai aspek dan perwujudan, namun tentunya menjadi kenyataan umum. Kita telah menyadari, tidak seperti sebelumnya, bahwa keadaan berbahaya yang aneh ini, yang telah lama diprediksi, namun tidak pernah diatasi secara serius, telah menyatukan kita semua. Seperti begitu banyak proses di dunia zaman kita sekarang ini, Covid-19 adalah wujud terbaru globalisasi. Dari perspektif empiris murni, globalisasi telah memberikan banyak manfaat bagi umat manusia: globalisasi telah menyebarluaskan penge-tahuan ilmiah, banyak teknologi kedokteran, dan praktik kesehatan, semua ini berpotensi disediakan bagi kebaikan semua orang. Pada saat yang sama, dengan Covid-19, kita menemukan diri kita terhubung secara berbeda, berbagi dalam pengalaman kejadian (cum-tangere) yang sama: dengan tidak mengecualikan siapa pun, pandemi ini telah membuat kita semua sama-sama rentan, semua sama-sama terpapar (bdk. Akademi Kepausan untuk Hidup, Pandemi Global dan Persaudaraan Universal, 30 Maret 2020).

Kesadaran seperti itu telah datang dengan biaya tinggi. Pelajaran apa yang telah kita peroleh? Terlebih lagi, perubahan pemikiran dan tindakan apa yang siap kita lakukan dalam tanggung jawab bersama kita terhadap keluarga manusia (Fransiskus, Humana Communitas, 6 Januari 2019)?

Realitas Keras atas Pembelajaran yang diperoleh

Pandemi telah memberi kita pemandangan jalan-jalan kosong dan kota-kota seperti hantu, kedekatan manusia yang terluka, jaga jarak fisik. Ini telah merenggut dari kita kegembiraan pelukan, kebaikan jabat tangan, kehangatan ciuman, dan mengubah relasi menjadi interaksi yang menakutkan di antara orang-orang asing, pertukaran netral individualitas tanpa wajah yang tertutup dalam anonimitas alat-alat pelindung. Pembatasan-pembatasan kontak sosial sungguh menakutkan; pembatasan itu dapat menyebabkan situasi keterasingan, keputusasaan, ke-marahan, dan pelecehan. Bagi orang-orang lanjut usia yang berada di tahap akhir kehidupan, penderitaan mereka bahkan lebih parah, karena kesulitan fisik di-tambah dengan menurunnya kualitas hidup dan kurang-nya kunjungan keluarga serta para sahabat.

1.1. Hidup yang Diambil, Hidup yang Dianugerahkan: Pelajaran tentang Kerapuhan

Metafora-metafora yang umum, yang menyusupi bahasa sehari-hari kita, menekankan permusuhan dan cita rasa buruk yang meresap: dorongan-dorongan yang diulang-ulang untuk “melawan” virus, siaran pers yang terdengar seperti “buletin perang,” pembaruan data harian tentang jumlah yang terinfeksi, segera berubah menjadi “para korban yang jatuh.”

Dalam penderitaan dan kematian dari begitu banyak orang, kita telah memperoleh pelajaran tentang ke-rapuhan. Di banyak negara, rumah sakit-rumah sakit masih berjuang dengan tuntutan-tuntutan yang sangat banyak, sembari menghadapi penderitaan atas penjatahan sumber daya dan kelelahan para tenaga perawatan kesehatan. Kesengsaraan luar biasa yang tak terkatakan, dan perjuangan demi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, telah menunjukkan bukti kondisi para tahanan, mereka yang hidup dalam kemelaratan di pinggiran masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, dan orang-orang yang ditinggalkan yang ditakdirkan untuk dilupakan di kamp-kamp pengungsi dari neraka.

Kita telah menjadi saksi wajah kematian yang paling tragis: beberapa mengalami kesepian keterpisahan baik secara fisik maupun rohani dari semua orang, membuat keluarga mereka tidak berdaya, tidak bisa mengucapkan selamat tinggal, bahkan untuk memberikan upacara penghormatan dasar untuk pemakaman yang layak. Kita telah melihat kehidupan yang sampai pada batas akhirnya, tanpa memperhitungkan usia, status sosial, atau kondisi kesehatan.

