Mukjizat Tuhan Lewat Tangan Kita

Renungan Harian Misioner
Minggu Biasa XVIII, 02 Agustus 2020
P. S. Petrus Faber
Yes. 55:1-3; Mzm. 145:8-9,15-16,17-18; Rm. 8:35,37-39; Mat. 14:13-21

Yohanes Pembaptis baru saja dieksekusi mati oleh Raja Herodes. Yesus pun harus mengungsi. Ia memang sering menjadi pengungsi, akibat ulah para petinggi agama dan politik. Saat bayi, Ia sudah harus mengungsi karena nyawa-Nya terancam oleh para penguasa (Mat. 2:14, 22). Saat mulai berkaryapun, Yesus beberapa kali harus mengungsi (Mat. 4:12; 12:15; 15:21). Akan tetapi, mengungsi bukan berarti tidak peduli dan berhenti berempati. Kekerasan para penguasa yang menginginkan kematian-Nya, justru membuka kesempatan bagi Tuhan untuk membagi kehidupan dan berkat-Nya.

Yesus Sang Pengungsi tetap menarik dan memikat massa. Orang banyak tetap mencari-Nya, walau harus berjalan kaki ke seberang. Saat mendarat, si Pengungsi justru disambut lautan manusia. Inilah “massa mengambang” abad pertama di Palestina, yang hidup serba sederhana, dijajah Roma dan diperas para penguasanya sendiri. Tuhan melihat penderitaan mereka dan hati-Nya tergerak oleh belas-kasihan. Dua langkah awal yang paling menentukan: mata yang melihat dan hati yang tergerak oleh belas-kasihan! Ia pun segera menyembuhkan mereka yang sakit. Betapa seringnya Saya dan Anda hanya melihat, tanpa tergerak! Hanya mendengar, tanpa bertindak, di hadapan penderitaan dan kekurangan sesama.

Para pengungsi biasanya ditampung dan diberi makan. Sang Pengungsi yang satu ini berbeda: Ia justru yang “membuka dapur-umum” dan memberi makan ribuan orang. Di hadapan kelaparan dan kehausan masal, solusi Tuhan jelas: tidak perlu menyuruh mereka pergi, tetapi berilah mereka makan, kini dan di sini! Usul-Nya ini jelas bertentangan dengan solusi para murid-Nya: mereka inginkan Yesus menyuruh massa itu pergi dan membeli sendiri makanan di desa-desa. Para murid-Nya realistis: tidak mungkin memberi makan ribuan orang banyak itu. Solusi mereka khas ekonomi-pasar: beli sendiri, makan sendiri! Di titik itulah Yesus mempertobatkan mereka. Pola-pikir dan mentalitas itu harus diubah: Mengapa harus selalu membeli sendiri, kalau kita dapat berbagi? Mengapa berfokus pada kekurangan yang luar-biasa, dan lupa satu-dua modal yang ada? Yesus mengajak mereka untuk bertolak dari apa yang ada: lima roti dan dua ikan. Modal dan kemampuan Anda dan Saya, betapapun sedikitnya, selalu menjadi angka sempurna bagi Tuhan, yang diubah-Nya untuk membawa perubahan dan berkat melimpah. Selain memperbanyak roti dan ikan, Yesus juga mengubah hati para murid-Nya!

Tuhan tidak berkarya sendirian. Ia melibatkan para murid-Nya: merekalah yang harus memberi makan orang banyak, roti dan ikan merekalah yang Ia doakan, dan melalui tangan-tangan merekalah Ia membagikan makanan. Tuhan selalu melibatkan kita. Ia menugaskan sekaligus memampukan. Bersama Dia, apapun yang kita buat selalu menjadi mukjizat. Lima roti saja sudah mengenyangkan lima ribuan orang. Tidak perlu mukjizat yang besar dan kolosal. Cukuplah hal dan tindakan yang sederhana. Bahkan kekurangan kitapun dapat diubah-Nya menjadi kelebihan. Selalu ada 12 bakul roti yang lebih dan berlimpah, yang akan terus mengenyangkan 12 suku Israel, segenap umat Allah, sampai selamanya.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kesejahteraan dalam dunia maritim: Semoga semua orang yang bekerja dan hidup dari laut, yaitu pelaut, nelayan beserta keluarganya, dan para petugas yang menjaga laut, senantiasa dikaruniai keselamatan dan kesejahteraan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan bangsa: Semoga sebagai tindakan nyata dalam menjalin kebersamaan dan kerukunan bangsa, Gereja membuka diri terhadap kebudayaan dan mau menggalakkan aneka ragam kegiatan seni lokal. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan usaha kami dalam bernegara supaya terwujudlah keadilan bagi setiap warga negara. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s