“Jalanmu Bukanlah Jalan-KU”

Renungan Harian Misioner
Minggu Biasa XXV, 20 September 2020

Yes. 55:6-9; Mzm. 145:2-3,8-9,17-18; Flp. 1:20c-24,27a; Mat. 20:1-16a

Palestina di zaman itu memang tidak nyaman. Selain dijajah Roma, pengangguran pun marak. Di tengah pengangguran, antrean calon pekerja biasanya mengular. Anehnya, justru si pemilik kebun anggur yang keluar pagi-pagi mencari para pekerja. Bukan hanya sekali, tetapi 5 kali ia “keluar mencari” mereka sampai jam 5 sore (ayat 1, 3, 5 dan 6). Kerajaan Allah adalah pertama-tama soal Allah yang mencari saya dan Anda untuk berpartisipasi dalam karya-Nya di dunia ini. Selama masih ada manusia yang belum menjadi ‘pekerja’-Nya, Ia akan terus mencari dan mengundang, sampai di menit-menit terakhir sekalipun!

Hanya dengan kelompok pekerja pertama ada kesepakatan tentang jumlah upah satu dinar. Konon ini UMR petani Palestina zaman itu. Dengan kelompok pekerja yang kedua, upahnya tidak dirinci dan tanpa dirunding. Hanya ada janji: mereka akan mendapat upah yang “pantas”. Hal yang sama diandaikan berlaku juga untuk kelompok pekerja ketiga dan keempat. Cerita ini mencuatkan pertanyaan mendasar: upah yang pantas dan adil itu berapa? Bagi pembaca jawabannya kiranya jelas: upah yang sesuai dengan jam kerja masing-masing. Sedikit bekerja, sedikit mendapat. Dari dulu hingga kini, prestasi dan masa-bakti adalah kriteria gaji. Dengan para pekerja yang terakhir, dialognya agak panjang. Jam kerja mereka yang hanya satu jam amat ditegaskan. Pembaca digiring untuk yakin bahwa mereka akan menerima upah yang paling sedikit, sesuai dengan ukuran keadilan yang biasa!

Tibalah saat membayar upah. Kelompok pertama, yang sudah bekerja 12 jam, seyogyanya dibayar pertama. Tidak akan ada kejutan dan protes, kalau mereka dibayar duluan. Mereka dapat pergi dengan tenang, sebab upah satu dinar sudah disepakati. Ternyata si tuan kebun berbuat sebaliknya: ia membayar mulai dengan mereka yang bekerja paling akhir! Tampaknya ini disengaja, agar para pekerja yang pertama dapat menyaksikan upah untuk para pekerja yang datang terakhir.

Ketika melihat kelompok terakhir dibayar satu dinar, kelompok pertama tentu berharap dibayar lebih. Kejutan pun terjadi: ternyata semuanya dibayar sama saja, tanpa peduli lamanya bekerja! Tentu simpati pembaca berpihak pada mereka yang berkerja sejak pagi di bawah terik matahari. Karena berpusat pada “upah”, maka manusia suka kalkulasi dan membanding-bandingkan. Padahal Allah memakai logika-rahmat. Ia tidak berkalkulasi berdasarkan prestasi dan masa-bakti. Dalam kemurahan-Nya, Allah menawarkan keselamatan yang sama kepada semua orang. Orang yang baru bertobat, diberi-Nya anugerah yang sama dengan mereka yang sudah lama menjadi hamba-Nya atau para petinggi jemaat-Nya.

Sebagai manusia, saya mudah tergoda untuk menghitung masa dan jasa. Gampang sekali saya membanggakan jasa saya dalam jemaat, lebih dari mereka yang baru dibaptis dan bertobat. Kalkulasi jasa dan upah seperti ini akan membuat saya sempit, kurang menghargai, apalagi turut-bergembira atas anugerah Tuhan kepada sesama, terutama yang baru saja percaya. Teguran TUHAN lewat nabi-Nya dalam bacaan pertama hari ini benar-benar telak: “Jalanmu bukanlah jalan-Ku” (Yes. 55:8).

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hormat terhadap sumber daya alam: Semoga semua sumber daya bumi ini tidak dikuras dan dirampas dengan serakah, tetapi dibagikan dengan adil, disertai rasa syukur dan penghargaan terhadap alam. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menciptakan udara bersih: Semoga dalam partisipasi untuk menciptakan udara bersih, keluarga-keluarga Katolik berinisiatif menjalankan sumbangan yang sederhana dengan menghijaukan lingkungannya masing-masing. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan tekad kami untuk mendaraskan upaya keadilan kami pada Sang Sabda sendiri. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s