Tetapi “rapuh” adalah diri kita semua: secara radikal ditandai oleh pengalaman keterbatasan dalam inti kebe-radaan kita, bukan hanya sesekali di sana, yang me-ngunjungi kita dengan sentuhan lembut kehadiran sepintas lalu, yang membuat kita tidak terpengaruh dengan keyakinan bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan rencana. Kita muncul dari sebuah malam asal-usul misterius: dipanggil untuk meng-ada yang melampaui pilihan, kita segera sampai pada praduga dan keluhan, dengan menyatakan sebagai milik kita apa yang hanya telah dianugerahkan pada kita. Sungguh terlambat kita belajar memberi persetujuan kepada kegelapan dari mana kita datang, dan ke mana akhirnya kita kembali.

Beberapa orang mengatakan ini semua adalah kisah absurditas, karena semuanya tidak ada artinya. Tetapi bagaimana mungkin ketiada-berartian ini menjadi kata terakhir? Jika demikian, mengapa harus ada pertempuran? Mengapa kita harus saling memberi dorongan untuk berharap akan hari-hari yang lebih baik, ketika semua yang sedang kita alami dalam pandemi ini akan berakhir juga?

Hidup datang dan pergi, kata penjaga kehati-hatian yang sinis. Namun pasang dan surutnya kehidupan, yang sekarang menjadi semakin jelas oleh kerapuhan kondisi manusiawi kita, dapat membuka kita pada suatu ke-bijaksanaan yang berbeda, suatu kesadaran yang berbeda (bdk. Mzm 8). Karena bukti menyedihkan dari kerapuhan hidup juga dapat memperbarui kesadaran kita akan kodratnya yang diberikan. Kembali kepada hidup, setelah menikmati buah ambivalen dari kemungkinannya, akan-kah kita tidak menjadi lebih bijaksana? Akankah kita tidak menjadi lebih bersyukur, kurang sombong?

1.2. Impian Mustahil tentang Otonomi dan Pelajaran Keterbatasan

Dengan pandemi ini, klaim kita atas penentuan nasib sendiri dan kontrol otonom telah sampai pada perhentian yang tenang, saat krisis yang memunculkan diskresi lebih dalam. Itu harus terjadi, cepat atau lambat, karena keada-an yang menyihir ini telah berlangsung cukup lama.

Epidemi Covid-19 banyak terkait dengan perusakan bumi kita dan penghancuran nilai intrinsiknya. Ini adalah gejala sakitnya bumi kita dan kegagalan kita untuk peduli; lebih dari itu, suatu tanda kelesuan rohani kita sendiri (Laudato Si’, n. 119). Akankah kita dapat menyembuhkan perpecah-an yang telah memisahkan kita dari dunia alami kita, karena terlalu sering mengubah subjektivitas tegas kita menjadi ancaman bagi ciptaan, ancaman bagi satu sama lain?

Pikirkanlah rantai keterhubungan yang menghubungkan fenomena berikut: meningkatnya deforestasi mendorong hewan-hewan liar mendekati habitat manusia. Virus yang berinang pada hewan-hewan, kemudian, ditularkan kepada manusia, sehingga memperburuk realitas zoonosis (penyakit atau infeksi yang ditularkan kepada manusia oleh hewan), sebuah fenomena yang dikenal oleh para ilmuwan sebagai wahana banyak penyakit. Permintaan daging yang berlebihan di negara-negara dunia pertama meningkatkan kompleksitas industri yang luar biasa dalam peternakan dan eksploitasi hewan. Sangat mudah untuk melihat bagaimana interaksi ini pada akhirnya dapat menyebabkan penyebaran virus melalui transpor-tasi internasional, mobilitas massa orang-orang, per-jalanan bisnis, pariwisata, dan lain-lain.

