Misi: Berbela rasa

Hari ke-5, Renungan Bulan Misi
Senin, 5 Oktober 2020
Peringatan : St. Anna Maria Gallo

Bacaan : Gal. 1:6-12
Injil : Luk. 10:25-37

“Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10: 29)

Arah Dasar Pastoral KAJ, tahun 2014 yang dirumuskan oleh Bapak Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo bertemakan: “Semakin beriman, semakin bersaudara dan semakin berbelarasa”. Kepekaan untuk berbelarasa kepada sesama merupakan bagian dari cinta kasih. Cinta kasih itu bukan hanya dalam kata tetapi menjadi nyata dalam perbuatan Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi kita, yang dapat menjadi dasar bagi kita untuk menampakkan kasih Allah dalam perbuatan-perbuatan baik kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus menceriterakan tentang “Orang Samaria yang baik hati”. Seorang ahli Taurat ingin mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Lalu Yesus menjawabnya: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesamamu manusia”. Selanjutnya, ahli Taurat bertanya, “siapa sesamaku manusia?” Maka, Yesus menceriterakan tentang seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, ia jatuh ke tangan penyamun, dirampok habis-habisan, dan ditinggal pergi begitu saja. Ada tiga orang yang lewat, pertama: seorang imam, ia tidak menolong; kedua: seorang Lewi, juga tidak menolong; dan ketiga: lewat orang Samaria, ia menolong, merawat dan membawa orang tersebut ke penginapan. Ia bahkan bersedia membayar semua biaya pengobatan dan perawatannya. Lalu Yesus bertanya, “Menurut pendapatmu yang manakah adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37).

Dari cerita di atas, Yesus berpesan kepada kita semua untuk meneladani apa yang dilakukan oleh orang Samaria itu. Ia rela berkorban, memberikan perhatian, menolong dan merawat sesama yang menderita kesusahan. Orang Samaria telah menunjukkan belas kasih kepada sesamanya, dengan mau berbelarasa kepada orang yang menderita, dan terkena musibah. Bagaimana dengan kita, sudahkah kita tergerak hati untuk peduli dan berbelarasa kepada sesama kita?

Dokumen “Persaudaraan Manusia” mengatakan bahwa: “Kemerosotan moral yang memengaruhi tindakan internasional dan melemahnya nilai-nilai dan tanggung jawab rohani. Semua ini berkontribusi pada perasaan frustrasi umum, keterasingan, dan keputusasaan yang membuat banyak orang jatuh ke dalam pusaran ekstremisme ateistik, agnostik atau fundamentalisme agama, atau ke dalam ekstremisme fanatik dan buta, yang pada akhirnya memicu bentuk-bentuk ketergantungan dan penghancuran diri individual atau kolektif” (art. 18).

Berbelarasa kepada sesama bukan faktor bawaan yang ada dalam diri seseorang. Belarasa perlu adanya upaya penyadaran, keterbukaan, dan kepekaan akan kebutuhan sesama yang memerlukan bantuan kita. Maka, dengan adanya kegiatan sarasehan dan pertemuan lingkungan dapat menumbuhkan kepekaan kita untuk berbelarasa kepada sesama yang memerlukan sentuhan kasih dari pihak kita. Kita semua diundang untuk semakin beriman, semakin bersaudara dan semakin berbelarasa. Rasul Yakobus dalam suratnya mengatakan “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak. 2:17).

Misi kita hari ini: berbelarasa kepada yang menderita dengan membuka diri, membuka sekat-sekat dan batas, menyambut dan berbagi kehidupan. (YH)

(Sr. Yohana Halimah, SRM – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s