Hidup Misionaris Berpusat Pada Kristus

Renungan Harian Misioner
Jumat, 06 November 2020
P. S. Leonardus dr Nobrac, S. Nuno Pereira

Flp. 3:17 – 4:1; Mzm. 122:1-2,3-4a.4b-5; Luk. 16:1-8

Renungan Harian Misioner dari Yung-Fo, Pangkalpinang,

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom! Secara liturgis, kita sedang menuju kepada “akhir” sekaligus “puncak Tahun Liturgi” dalam Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Melalui Mazmur Tanggapan, kita diundang untuk “pergi ke rumah Tuhan” (Mzm. 122:1). Pertanyaan reflektif untuk kita, setelah melewati perjalanan sepanjang tahun ini adalah, “Apakah Tuhan kita Yesus Kristus sungguh ‘meraja’ dalam hari-hari hidup kita, sehingga kita layak untuk memasuki ‘rumah Tuhan’?” Jawaban atas pertanyaan ini tidak perlu menunggu sampai Hari Raya Kristus Raja. Hubungan kita dengan Yesus selalu harus kita hayati dari waktu ke waktu, dan wajib kita refleksikan setiap saat agar: cara hidup yang sudah baik kita tingkatkan, dan cara hidup yang tidak baik kita lepaskan dari kehidupan kita.

Pelajaran dari pengelolaan harta benda dan keuangan!
Firman Tuhan dalam bacaan-bacaan hari ini, menyemangati kita untuk mengatur kembali cara mengelola dan menghayati kehidupan, sehingga pada saatnya kita layak masuk ke dalam rumah Tuhan, persekutuan yang kekal dengan Sang Raja Semesta Alam, yakni Yesus Kristus Tuhan kita. Tentang uang sebagai hal yang kita perlukan di dalam kehidupan kita, Firman yang disampaikan oleh Yesus sendiri, meminta kita untuk mengelolanya dengan baik. Dari teks Injil Lukas 16:1-8, beberapa nasihat untuk mengelola keuangan:
1. Semua sumber daya pendukung kehidupan kita adalah milik Tuhan, karena itu perlu dipergunakan dengan baik!
2. Uang, khususnya, dapat digunakan untuk hal-hal yang baik, tetapi bisa juga untuk hal-hal yang jahat; karena itu, sebagai putera-puteri terkasih Allah, mari kita gunakan uang hanya untuk kebaikan saja!
3. Tak dapat diingkari, uang mempunyai “kekuasaan” atau power. Karena itu perlu kehati-hatian plus kebijaksanaan ketika kita harus mengelola uang.
4. Penggunaan sumber daya termasuk uang perlu juga diberi porsi untuk “pengembangan iman” dan sesuatu yang terkait dengan relasi kita dengan Allah, misalnya untuk biaya rekoleksi atau retret, atau ziarah, dsbnya.

Dalam pengalaman sang bendahara yang tidak jujur, pengelolaan harta benda dan keuangan pada awalnya amburadul, hingga saat pertanggungjawaban atas tugas ini diminta oleh tuannya (Luk. 16:2-3). Di akhir sang bendahara dipuji sebagai orang yang cerdik (Luk. 16:8), karena mengelola keuangan dan harta benda tuannya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Bendahara itu menambahkan “unsur kasih & kemanusiaan” dengan memotong jumlah hutang yang ada pada mitra dagang tuannya (Luk. 16:5-7). Cara mengelola harta benda dan keuangan tuannya itu tidak lagi hanya soal transaksi bisnis semata, tetapi juga mengikutsertakan nilai kebaikan dan relasi antar manusia. Justru di saat krisis, di mana bendahara itu dituntut pertanggungjawaban atas tugasnya, ia menunjukkan kasih kepada para mitra dagang tuannya. Inilah sesuatu yang dipuji sebagai tindakan cerdik. Namun marilah kita berbuat kasih, bukan hanya karena ada saat krisis atau sulit saja. Kasih harus menjadi nilai utama dalam seluruh transaksi kehidupan kita satu dengan yang lainnya!

Pelajaran dari Rasul Santo Paulus
Dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Paulus menantang jemaat untuk menumbuhkembangkan keserupaan dengan Kristus di dalam kehidupan mereka, dengan mengikuti contoh hidupnya sendiri. Sebagaimana Paulus menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat hidupnya, ia berharap Jemaat di Filipi menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat hidup mereka juga. Pada waktu itu, Injil mungkin belum tersebar dalam bentuk ‘tertulis,’ karena itu Paulus tidak meminta jemaat untuk membaca Injil, tetapi cukup dengan melihat dan mengikuti contoh hidupnya sendiri. Karena cara hidupnya harus menjadi panutan dalam menghayati hidup yang berpusat pada Kristus, maka Paulus tentu harus memberikan contoh hidup yang baik! Pengalaman Paulus ini menjadi refleksi untuk kita juga: apakah cara hidup kita sebagai pengikut Kristus, yang kita tampakkan melalui tutur-kata, sikap dan tingkah-laku kita dapat membantu orang-orang lain, untuk membangun hidup yang berpusat pada Kristus?

Paulus juga memberikan beberapa hal yang harus dijauhkan dari kehidupan seorang pengikut Kristus, yakni tidak boleh mengikuti cara hidup dari orang-orang yang mengaku percaya kepada Kristus, tetapi tidak menunjukkan iman-kepercayaan itu di dalam tutur-kata, sikap dan tingkah-laku mereka. Juga orang-orang yang egois dan tidak peduli terhadap orang lain, sekalipun mereka adalah pengikut Kristus. Kepada jemaat di Filipi Paulus menegaskan bahwa sebagaimana mereka bangga akan jati diri mereka sebagai warga Kerajaan Romawi, demikian juga sebagai pengikut Kristus mereka harus menunjukkan kebanggaan sebagai warga Kerajaan Surga.

Pada bagian akhir dari surat Paulus dalam bacaan ini, Paulus meminta jemaat untuk “berdiri teguh di dalam Tuhan” (Filipi 4:1), sementara pada ayat sebelumnya, Paulus berbicara tentang “tubuh kita yang fana” (Filipi 3:21). Sebagai seorang misionaris ulung, Paulus tidak menolak ataupun merendahkan tubuh jasmani-manusiawi kita. Paulus justru meminta, supaya kehidupan tubuh jasmani-manusiawi kita itu harus selalu terhubung dengan Kristus, sehingga ketika tiba waktunya Kristus datang di dalam kemuliaan-Nya, kita pun akan dimuliakan bersama dengan Dia (Filipi 3:20-21). [RMG]

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Intelegensi artifisial: Semoga kemajuan teknologi robotik dan intelegensi artifisial dapat dikendalikan demi tujuannya yang luhur, yakni melayani dan mengabdi manusia serta kemanusiaan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para ayah: Semoga para ayah tetap menginsyafi kewibawaan dan kebijaksanaannya sebagai kepala keluarga di tengah arus sosial yang menggerus kehidupan keluarga zaman ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami persembahkan seluruh umat di Keuskupan kami untuk bersedia menjadi pejuang keadilan di setiap tempat tinggal dan karyanya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s