Fenomena Covid-19 bukan hanya akibat kejadian alam. Apa yang terjadi di alam sudah merupakan hasil per-antaraan kompleks dengan dunia manusia atas pilihan-pilihan ekonomis dan model-model pembangunan, sehingga mereka sendiri “terinfeksi” oleh “virus” yang berbeda dari ciptaan kita sendiri: itu adalah akibat, lebih dari penyebab, keserakahan finansial, pemanjaan diri pada gaya hidup yang ditentukan oleh kesenangan dan kelebihan konsumsi. Kita telah membangun bagi diri kita sendiri suatu etos pengingkaran dan pengabaian atas apa yang diberikan kepada kita dalam janji dasar penciptaan. Inilah mengapa kita dipanggil untuk mempertimbangkan kembali hubungan kita dengan habitat alam. Mengakui bahwa kita tinggal di bumi ini sebagai pelayan, bukan sebagai para penguasa dan para tuan.

Kita telah diberikan segalanya, tetapi milik kita hanyalah kedaulatan yang dianugerahkan, bukan absolut. Meng-ingat asal-usulnya, kedaulatan itu membawa beban keterbatasan dan tanda kerapuhan. Kondisi kita adalah kebebasan yang terluka. Kita mungkin menolaknya sebagai kutukan, sebuah situasi sementara yang harus segera diatasi. Atau kita bisa belajar tentang kesabaran yang berbeda: mampu menerima keterbatasan, membarui interaksi dengan tetangga dekat dan yang jauh.

Jika dibandingkan dengan keadaan sulit negara-negara miskin, terutama di wilayah yang disebut Belahan Bumi Selatan, kondisi dunia “maju” terlihat lebih seperti sebuah kemewahan: hanya di negara-negara kaya masyarakat mampu memenuhi persyaratan keselamatan. Di sisi lain dalam masyarakat yang tidak seberuntung itu, “jaga jarak fisik” hanyalah suatu ketidakmungkinan yang disebabkan oleh kebutuhan dan beban keadaan yang mengerikan: pengaturan yang padat dan kurangnya jarak yang terjangkau berhadapan dengan seluruh populasi sebagai fakta yang terlalu sulit diatasi. Kontras antara kedua situasi ini menyoroti sebuah paradoks yang menyakitkan, dengan sekali lagi menceritakan kisah ketimpangan kekayaan antara negara-negara miskin dan kaya.

Mempelajari keterbatasan dan menyetujui batas ke-bebasan kita sendiri lebih dari sekadar latihan sederhana dalam realisme filosofis. Hal ini memerlukan untuk membuka mata kita pada realitas manusia yang meng-alami keterbatasan seperti itu dalam tubuh mereka sendiri, sehingga dapat dikatakan: dalam tantangan sehari-hari untuk bertahan hidup, untuk memperoleh kondisi minimal nafkah penghidupan, memberi makan anak-anak dan para anggota keluarga, untuk mengatasi ancaman penyakit meskipun ketersediaan obat-obatan terlalu mahal untuk dibeli. Pertimbangkanlah hilangnya banyak nyawa di Belahan Bumi Selatan: malaria, tuberkulosis, kekurangan air minum dan sumber-sumber daya men-dasar masih menaburkan kehancuran jutaan jiwa per tahun, sebuah situasi yang telah dikenali selama beberapa puluh tahun. Semua kesulitan ini dapat diatasi dengan melakukan berbagai upaya dan kebijakan internasional. Berapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan, berapa banyak penyakit yang bisa diberantas, berapa banyak penderitaan yang bisa dihindari!

1.3 Tantangan saling ketergantungan dan pelajaran tentang kerentanan bersama

Pretensi-pretensi kita pada kesendirian tunggal memiliki dasar yang lemah kelemahan. Dengan kepura-puraan, hancurlah harapan-harapan palsu pada suatu filsafat sosial terpisah-pisah yang dibangun di atas kecurigaan egoistik terhadap apa yang berbeda dan baru, sebuah etika rasionalitas kalkulatif yang tunduk ke arah gambaran pemenuhan diri yang terdistorsi, tahan ter-hadap tanggung jawab kebaikan bersama pada skala global, dan bukan hanya skala nasional.

