‘YESUS’ Totalitas Cinta ALLAH yang Radikal

Renungan Harian Misioner
Kamis, 07 Januari 2021
P. S. Raimundus dr Penyafort

1Yoh. 4:19 – 5:4; Mzm. 72:2,14,15bc,17; Luk. 4:14-22a

Kita telah merayakan hari raya penampakan Tuhan, yang mengungkapkan cara Allah mengidentifikasikan diri-Nya dengan manusia. Ia hadir dalam rupa manusia, dalam diri Yesus! Allah yang hadir dalam wujud manusia ini memiliki tujuan yang lebih besar yakni menyelamatkan manusia. Penginjil Lukas dalam bacaan Injil hari ini, menggambarkan Yesus sebagai seorang nabi yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan bersemangat dalam karya misi yang dipercayakan kepada-Nya. Apa yang menjadi misi Yesus? Yesus mengutip apa yang telah diwartakan oleh nabi Yesaya, “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk. 4:18-19). Ini adalah misi atau program Yesus, untuk mewujudkan kasih Bapa-Nya secara nyata di dunia. Dari mana Yesus mendapatkan semangat dan kekuatan untuk misi-Nya ini? Dasarnya terletak pada pengalaman-Nya akan kasih Bapa yang tanpa syarat dan tanpa pamrih. Identifikasi Yesus dengan kasih Bapa-Nya bagi manusia yang tanpa syarat inilah yang membuat Dia tetap teguh dalam menjalankan misi-Nya. Yesus yang mengajari kita tentang kasih Bapa, tidak hanya bersifat doktrinal teoretis saja, Dia bahkan menunjukkan kepada kita secara konkret dan nyata, cara mengungkapkan kasih Bapa; melalui mukjizat yang Dia lakukan, terutama mukjizat penyembuhan dan pengusiran terhadap roh-roh jahat. Dia juga menunjukkan belas kasihan dan pengampunan Bapa melalui makan bersama dan menerima orang-orang berdosa, para pemungut pajak, dan mereka yang terpinggirkan. Cara Yesus dalam mengungkapkan totalitas cinta Allah yang paling radikal berpuncak pada peristiwa salib! Keyakinan Yesus dalam kasih Bapa-Nya yang tak tergoyahkan itulah yang memberi-Nya kekuatan untuk bertahan sampai akhir.

Bagaimana dengan kita? Sejauh mana kita bersemangat dalam karya misi yang dipercayakan kepada kita? Sudahkah kita mencintai saudara-saudari kita dan melakukan segalanya dengan penuh cinta dan kasih Tuhan? Jika tidak, maka teguran Yohanes dalam bacaan pertama hari ini akan berlaku untuk kita karena “Siapapun yang berkata, “Aku mengasihi Allah” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh. 4:20). Jadi apa yang harus kita lakukan? Jelaslah bahwa kita hendaknya mencintai sesama kita sebagai cara yang paling sederhana dalam mencintai Allah yang tidak kelihatan. Lalu dari manakah kita dapat menemukan sumber cinta yang penuh gairah untuk sesama kita, hasrat yang membuat kita mengorbankan kepentingan pribadi untuk menjangkau dan mengasihi mereka tanpa syarat? Kuncinya adalah diurapi dengan Roh yang sama yang diterima oleh Yesus ketika Dia berkata tentang diri-Nya, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku” (Luk. 4:18a). Roh ini tidak lain adalah kasih yang kuat dan abadi dari Roh Bapa bagi umat-Nya. Jadi sesungguhnya, kita hanya bisa mencintai seperti Tuhan, jika kita menerima Roh yang sama yang memberdayakan Yesus untuk mengasihi seperti cara Bapa mengasihi-Nya. Dengan Roh yang sama, kita sanggup mencintai sesama kita, sebagai cara kita mengungkapkan cinta kita kepada Allah, dengan memulainya dari orang yang paling dekat dengan kita, sampai mengasihi mereka yang menjadi musuh kita. Inilah misi kita, menjadi pembawa kasih Bapa kepada sesama!

Untuk itu, kita harus mendasarkan misi dan semangat kita di dalam Kristus, dengan meleburkan diri dalam kasih-Nya dan merenungkan ajaran-Nya sehingga kita dapat tetap setia kepada Tuhan dan perintah-perintah-Nya, dan mencintai sesama kita seperti cara Dia mencintai kita. Sebelum kita dapat mengidentifikasikan diri kita dengan penderitaan dan kebutuhan sesama kita, pertama-tama kita harus menerima Roh yang sama seperti Yesus, menempatkan hati dan pikiran-Nya dalam diri kita; memiliki hati yang mencintai seperti hati Yesus, dan berpikir dengan cara yang sama seperti Yesus, yakni menjadi tanda yang menyelamatkan dan membebaskan banyak orang. Hanya ketika kita memiliki hubungan yang mendalam dengan Tuhan, memperoleh Roh yang sama dari-Nya, kita dapat berempati dan bersimpati dengan orang lain dengan tanpa syarat dan pamrih. Kasih Yesus kepada Bapa-Nya tidak hanya terfokus pada diri-Nya saja tetapi diwujudkan dalam kasih-Nya kepada sesama-Nya. Marilah kita mencontohi teladan agung kita ini dalam mengasihi. Kita memohon kepada Bapa, agar kita dipenuhi dengan Roh kasih-Nya, yang memampukan kita melakukan hal yang sama seperti Putera-Nya; mencintai dengan total sampai mengorbankan diri-Nya demi keselamatan kita.

(RP. Gabriel Joseph, CSsR – Imam di Manila)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persaudaraan antarsesama manusia: Semoga Tuhan menganugerahi kita rasa persaudaraan yang kuat agar kita bisa hidup berdampingan bersama saudara-saudara kita yang berlainan agama dengan saling terbuka dan mendoakan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Solidaritas masyarakat: Semoga, kita sebagai bangsa, dapat melanjutkan dan makin mengembangkan solidaritas, terlebih bagi mereka yang miskin dan menderita oleh karena wabah Covid-19. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami mempercayakan seluruh tahun ini dalam cinta-Mu, sebagaimana nampak dalam persembahan diri Santo Yoseph, yang menyertai Bunda Maria dalam memelihara Sang Putera, dalam pelbagai duka derita maupun sukacita di Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s