Misi: Mengembangkan Kasih Karunia Kehidupan

Hari ke-24, Renungan Bulan Misi
Sabtu, 24 Oktober 2020
Peringatan : St. Antonius Maria Claret

Bacaan : Ef. 4:7-16
Injil : Luk. 13:1-9

“Tetapi pada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” (Ef. 4:7)

Seperti halnya kita semua terikat menjadi satu oleh pelayanan masing-masing bagian, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota, begitu pula seharusnya kita memandang Allah, dunia (bangsa, kaum, suku, agama lain) dan diri kita. Kita tak terpisahkan, dekat satu dengan yang lainnya. Semua merupakan bagian dari Yang Satu (Allah), dan setiap orang dianugerahkan dengan kasih karunia serta tugas masing-masing. Kita semua harus percaya sebagai orang beriman bahwa Allah telah menciptakan kita untuk saling mengerti, bekerjasama, dan hidup sebagai saudara saudari yang saling mencintai.

Ini bukan sekedar seruan dari deklarasi Abu Dhabi, tapi ini adalah keinginan Allah Sang Pencipta untuk kita lakukan dan taati. Bahkan jauh sebelum deklarasi ditandatangani, kita telah membaca surat Rasul Paulus menulis tentang hal ini. Tuhan menginginkan persekutuan yang utuh di dalam-Nya. Setiap manusia, sebagai bagian-bagian yang tak terpisahkan, anggota-anggota dari seluruh tubuh Kristus. Dan Tuhan ingin kita bertumbuh dan membangun di dalam kasih.

Tangan kanan tidak mungkin membenci tangan kiri. Tangan kiri tidak iri pada tangan kanan karena ia memperoleh kemampuan dan tugas yang lebih sedikit. Mereka saling bekerja sama di momen-momen tertentu, saling melengkapi, saling membantu, saling menguatkan. Tangan kanan tidak kemudian memotong tangan kiri karena merasa ia lebih hebat, tidak memerlukan lagi bagian yang lain. Mengapa? Karena jika tangan kiri terluka, tangan kanan pun ikut merasa sakit dan menderita. Situasi bisa seperti itu karena tangan kanan dan tangan kiri terikat dalam satu tubuh yang sama.

Jadi, apakah kita benar-benar terikat dengan sesama, mereka yang kita sebut sebagai saudara-saudari manusia kita, dalam satu tubuh Kristus? Jika ya, kita pasti akan merasakan kesakitan, penderitaan, beban, juga kegembiraan, semangat dan harapan dari sesama kita. Tapi jika kita tidak mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, tidak memiliki kepekaan dan belas kasih untuk orang lain, ikatan itu tidak ada. Kita tidak sungguh-sungguh mengimani orang lain sebagai saudara-saudari kita dalam Kristus.

Dokumen Persaudaraan Manusia menuliskan: Deklarasi ini dapat menjadi tanda kedekatan antara Timur dan Barat, antara Utara dan Selatan, dan antara semua orang yang percaya bahwa Allah telah menciptakan kita untuk saling mengerti, bekerjasama, dan hidup sebagai saudara saudari yang saling mencintai (art. 43).

Dalam iman ada kepercayaan. Percaya kepada Allah, berarti kehidupan kita arahkan mengikuti apa yang dipinta oleh-Nya. Sesuai yang dikatakan dalam dokumen artikel 43, kita mengimani bahwa Allah telah menciptakan kita untuk saling mengerti, bekerjasama, dan hidup sebagai saudara-saudari yang saling mencintai.

Bila kita benar mensyukuri karunia kehidupan yang telah Tuhan berikan kepada kita, kita tahu bagaimana menghargai karunia kehidupan yang sama yang Tuhan berikan kepada orang lain. Dengan cara apa perwujudan itu? Dengan hidup sebagai saudara-saudari yang saling mencintai.

Misi kita hari ini: bersyukur atas karunia kehidupan yang Tuhan telah berikan. (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s