Saling keterhubungan kita adalah soal fakta. Hal ini membuat kita semua kuat atau, sebaliknya, rentan, tergantung pada sikap kita sendiri terhadapnya. Untuk memulai, perlulah mempertimbangkan relevansinya di tingkat nasional. Sementara Covid-19 dapat mempe-ngaruhi semua orang, itu terutama berbahaya untuk populasi tertentu, seperti orang tua, atau orang-orang dengan penyakit bawaan dan sistem kekebalan tubuh yang terganggu. Langkah-langkah kebijakan diambil sama untuk semua warga negara. Kebijakan ini meminta solidaritas orang-orang muda yang sehat dengan mereka yang paling rentan. Kebijakan ini juga meminta pengorbanan dari banyak orang yang bergantung pada interaksi publik dan kegiatan ekonomi untuk penghidupan mereka. Di negara-negara yang lebih kaya, pengorbanan ini dapat diimbangi sementara, tetapi di sebagian besar negara kebijakan protektif semacam itu sungguh tidak mungkin dilakukan.

Tentu saja, di semua negara kebaikan bersama dari kesehatan masyarakat perlu diseimbangkan dengan kepentingan ekonomi. Selama tahap-tahap awal pandemi, sebagian besar negara berfokus pada penyelamatan jiwa secara maksimal. Rumah sakit dan khususnya layanan perawatan intensif, tidak memadai, dan hanya diperluas setelah melalui perjuangan besar. Luar biasa, layanan perawatan bisa bertahan karena pengorbanan yang me-ngesankan dari para dokter, perawat, dan tenaga profesional perawatan lainnya, lebih daripada investasi teknologi. Namun, fokus pada perawatan rumah sakit mengalihkan perhatian dari lembaga perawatan lain. Rumah jompo, misalnya, sangat terpengaruh oleh pandemi ini, dan peralatan pelindung serta pengujian yang memadai hanya tersedia di tahap akhir. Diskusi etis tentang alokasi sumber daya terutama didasarkan pada pertimbangan praktis, tanpa memperhatikan orang yang mengalami risiko lebih tinggi dan kerentanan yang lebih besar. Di sebagian besar negara, peran para dokter umum diabaikan, sementara bagi banyak orang mereka adalah kontak pertama dalam sistem perawatan. Hasilnya adalah peningkatan kematian dan disabilitas dari penyebab selain Covid-19.

Kerentanan umum juga menyerukan kerja sama inter-nasional, dan kesadaran bahwa pandemi tidak dapat diperangi tanpa infrastruktur kesehatan yang memadai, yang dapat diakses oleh semua orang di tingkat global. Penderitaan suatu bangsa yang tiba-tiba terinfeksi juga tidak dapat ditangani secara terpisah, tanpa membentuk perjanjian internasional, dan dengan banyak pemangku kepentingan yang berbeda. Berbagi informasi, penyediaan bantuan, alokasi sumber daya yang langka, semuanya harus ditangani dalam sinergi segala upaya. Kekuatan rantai internasional diberikan oleh mata rantai terlemah.

Pelajaran itu menunggu penyatuan yang lebih dalam. Tentu saja, benih harapan telah ditaburkan dalam kekaburan sikap-sikap kecil, dalam berbagai tindakan solidaritas yang terlalu banyak untuk dihitung, terlalu berharga untuk disiarkan. Masyarakat telah berjuang secara terhormat, terlepas dari segalanya, kadang-kadang dengan melawan kebodohan kepemimpinan politik mereka, untuk menyatakan protocol-protokol etika, membentuk sistem-sistem normatif, dengan membayang-kan ulang kehidupan berdasarkan cita-cita solidaritas dan perhatian timbal balik. Penghargaan penuh untuk contoh-contoh ini menunjukkan pemahaman terdalam tentang makna hidup yang autentik dan cara pemenuhan diri yang diinginkan.

Namun, kami belum memberikan perhatian cukup, terutama di tingkat global, terhadap saling ketergantung-an manusiawi dan kerentanan bersama. Meskipun virus tidak mengenal batas-batas, negara-negara telah menutup perbatasan-perbatasan mereka. Berbeda dengan bencana lainnya, pandemi ini tidak berdampak pada semua negara secara bersamaan. Meskipun ini mungkin memberi kesempatan untuk belajar dari pengalaman dan kebijakan negara lain, proses pembelajaran di tingkat global sangat-lah minim. Pada kenyataannya, beberapa negara kadang-kadang telah terlibat dalam permainan sinis untuk saling menyalahkan.

