Cawan Kehidupan: Latihan Rohani Kita

Renungan Harian Misioner
Rabu Prapaskah II, 03 Maret 2021
P. S. Marinus

Yer. 18:18-20; Mzm. 31:5-6,14,15-16; Mat 20:17-28

Tuhan Yesus seringkali tampil dengan berbagai kejutan, baik bagi orang banyak maupun untuk murid-murid-Nya, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan. Dia melakukan itu melampaui ‘nalar sehat’ kita. Atau, lebih tepat, nalar kita memang sesat, sehingga perlu disehatkan oleh-Nya. Orang terkejut, justru karena Dia melakukan kebaruan yang tidak masuk dalam logika mereka. Intinya, pola-pikir dan perilaku kita perlu disehatkan. Itulah ‘conversio’. Perubahan dan pertobatan!

Matius dalam Injil hari ini memberitakan narasi mesianis, sebuah tuntutan pertobatan yang meliputi pola-pikir yang sehat dan perilaku yang benar. Kepada kedua bersaudara Yakobus dan Yohanes beserta ibu mereka, Tuhan Yesus menekankan pentingnya nilai pengorbanan diri dan penderitaan untuk menjadi murid-murid yang sejati. Untuk menggambarkan kebenaran rohani ini, Tuhan Yesus memakai ungkapan simbolis ‘minum cawan’.

Yakobus dan Yohanes memang menjawab pertanyaan Tuhan Yesus dengan tegas bahwa mereka siap untuk ‘minum cawan’ sebagai bagian dari proses pemuridan mereka (Mat. 20:22-23). Akan tetapi, apakah ibu mereka yang ambisius itu juga mengerti dengan tepat ‘bahasa simbolis’ ini?

Sementara itu, kepada kesepuluh murid yang lain – sementara Yakobus dan Yohanes pasti masih berada di tempat yang sama – Tuhan Yesus mengingatkan akan nilai pelayanan, bahkan pelayanan sampai tuntas, yakni menyerahkan nyawa. Nilai luhur inilah yang ditekankan -Nya kepada mereka sebagai ciri murid-murid yang sejati. Itulah yang akan ditunjukkan-Nya kepada mereka, yakni menyerahkan nyawa untuk ‘menjadi tebusan bagi banyak orang’ (Mat 20:28). Itulah puncak perjalanan dan kebersamaan para murid menyertai Sang Guru menuju Yerusalem.

Untuk menjadi murid-murid yang sejati memang ada nilai-nilai khusus yang harus dihayati, seperti yang dikisahkan dalam Injil: pengorbanan diri dan pelayanan tuntas. Nilai-nilai ini tentu saja sangat bertentangan dengan ‘nalar sehat’ masyarakat. Bukankah tujuan hidup manusia adalah meraih sukses, berprestasi, berkuasa, dan menjadi ‘tuan’, lalu pada gilirannya bangga akan capaian-capaian itu? Bukankah ini merupakan ‘nalar sehat’ bagi kedua bersaudara (Yakobus dan Yohanes) bersama ibu mereka itu?

Yang jelas, dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengajarkan mereka suatu kebaruan, suatu nalar sehat dengan terobosan baru. Lewat para murid, Tuhan Yesus ingin memajukan suatu peradaban baru dan kemanusiaan yang baru: bukan memerintah dan menguasai, melainkan memberikan diri dan melayani setuntasnya. Keselamatan bersama hanya bisa terwujud lewat nilai-nilai luhur ini. Inilah cawan keselamatan yang diminum oleh Tuhan Yesus dan diikuti oleh para murid, serta dilanjutkan oleh Gereja.

Henri Nouwen (1932-1996), seorang imam dan penulis produktif dalam hal-hal rohani dan masalah-masalah sosial, pernah mengajak publik untuk merenungkan makna ‘cawan’ sebagai cawan kehidupan yang penuh kesedihan dan sekaligus sukacita. Kata dia: “Bisakah kita mendapatkan cawan kita dan mengklaimnya sebagai milik kita? Bisakah kita mengangkat cawan kita untuk memberikan berkah kepada orang lain, dan dapatkah kita meminum cawan kita sampai tuntas sebagai cawan yang membawa keselamatan bagi kita?”

Pertanyaan itulah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada para murid yang mau mengikuti Dia secara konsekuen. Itulah juga bagian dari panggilan nabi Yeremia (18:18-20) dalam bacaan pertama. Tepatlah nilai-nilai keselamatan ini kita dalami juga dalam masa praspaskah ini sebagai suatu latihan rohani, karena inilah jalan keselamatan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

(RP. Raymundus Sudhiarsa, SVD – Bekerja di Seminari Tinggi SVD Surya Wacana, Malang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Sakramen rekonsiliasi: Marilah kita berdoa agar melalui sakramen rekonsiliasi, kita membarui diri lebih dalam, sehingga dapat merasakan belaskasih Allah yang tiada batasnya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perhatian pada yang pokok: Semoga umat katolik selalu belajar untuk lebih memperhatikan hal-hal yang pokok, baik jiwa maupun raga. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Dalam bulan yang dipersembahkan kepada Santo Yoseph ini, izinkanlah kami mendapat Roh, yang terbuka untuk mendengarkan Kehendak-Mu, supaya dapat mengabdi Keluarga Kudus. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s