Misi: Berbakti dalam Iman, Bersaudara dalam Kemanusiaan

Hari ke-10, Renungan Bulan Misi
Sabtu, 10 Oktober 2020
Peringatan : St. Daniel dkk; St. Paulinus

Bacaan : Gal. 3:22-29
Injil : Luk. 11:27-28

“Dalam hal ini tidak lagi diadakan perbedaan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, antara hamba dan orang bebas, antara orang laki-laki dan perempuan. Saudara semuanya satu karena Kristus Yesus.” (Gal. 3:28)

Dari zaman dulu hingga sekarang, persoalan perbedaan selalu ada di dalam kehidupan manusia. Mulai dari perbedaan yang telihat jelas, yaitu perbedaan ras, bangsa, warna kulit, hingga ke perbedaan status (sosial, ekonomi), agama, budaya, orang suci dan berdosa, dsbnya. Bagaimana menyikapi perbedaan yang benar nyata dan tampak dalam keseharian hidup kita ini? Apakah kita seharusnya menampik, berpura-pura tidak melihat dan merasakan perbedaan ini? Ataukah kita memang sudah seharusnya menerima perbedaan ini sebagai sebuah kondisi mutlak yang selalu pasti menjadi sekat yang memisahkan kita?

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal. 3:27). Dinyatakan secara tegas dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia bahwa pembaptisan menyebabkan kita “mengenakan Kristus”. Kita mencopot jubah, kulit asal kita dan mengenakan Kristus pada diri kita, agar kita bisa serupa dengan-Nya. Dalam hal apa? Dalam segala hal, terutama dalam hal menyikapi perbedaan.

Semasa hidupnya Yesus menerima setiap orang, baik itu orang Yahudi ataupun bukan, orang baik maupun pendosa, laki-laki maupun perempuan, orang dewasa maupun anak-anak. Sikap Yesus ekstrim mengenai perbedaan. Ketika semua orang menjauhi dan mencela pemungut cukai, Yesus malah mendatangi mereka dan malah makan dalam perjamuan (perayaan) bersama mereka. Ketika orang kusta dianggap orang-orang terkutuk, Yesus malah menjamah dan menyembuhkan mereka. Dan ketika perempuan diremehkan dan tidak diberi tempat, Yesus malah memilih rasul perempuan menjadi orang pertama yang ditemui-Nya setelah kebangkitan-Nya. Yesus menyatakan ketegasan-Nya yang tidak pandang bulu mengenai perbedaan. Ia juga menyembuhkan anak dari seorang perwira Romawi, yang jelas-jelas bukan berasal dari kaum-Nya atau pun percaya pada ajaran-Nya.

Dengan cara seperti itulah kita diharapkan mengenakan Kristus pada diri kita, dan di dalam hidup kita. Melekat sungguh dengan-Nya, menjadi serupa dalam perkataan, perbuatan, iman dan kasih. Perbedaan tidak kita tampik, atau kita telan bulat-bulat, melainkan kita terima sebagai warna yang memperkaya kehidupan kita, seraya terus memperjuangkan persatuan, kesetaraan dan kesejahteraan bersama.

Bapa Paus Fransiskus dalam perjuangannya demi terwujudnya perdamaian dunia menuangkan pemikirannya di dalam dokumen Persaudaraan Insani yang ditandatanganinya bersama Imam Besar Al-Azhar, Ahmad el-Tayeb: Atas nama persaudaraan insani yang merangkul semua manusia, menyatukan mereka dan menjadikan mereka setara (art. 9).

Di dalam bacaan Injil hari ini kita juga menemukan makna kebahagiaan. Bagaimana menjadi manusia yang berbahagia? “Tetapi Ia berkata: Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk. 11:28). Untuk menjadi manusia yang berbahagia, kita tidak harus menjadi kaum yang terhebat, terpandai, ataupun menjadi golongan yang terutama di antara semua golongan yang ada. Kebahagiaan itu harus diusahakan dengan mendengarkan firman Allah dan memelihara-Nya. Terkait perbedaan, kita telah mengetahui dengan jelas apa pernyataan sikap dan perintah Yesus. Mari bersama-sama kita lakukan: merangkul semua manusia, bersatu dalam kesetaraan.

Misi kita hari ini: membangun persaudaraan insani tanpa mempersoalkan perbedaan dalam tujuan mencapai kebahagiaan bersama. (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s