Kurangnya saling keterhubungan yang sama dapat diamati dalam upaya-upaya mengembangkan pengobatan dan vaksin. Tiadanya koordinasi dan kerja sama sekarang semakin diakui sebagai hambatan untuk mengatasi Covid-19. Kesadaran bahwa kita berada dalam bencana ini bersama-sama, dan bahwa kita hanya dapat mengatasinya melalui upaya kerja sama dari komunitas manusia secara keseluruhan, menggerakkan usaha-usaha bersama. Pernyataan atas proyek-proyek ilmiah lintas batas adalah upaya yang sedang menuju ke arah itu. Ini juga harus ditunjukkan dalam kebijakan-kebijakan, melalui pe-nguatan kelembagaan internasional. Hal ini sangat penting karena pandemi ini sedang meningkatkan ketimpangan dan ketidakadilan yang sudah ada, dan banyak negara yang kekurangan sumber-sumber daya dan fasilitas untuk mengatasi Covid-19 secara memadai bergantung pada bantuan komunitas internasional.

Menuju sebuah Visi Baru: Kelahiran Kembali Kehidupan dan Panggilan kepada Pertobatan

Pelajaran tentang kerapuhan, keterbatasan, dan ke-rentanan membawa kita ke ambang visi baru: ketiga hal itu menumbuhkan etos kehidupan yang menuntut keterlibatan kecerdasan dan keberanian untuk pertobatan moral. Mempelajari suatu pelajaran berarti menjadi rendah hati; itu berarti berubah, dengan mencari aneka sumber daya makna yang hingga kini belum termanfaat-kan, bahkan mungkin disangkal. Mempelajari suatu pelajaran berarti menjadi sadar, sekali lagi, tentang kebaikan hidup yang memberikan dirinya kepada kita, dengan melepaskan energi yang berjalan bahkan lebih dalam daripada pengalaman kehilangan yang tak terelakkan, yang perlu diperjelas dan dipadukan dalam makna keberadaan kita. Dapatkah peristiwa ini menjadi janji permulaan baru bagi humana communitas, janji kelahiran kembali kehidupan? Jika demikian, dalam kondisi apa?

2.1. Menuju Etika Risiko

Kita harus sampai, pertama, pada penghargaan baru atas realitas risiko eksistensial: kita semua mungkin menyerah pada luka-luka penyakit, pembunuhan dalam peperangan, maraknya ancaman-ancaman kebencanaan. Mengingat hal ini, muncul tanggung jawab etis dan politis yang sangat spesifik terhadap kerentanan individu-individu yang berisiko lebih besar terhadap kesehatan, kehidupan, martabat mereka. Covid-19 mungkin dilihat, pada pandangan pertama, hanya sebagai faktor penentu alamiah risiko global, tentu saja jika belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, pandemi memaksa kita untuk melihat sejumlah faktor tambahan, yang semuanya melibatkan beragam tantangan etis. Dalam konteks ini, keputusan yang diambil harus sebanding dengan risiko, sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Berfokus pada sumber penyebab alami pandemi, tanpa memedulikan ketimpangan ekonomi, sosial, dan politik di antara negara-negara di dunia, berarti kehilangan poin pokok tentang kondisi yang membuat penyebarannya lebih cepat dan lebih sulit diatasi. Suatu bencana, apa pun sumber asalnya, merupakan tantangan etis karena itu merupakan mala-petaka yang berdampak pada kehidupan manusia, dan membahayakan eksistensi manusia dalam berbagai dimensi.

Dalam ketiadaan vaksin, kita tidak dapat mengandalkan kemampuan untuk selama-lamanya mengalahkan virus yang menyebabkan pandemi, kecuali pada kelelahan spontan dari kekuatan patologis penyakit. Oleh karenanya, kekebalan terhadap Covid-19 tetap menjadi harapan di masa depan. Ini juga berarti mengakui bahwa untuk hidup dalam komunitas yang berisiko memerlukan etika yang setara dengan prospek bahwa keadaan sulit semacam itu sesungguhnya bisa menjadi kenyataan.

