Biarkan Sabda Itu Berbuah Melimpah

Renungan Harian Misioner
Rabu, 27 Januari 2021
P. S. Angela Merici

Ibr. 10:11-18; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 4:1-20

Dalam bacaan Injil yang kita renungkan hari ini Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya dalam bentuk perumpamaan tentang seorang penabur (Mrk. 4: 1-9). Dalam perikop yang sama, mulai ayat 15 s.d 20, Yesus menjelaskan arti perumpamaan itu. Ia memulai dengan perkataan ini: “Penabur itu menaburkan sabda.” Ketika sabda ditaburkan, ada empat kemungkinan di mana sabda itu jatuh: di pinggir jalan, di tanah berbatu, di tengah semak duri dan di tanah yang baik. Hanya yang jatuh di tanah yang baik yang akan menghasilkan buah melimpah. Apa yang mesti kita usahakan supaya sebagai pendengar sabda diri kita menjadi tanah yang baik yang menghasilkan buah melimpah?

Banyak di antara kita yang mendengarkan sabda Tuhan setiap hari, setidaknya setiap hari Minggu saat mengikuti Ibadat Sabda/Perayaan Ekaristi. Adakah penghalang dalam diri kita yang menghambat sabda itu berbuah lebat? Mari kita lihat. Ketika kita mendengarkan sabda Allah, apakah kita sungguh-sungguh mendengarkan sabda itu atau sekedar mendengarnya sambil lalu, pikiran sedang lari ke sana kemari sehingga sabda itu hanya masuk telinga kiri dan langsung keluar telinga kanan, sehingga sabda itu sama sekali tidak lewat dalam hati kita? Kalau yang terakhir yang terjadi sabda itu akan diambil oleh iblis dan tak pernah berbuah. Supaya sabda itu berbuah, setiap kali kita mendengarkan sabda Tuhan, kita mesti mendengarkannya dengan penuh perhatian, membiarkan sabda itu menyentuh akal budi kita dan turun ke hati untuk menggerakkan kita melakukan apa yang diminta sabda itu.

Kemungkinan lain, sabda yang ditabur Tuhan dalam hati kita jatuh di dalam hati kita yang penuh dengan bebatuan. Kita senang mendengarkan sabda Tuhan yang menguntungkan kita, sabda Tuhan yang memberi penghiburan kepada kita, tapi menolak sabda Tuhan yang meminta kita untuk memikul salib kita sehari-hari dan terlibat dalam penderitaan Kristus. Kalau disposisi hati kita seperti ini maka ketika ada kesulitan hidup dan penganiayaan dengan mudah kita akan murtad dan meninggalkan Kristus. Sebaliknya siapa saja yang mau merenungkan semua sabda Tuhan, termasuk sabda yang menuntut pengorbanan diri, ia akan merasa bahagia saat dicela dan dianiaya karena imannya kepada Kristus (Mat. 5: 11-12) dan demikian akan berbuah melimpah.

Kemungkinan lain, sabda Tuhan jatuh dalam hati kita seperti jatuh di tengah semak duri. Sabda itu dihimpit oleh kekhawatiran dunia dan keinginan akan hal-hal duniawi lainnya sehingga tidak berbuah. Supaya sabda yang ditaburkan dalam diri kita berbuah, dalam segala peristiwa kita mesti percaya sepenuhnya pada Allah dan mengandalkan Dia sebagai penolong utama, “Janganlah kamu khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum…” Jangan sampai keinginan-keinginan dunia memenuhi hati kita, sebaliknya mari kita penuhi hati kita dengan keinginan-keinginan luhur yang mendorong kita untuk mencintai sabda-Nya dan melaksanakannya dalam praktik hidup sehari-hari.

Kalau kita mendengarkan sabda Allah penuh perhatian, mau merenungkan sabda Tuhan yang menuntut kita berkorban bersama Kristus, serta selalu memenuhi hati kita dengan keinginan-keinginan yang baik untuk menghidupi sabda Allah, niscaya kita akan berbuah melimpah!

(RP. Yakobus Sriyatmoko, SX – Magister Novis Serikat Xaverian di Wisma Xaverian Bintaro, Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persaudaraan antarsesama manusia: Semoga Tuhan menganugerahi kita rasa persaudaraan yang kuat agar kita bisa hidup berdampingan bersama saudara-saudara kita yang berlainan agama dengan saling terbuka dan mendoakan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Solidaritas masyarakat: Semoga, kita sebagai bangsa, dapat melanjutkan dan makin mengembangkan solidaritas, terlebih bagi mereka yang miskin dan menderita oleh karena wabah Covid-19. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami mempercayakan seluruh tahun ini dalam cinta-Mu, sebagaimana nampak dalam persembahan diri Santo Yoseph, yang menyertai Bunda Maria dalam memelihara Sang Putera, dalam pelbagai duka derita maupun sukacita di Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s