Memberi dari Kemiskinan

Renungan Harian Misioner
Kamis, 04 Februari 2021
P. S. Yohanes de Britto

Ibr. 12:18-19,21-24; Mzm. 48:2-3a,3b-4,9,10,11; Mrk. 6:7-13


Hari ini kita melihat Yesus memanggil lagi kedua belas muridnya untuk yang ketiga kalinya. Dan kita bisa melihat bahwa ada tiga tingkat pada panggilan murid-murid itu. Pada tingkat pertama Yesus memanggil mereka dari keterpencaran untuk mengikuti Kristus. Kemudian pada panggilan kedua Yesus mengajak para murid yang mengikuti-Nya untuk lebih dalam lagi datang kepada-Nya, hidup bersama dengan-Nya. Pada tingkat yang ketiga dalam Injil hari ini, Yesus kembali memanggil mereka yang ada bersama dengan-Nya untuk mengutus mereka kepada semua orang. Tingkatan ini menggambarkan identitas Gereja yang apostolik, sebagai Gereja yang diutus Yesus (Mrk. 1:16-20; 2:14; 3:13-19).

Peristiwa ini adalah untuk pertama kalinya Yesus memerintahkan sesuatu kepada murid-murid-Nya dan pertama kalinya juga para murid akan pergi tanpa Kristus, hal ini tentunya merupakan kemajuan dalam proses belajar mereka. Para murid yang sudah sekian lamanya bergaul dengan-Nya, mendengarkan ajaran-Nya, dan melihat mukjizat-Nya dirasa sudah cukup waktunya, sehingga Kristus mengutus mereka pergi untuk mengajar orang lain juga dengan segala keterbatasan mereka. Mereka diutus berdua-dua supaya mereka saling menemani satu sama lain, saling menolong dan saling menjaga, serta tentunya apabila dari mulut dua orang saksi maka perkataan mereka dapat lebih dipercaya. Pesan ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya persekutuan dalam Kristus dan agar semua pengikut-Nya saling berteman dan membantu satu sama lain dalam melayani sesama. Kita juga diajak menyadari bahwa Misi ini bukan misi pribadi kita, melainkan inisiatif Allah yang menjadikan tugas penyelenggaraan pewartaan-Nya ditanggungkan kepada kita sebagai utusan yang mesti dilakukan bersama-sama utusan lainnya (1 Kor. 9:17).

Perintah Yesus merupakan perintah ‘kemiskinan.’ Para murid tidak boleh membawa roti maupun bekal karena sukacita seorang utusan bukan dari apa yang disimpan atau dibawanya, melainkan tentang apa yang telah diberikannya kepada sesamanya karena mengasihi mereka. Kemiskinan yang dibawa oleh para utusan adalah wujud ketaatan pada Dia yang telah melakukan hal yang sama ketika Kristus yang oleh karena kita menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. Kemiskinan kristiani adalah menjadi seperti Allah sendiri yang seluruh diri-Nya adalah anugerah yang diperuntukkan bagi orang lain. Dan syarat untuk mengasihi adalah dengan memberi diri sepenuhnya karena tidak memiliki apa-apa (2Kor. 8:9).

Murid-murid masih boleh membawa tongkat sebagai alat bantu berjalan dan untuk membela diri dari bahaya, namun sesungguhnya kita diingatkan bahwa ada kayu lain yaitu Salib yang harus kita pikul sepanjang perutusan kita. Sebab Kristus mengutus kita bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia. Murid juga boleh memakai alas kaki, yang bersama dengan tongkat merupakan seragam Paskah untuk menggambarkan kesiapsediaan untuk diutus manakala Tuhan hadir (1 Kor. 1:17; Kel 12:11).

Perintah-perintah itu dimaksudkan untuk mengajar kita, bahwa kita harus bergantung pada Allah saja, sungguh-sungguh beriman bahwa Dia sanggup menyediakan keperluan kita. Yesus sudah memberikan kuasa, otoritas untuk memberitakan pertobatan, mengusir setan-setan dan menyembuhkan orang-orang sakit. Melalui panggilan untuk bertobat dan memberi diri untuk dibaptis dalam nama Yesus Kristus inilah kita menunjukkan kehadiran Kerajaan Allah yang penuh kuasa, dan Keselamatan yang datang dari Nama Tuhan (Kis. 2:38; 4:12). (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perempuan korban kekerasan: Kita berdoa bagi kaum perempuan korban kekerasan, agar mendapat perlindungan dan penderitaan mereka benar-benar dirasakan dan diperhatikan oleh masyarakat. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kasih sayang keluarga: Semoga keluarga-keluarga Katolik makin berani belajar menghayati spiritualitas tinggal di rumah yang menuntut anggota-anggota keluarga untuk saling memahami kelemahan dan saling menguatkan dalam menghadapi setiap masalah. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah meneguhkan hati kami dalam berbakti pada sesama, seperti Santo Yoseph, sepanjang Kau perkenankan ikut membesarkan Sang Putera, dalam Keluarga Kudus Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s