Pada saat yang sama, kita perlu menyempurnakan konsep solidaritas yang melampaui komitmen umum untuk membantu mereka yang menderita. Pandemi mendesak kita semua untuk menangani dan membentuk ulang dimensi-dimensi struktural komunitas global kita yang menindas dan tidak adil, yang oleh orang-orang dengan pemahaman iman disebut sebagai “struktur dosa.” Kebaikan bersama dari humana communitas tidak bisa diperoleh tanpa pertobatan sejati pikiran dan hati (Laudato si’, 217-221). Seruan kepada pertobatan dituju-kan kepada tanggung jawab kita: kepicikannya tidak dapat disangkal berasal dari keengganan kita untuk memandang kerentanan populasi terlemah di tingkat global, bukan pada ketidakmampuan kita untuk melihat apa yang sudah jelas nyata. Keterbukaan yang berbeda dapat memperluas wawasan imajinasi moral kita, sehingga pada akhirnya mencakup apa yang telah begitu saja dilewatkan dalam diam.

2.2. Seruan untuk Upaya-upaya Global dan Kerjasama Internasional

Bentuk dasar dari suatu etika risiko, yang didasarkan pada konsep solidaritas yang lebih luas, memerlukan definisi komunitas yang menolak setiap kepicikan, perbedaan palsu antara orang-orang dalam, yaitu mereka yang dapat menunjukkan klaim sepenuhnya sebagai bagian komuni-tas, dan orang-orang luar, yaitu mereka yang dapat berharap setidaknya kemungkinan untuk berpartisipasi di dalamnya. Sisi gelap pemisahan semacam itu harus ditekankan sebagai kemustahilan konseptual dan praktik diskriminatif. Tidak ada orang yang bisa dipandang hanya berdiri “menunggu” demi pengakuan status penuh, seolah-olah ada di pintu humana communitas. Akses ke perawat-an kesehatan yang berkualitas dan obat-obatan penting harus secara efektif diakui sebagai hak asasi manusia universal (bdk. Deklarasi Universal tentang Bioetika dan Hak-hak Asasi Manusia, pasal 14). Dua kesimpulan ini mengikuti secara logis sesudah premis tersebut.

Kesimpulan pertama berkaitan dengan akses universal kepada kesempatan-kesempatan pencegahan, diagnostik, dan pengobatan terbaik, yang melampaui pembatasannya hanya untuk segelintir orang. Distribusi vaksin, setelah tersedia di masa depan, merupakan suatu poin pokok dalam hal ini. Satu-satunya tujuan yang dapat diterima, yang konsisten dengan alokasi vaksin yang adil, adalah akses kepada semua tanpa kecuali.

Kesimpulan kedua menyentuh definisi penelitian ilmiah yang bertanggung jawab. Taruhannya di sini sangat tinggi dan permasalahannya cukup kompleks. Ada tiga hal yang patut diperhatikan. Pertama, sehubungan dengan integri-tas sains dan gagasan-gagasan yang mendorong kemajuan-nya: cita-cita objektivitas yang terkontrol, jika tidak sepenuhnya “terlepas”; dan cita-cita kebebasan investi-gasi, terutama kebebasan dari konflik kepentingan. Kedua, yang dipertaruhkan adalah hakikat pengetahuan ilmiah sebagai praktik sosial, yang didefinisikan dalam konteks demokratis, oleh aturan-aturan kesetaraan, kebebasan, dan keadilan. Secara khusus, kebebasan penyelidikan ilmiah tidak seharusnya memasukkan pengambilan ke-putusan kebijakan di bawah pengaruhnya. Pengambilan keputusan kebijakan dan ranah politik secara keseluruhan mempertahankan otonomi mereka dari campur tangan kekuatan ilmiah, terutama ketika kekuatan ilmiah ini berubah menjadi manipulasi opini publik. Akhirnya, apa yang menjadi pertanyaan di sini adalah sifat pengetahuan ilmiah yang pada dasarnya “terpercaya” dalam mengejar hasil-hasil yang bermanfaat secara sosial, terutama ketika pengetahuan diperoleh melalui eksperimen terhadap subjek manusia dan janji perawatan yang diuji dalam uji klinis. Kebaikan masyarakat dan tuntutan kebaikan bersama di bidang perawatan kesehatan muncul sebelum ada kepentingan tentang laba. Dan ini karena dimensi publik dari penelitian tidak bisa dikorbankan di atas altar keuntungan pribadi. Ketika kehidupan dan kesejahteraan suatu komunitas dipertaruhkan, laba harus dikesamping-kan.

