Misi: Mengasihi Orang Lain Tanpa Melihat Perbedaan

Hari ke-25, Renungan Bulan Misi
Minggu, 25 Oktober 2020
Peringatan : St. John Stone, Martir

Bacaan : Kel. 22:21-27
Injil : Mat. 22:34-40

“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat. 22:39)

Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang negara. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bhinneka mempunyai arti beragam atau beraneka, Tunggal artinya satu dan Ika berarti itu. Jadi secara harafiah berarti menjadi beraneka satu itu maknanya, meski beragam tetapi satu jua. Hal ini juga dapat diartikan bahwa kita yang tinggal di negara Indonesia dengan aneka agama, ras, suku bangsa, bahasa, adat dan budaya, kita harus mempunyai sikap saling menghormati, saling mengasihi tanpa mempersoalkan perbedaan yang ada.

Dalam Injil hari ini kita mendengar bagaimana orang-orang Farisi mencobai Yesus dengan pertayaan: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” dan Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akal budimu. Dan hukum kedua, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum dan kitab para nabi. Hukum kasih yang diajarkan Yesus memang merupakan hukum dasar, yang dari padanya semua hukum tergantung. Ia harus menjadi semangat dasar dalam menjalankan hukum-hukum yang lain.

Hukum mencintai Allah dan sesama memang merupakan hukum yang pertama dan terutama, namun untuk menghayatinya tentulah tidak gampang. Betapa sulitnya mencintai Tuhan itu. Rasanya lebih mudah bagi kita untuk mencintai seorang kekasih, seorang sahabat, bahkan hobi atau binatang peliharaan kita daripada mencintai Tuhan. Rasanya Tuhan itu terlalu abstrak dan jauh dari hidup konkret kita. Namun, mencintai Tuhan bukanlah terutama soal perasaan, tetapi terutama soal kehendak. Kita mau menempatkan Tuhan di atas segala-galanya. Kita harus sanggup untuk memprioritaskan Tuhan dan kepentingan-Nya di dalam hidup kita.

Tuhan memberi kita jalan untuk mencintai-Nya melalui cinta kita kepada sesama. Kalau Tuhan terasa agak abstrak, tak kelihatan dan tak tersentuh, maka sesama kita adalah pribadi-pribadi yang konkret, dapat dilihat dan disentuh, yang dapat lebih gampang menggerakkan cinta kita. Cinta kita kepada sesama adalah pernyataan atau ekspresi nyata dari cinta kita kepada Allah. Allah telah mengidentifikasikan Diri-Nya dengan sesama kita. “Apapun yang kamu perbuat terhadap salah seorang dari saudaraku yang paling hina, itu telah kamu lakukan kepadaku” (Mat. 25:40). Dalam hal ini, kita dipanggil untuk mencintai sesama kita tanpa membedakan mereka.

Mengasihi Tuhan dan sesama dengan sepenuh hati tidak bisa hanya diungkapkan dengan kata-kata, tetapi harus diwujudkan dengan tindakan-tindakan nyata. Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan dalam hidup sehari-hari tidak hanya akan membuat iman kita semakin hidup, tetapi juga pada saat yang sama kita akan lebih mudah untuk menerima orang lain, memaafkan orang yang selama ini telah menyakiti hati kita, memberikan bantuan kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa memandang agama, suku, dan golongan. Jika kita mengasihi Tuhan, maka di saat yang sama kita juga harus mengasihi sesama. Tidaklah benar bila mengakui mengasihi Tuhan, tetapi membenci sesama atau merasa mencintai sesama tetapi tidak pernah melakukan perintah Tuhan.

Dikatakan juga dalam dokumen mengenai hal ini: Iman menuntun orang beriman untuk memandang dalam diri sesamanya seorang saudara lelaki atau perempuan untuk didukung dan dikasihi (art. 1).

Misi kita hari ini: mengasihi semua orang tanpa membeda-bedakan orang menurut agama, budaya, suku, dll. (YH)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s