Kemuliaan di Balik Salib

Renungan Harian Misioner
Minggu, 28 Februari 2021
HARI MINGGU PRAPASKAH II

Kej. 22:1-2,9a,10-13,15-18; Mzm. 116:10,15,16-17,18-19; Rm. 8:31b-34; Mrk. 9:2-10

Ada “rahasia Mesias” dalam Injil Markus. Yesus tidak mau identitas-Nya sebagai Mesias dibuka terlalu cepat. Ada ‘perintah diam’ bagi mereka yang sudah Ia sembuhkan. Murid dan roh jahat pun diwajibkan tutup-mulut. Yesus tidak mau menjadi tumpuan harapan instan dan dangkal. Nada “rahasia” tampak juga di awal dan akhir cerita ini. Hanya trio Murid kepercayaan-Nya yang diajak naik ke gunung. Peristiwa itu bukan untuk konsumsi umum. Pada saat turun gunung pun, Ia perintahkan agar ketiga murid-Nya itu menjaga rahasia. Ini berbeda dengan saat Transfigurasi itu sendiri, di mana Yesus justru amat “dipamerkan”. Di depan mata mereka, Ia berubah rupa, pakaian-Nya putih cemerlang, lalu suara Bapa mengumumkan siapa Dia. Identitas Yesus sengaja dibuka total, tanpa rahasia lagi. Mengapa?

Pertama, untuk memberi semangat dan pengharapan kepada para murid-Nya. Bayangkan, sudah setengah perjalanan bersama Yesus, mereka tetap saja belum paham dan siap. Jalan bersama Yesus menuju salib, tampaknya terlalu sulit untuk diikuti. Maka, semangat dan pengharapan mereka harus dihidupkan. Misteri akhir dan puncak perjalanan bersama Yesus itu harus dibuka, meski untuk sesaat saja. Maka, kemuliaan Yesus saat Ia bangkit mulai sedikit diantisipasi. Yesus yang berubah dan pakaian-Nya yang berkilauan menunjuk pada Yesus yang bangkit kelak. Dua teman bicara-Nya juga datang “dari dunia sana”. Elia dan Musa: dua tokoh yang juga wafat secara mulia. Elia bahkan tidak pernah wafat. Ia langsung diangkat ke Surga (2Raj. 2:9-12). Musa wafat dan dikuburkan oleh TUHAN sendiri, tetapi kuburnya tetap misteri (Ul. 34:5-7). Mungkin jasadnya dibawa TUHAN langsung ke Surga. Maka keduanya diyakini akan datang kembali untuk mengabarkan tibanya era sang Mesias. Persis itulah yang terjadi! Dari langit ada proklamasi: “Inilah Anak yang Kukasihi”. Yesuslah sang Mesias, yang akan menderita dan wafat sebagai Hamba yang taat, dan akan dimuliakan sebagai Anak kekasih Allah. Kesetiaan pada Allah, kendati salib menghadang, akan juga menghantar semua pengikut-Nya menjadi anak-anak yang dikasihi Allah!

Kedua, untuk memberi tuntunan dan pedoman. Perkenalan diri sang Anak, barulah separuh cerita. Pernyataan “Inilah Anak yang Kukasihi” segera diikuti dengan perintah “dengarkanlah Dia”. Jadi, Bapa membenarkan pewartaan dan jalan yang diambil Yesus. Pernyataan Yesus selama ini bahwa “jalan-Nya” dan “jalan bersama Dia” membawa serta konsekuensi Salib, itulah yang benar. Sekaligus benar juga kebangkitan, hidup dan kemuliaan di balik Salib itu. Itulah yang harus didengarkan oleh para murid Yesus, bukan pendapat dan ajaran lain, termasuk pendapat Petrus yang ingin menetap dalam “kemuliaan”, tanpa ikut mengalami salib-Nya.

Dengan sengaja Gereja menempatkan cerita “mulia” ini pada masa Pra-Paskah. Ketika kita merenungkan salib dan penderitaan sebagai bagian hakiki iman, sebaiknya kita sadar bahwa itu hanyalah sebagian dari cerita. Transfigurasi Tuhan memberi kita semangat dan harapan bahwa semua salib pasti menghantar kita kepada kemuliaan, sebagai anak-anak yang dikasihi Bapa.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perempuan korban kekerasan: Kita berdoa bagi kaum perempuan korban kekerasan, agar mendapat perlindungan dan penderitaan mereka benar-benar dirasakan dan diperhatikan oleh masyarakat. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kasih sayang keluarga: Semoga keluarga-keluarga Katolik makin berani belajar menghayati spiritualitas tinggal di rumah yang menuntut anggota-anggota keluarga untuk saling memahami kelemahan dan saling menguatkan dalam menghadapi setiap masalah. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah meneguhkan hati kami dalam berbakti pada sesama, seperti Santo Yoseph, sepanjang Kau perkenankan ikut membesarkan Sang Putera, dalam Keluarga Kudus Nasaret. Kami mohon…

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s