Solidaritas juga mencakup upaya apa pun dalam kerja sama internasional. Dalam konteks ini, tempat istimewa menjadi milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Berakar mendalam pada misinya untuk memimpin karya kesehatan internasional adalah gagasan bahwa hanya komitmen pemerintah-pemerintah dalam sebuah sinergi global yang dapat melindungi, mengembangkan, dan mengefektifkan hak universal bagi standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai. Krisis ini menekankan betapa sangat dibutuhkannya suatu organisasi internasional dengan jangkauan global, termasuk secara khusus ke-butuhan dan kekhawatiran negara-negara yang kurang berkembang dalam menghadapi bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kepicikan demi kepentingan pribadi nasional telah me-nyebabkan banyak negara membenarkan bagi diri mereka sendiri kebijakan kemerdekaan dan isolasi dari seluruh dunia, seolah-olah pandemi dapat dihadapi tanpa strategi global yang terkoordinasi. Sikap seperti itu mungkin memberikan kata-kata kosong terhadap gagasan subsidia-ritas, dan pentingnya intervensi strategis berdasarkan desakan otoritas yang lebih rendah yang diutamakan daripada yang lebih tinggi, yang lebih jauh dari situasi lokal. Subsidiaritas harus menghormati ranah otonomi yang sah dari komunitas, dengan memberdayakan ke-mampuan dan tanggung jawab mereka. Pada kenyata-annya, sikap yang dimaksud menyuburkan logika pemisahan yang, pertama-tama, kurang efektif melawan Covid-19. Selain itu, kerugiannya tidak hanya de facto berpandangan dangkal; itu juga menyebabkan melebarnya ketimpangan dan memperburuk ketidakseimbangan sum-ber daya di antara berbagai negara. Meskipun semua, kaya dan miskin, rentan terhadap virus, negara-negara miskin pasti harus membayar harga tertinggi, dan menanggung konsekuensi-konsekuensi jangka panjang atas kurangnya kerja sama. Jelaslah bahwa pandemi ini memperburuk ketidaksetaraan yang sudah terkait dengan proses glo-balisasi, yang membuat lebih banyak orang rentan dan terpinggirkan tanpa perawatan kesehatan, pekerjaan, dan jaring pengaman sosial.

2.3. Penyeimbangan Etis yang Berpusat pada Prinsip Solidaritas

Pada akhirnya, makna solidaritas moral, dan bukan hanya strategis, adalah masalah nyata dalam kesulitan saat ini yang dihadapi oleh keluarga manusia. Solidaritas memikul tanggung jawab bagi orang lain yang membutuhkan. Solidaritas itu sendiri bertolak dari pengakuan bahwa, sebagai subjek manusia yang dianugerahi dengan mar-tabat, setiap pribadi merupakan suatu tujuan dalam diri-nya sendiri, bukan sebuah sarana. Pernyataan solidaritas sebagai prinsip etika sosial bertumpu pada realitas konkret dari kehadiran pribadi yang membutuhkan, yang memohon pengakuan. Maka, tanggapan yang dibutuhkan dari kita bukan hanya reaksi berdasarkan gagasan simpati sentimental; itu adalah satu-satunya tanggapan memadai terhadap martabat orang lain yang meminta perhatian kita, sebuah disposisi etis yang didasarkan pada pe-mahaman rasional tentang nilai intrinsik setiap manusia.

Sebagai suatu kewajiban, solidaritas tidak datang secara gratis, tanpa biaya dan kesiapan negara-negara kaya untuk membayar harga yang dibutuhkan oleh seruan demi kelangsungan hidup orang-orang miskin dan kelangsung-an seluruh planet ini. Hal ini berlaku baik secara sinkronik, berkenaan dengan berbagai sektor ekonomi, maupun secara diakronik, yaitu, terkait dengan tanggung jawab kita atas kesejahteraan generasi masa depan dan per-hitungan sumber-sumber daya yang tersedia.

Setiap orang dipanggil untuk melakukan bagian mereka sendiri. Untuk meringankan akibat-akibat dari krisis ini berarti meninggalkan anggapan bahwa “bantuan akan datang dari pemerintah”, seolah-olah dari deus ex machina (dewa dari mesin) yang membiarkan semua warga negara yang bertanggung jawab sebagai penonton saja, tidak tersentuh karena berusaha mengejar kepentingan pribadi mereka. Transparansi kebijakan dan strategi-strategi politik, bersamaan dengan integritas proses demokrasi, membutuhkan pendekatan yang berbeda. Kemungkinan kekurangan sumber daya untuk perawatan medis (bahan-bahan pelindung, alat uji, ventilasi dan perawatan intensif dalam kasus Covid-19), dapat digunakan sebagai contoh. Dalam menghadapi dilema tragis, kriteria umum untuk intervensi, berdasarkan keadilan dalam pendistribusian sumber-sumber daya, rasa hormat terhadap martabat setiap orang, dan perhatian khusus pada mereka yang rentan, harus dijabarkan terlebih dahulu dan dinyatakan sesuai dengan logika rasional mereka dengan kepedulian sebanyak mungkin.

Kemampuan dan kerelaan untuk menyeimbangkan prinsip-prinsip yang dapat saling bersaing adalah pilar penting lain dari etika risiko dan solidaritas. Tentu saja, kewajiban pertama adalah melindungi kehidupan dan kesehatan. Meskipun situasi tanpa risiko tetap merupakan kemustahilan, menjaga jarak fisik dan mengurangi be-berapa kegiatan tertententu, jika tidak bisa sepenuhnya berhenti, telah menghasilkan efek dramatis dan bertahan lama pada perekonomian. Biaya dalam hidup pribadi dan sosial juga harus diperhitungkan.

Dua masalah penting muncul. Masalah pertama merujuk pada ambang risiko yang dapat diterima, yang pe-nerapannya tidak boleh menimbulkan dampak-dampak diskriminatif terkait kondisi kekuasaan dan kekayaan. Perlindungan dasar dan ketersediaan sarana diagnostik harus ditawarkan kepada semua orang, sesuai dengan prinsip non-diskriminasi.

Penjelasan kedua yang menentukan, menyangkut konsep “solidaritas dalam risiko.” Pemakaian aturan-aturan khusus oleh suatu komunitas membutuhkan perhatian terhadap perkembangan situasi di lapangan, sebuah tugas yang dapat dilaksanakan hanya melalui disermen yang bertumpu pada kepekaan etis, bukan hanya pada ketaatan terhadap surat hukum. Komunitas yang bertanggung jawab adalah komunitas di mana beban kehati-hatian dan dukungan timbal balik dibagikan secara proaktif dengan memperhatikan kesejahteraan semua orang. Solusi-solusi hukum untuk konflik-konflik dalam hal tanggung jawab atas kesalahan dan kekeliruan karena perbuatan buruk yang disengaja atau kelalaian, kadang-kadang diperlukan sebagai alat keadilan. Namun, solusi-solusi itu tidak dapat menggantikan kepercayaan sebagai inti dari interaksi manusia. Hanya kepercayaan yang akan membimbing kita melalui krisis, karena hanya atas dasar kepercayaanlah humana communitas akhirnya dapat berkembang.

Kita dipanggil kepada suatu sikap pengharapan, me-lampaui pengaruh yang melumpuhkan dari dua godaan yang berlawanan: di satu sisi, kepasrahan untuk secara pasif menjalani peristiwa-peristiwa; di sisi lain, nostalgia untuk kembali ke masa lalu, hanya merindukan apa yang ada di sana sebelumnya. Sebaliknya, inilah saatnya untuk membayangkan dan melaksanakan suatu proyek koeksistensi manusia yang memungkinkan masa depan yang lebih baik bagi setiap orang. Impian yang baru-baru ini dibayangkan untuk kawasan Amazon bisa menjadi impian universal, sebuah impian bagi seluruh planet untuk “menyatukan dan menyejahterakan semua penduduknya agar mereka bisa menikmati ‘kehidupan yang baik’” (Querida Amazonia, 8).

 

Kota Vatikan, 22 Juli 2020

Sumber: http://www.vatican.va
diterjemahkan oleh: Dokpen KWI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s