Stop Hakimi Sesama!

Renungan Harian Misioner
Senin Prapaskah V, 22 Maret 2021
P. S. Zakarias

Dan. 13:1-9,15-17,19-30,33-62 (atau lebih singkat Dan. 13:41c-62); Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh. 8:1-11

Berhenti Menghakimi Sesama Agar Dapat Mengalami Kasih dan Penyertaan Allah

Renungan Harian Misioner dari Yung-Fo, Pengkalpinang

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom!
Kita baru saja memasuki Pekan V Masa Prapaskah, dan Firman Tuhan meyakinkan kita, bahwa kasih dan penyertaan Allah itu sungguh nyata, bahwa pengampunan dan keselamatan yang tersedia di dalam kerahiman-Nya, sungguh berlaku bagi orang-orang yang berharap kepada-Nya. Susana dalam Bacaan Pertama, dan perempuan yang menjadi terdakwa dalam Bacaan Injil mengalami penyertaan Allah, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Refrain untuk Mazmur Tanggapan hari ini. Pengalaman kedua perempuan ini, sekaligus juga merupakan undangan bagi kita semua, untuk lebih mengintrospeksi diri sebelum menjatuhkan penghakiman atau tuduhan terhadap orang lain.

1.Kasus Susana & Kuasa Penyertaan Allah lewat Daniel
Tentang kasus yang menimpa Susana, kita bisa membacanya lebih rinci dalam Kitab Daniel. Ada dua orang tua-tua yang berupaya untuk menzalimi Susana, namun tidak berhasil, dan karena itu mereka lalu membuat kesaksian palsu seolah-olah Susana telah melakukan dosa melawan kemurnian dan perbuatan melawan Tuhan (Daniel 13:21).

Kesaksian palsu ini mengancam nyawa Susana, dan Tuhan tidak membiarkan orang yang setia kepada-Nya harus menanggung akibat dari dosa yang tidak dilakukannya. Melalui Daniel, Allah merancang tindakan penyelamatan bagi Susana. Kedua orang tua-tua, yang adalah penjahat yang sesungguhnya, diinterogasi, dan terbukti telah bersaksi dusta. Keduanya harus menanggung akibat dosa mereka, sementara Susana yang bertekad untuk menjaga kemurniannya di hadapan Tuhan, diselamatkan oleh-Nya melalui Roh-Nya yang bekerja lewat Daniel (Daniel 13:22-23.45.60-62).

2.Kasus perempuan yang didakwa berzinah & Kuasa Penyertaan Allah melaui Yesus Kristus
Susana dalam Bacaan Pertama telah mengalami pemenuhan janji Tuhan yang disampaikan oleh Pemazmur, bahwa Tuhan menyertai orang-orang yang berseru kepada-Nya dan mengandalkan pertolongan-Nya (Mazmur 23:4).

Pengalaman serupa terjadi juga dengan perempuan di dalam Injil hari ini (Yohanes 8:1-11). Perempuan ini dibawa kepada Yesus dengan tuduhan, bahwa ia kedapatan berzinah. Dibandingkan dengan Susana, kasus perempuan ini menjadi lebih sulit untuk di-cross-check, karena tidak ada orang yang bisa ditanyai, seperti halnya dalam kasus Susana itu. Namun, sebagaimana Susana, perempuan ini juga dibawa ke hadapan Yesus untuk diadili dan dihukum mati dengan lemparan batu (Yohanes 8:5).

Melalui Yesus, seperti halnya Susana melalui Daniel, perempuan ini juga mendapatkan kesempatan untuk mengalami bagaimana kuasa penyertaan Allah bekerja baginya pada saat nyawanya terancam maut. Kata-kata Yesus (Yohanes 8:7) membuat semua tuntutan terhadap perempuan ini gugur, dan tak seorangpun yang berani menjatuhkan hukuman kepadanya (Yohanes 8:9). Akhirnya, sebagai ganti “menghukum”, Yesus memberikan kesempatan kedua kepada perempuan itu lewat Sabda Pengampunan-Nya ini, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang” (Yohanes 8:11b).

3.Undangan untuk “menengok ke dalam diri sendiri”
Menghadapi kasus perempuan yang didakwah “berzinah” itu, orang-orang sudah datang sambil membawa batu dengan nafsu untuk menghukum perempuan itu. Mereka memaksa Yesus untuk berpihak pada mereka, dan dengan segera menjatuhkan hukuman. Tetapi Yesus menunjukkan keberpihakan kepada semua yang terlibat di dalam kasus ini, baik perempuan itu maupun orang-orang yang dengan penuh nafsu mau merajam dia.

Kata-kata Yesus, “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yohanes 8:7b). Kata-kata ini menunjukkan keberpihakan Yesus kepada kedua pihak yang berperkara. Kepada perempuan itu, Yesus tidak menghukumnya, melainkan mengampuni dia dan memberinya kesempatan untuk hidup baru di dalam Allah (Yohanes 8:10-11).

Apakah Yesus juga berpihak kepada orang-orang yang datang dengan nafsu untuk menghabisi perempuan itu? Jelas, bahwa Yesus memutus rantai penghakiman, yang membuat orang cenderung untuk lebih memperhatikan kekurangan dan dosa-dosa orang lain, dari pada memperbaiki kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Dengan Firman-Nya dalam Yohanes 8:7b tersebut di atas, Yesus memaksa orang-orang yang telah datang dengan nafsu untuk menghukum perempuan itu, untuk berbalik dari cara pandang yang cenderung menghakimi orang lain, untuk beralih kepada introspeksi diri sendiri. Dengan tidak melempari perempuan itu, mereka seperti kesetrum listrik yang mengalir dari Firman Tuhan (Yohanes 8:7b) yang membuka mata mereka dan menyadari bahwa merekapun adalah orang-orang berdosa, yang layak mendapatkan hukuman seperti perempuan itu.

Keberpihakan Yesus kepada semua yang terlibat dalam kisah Yohanes 8:1-11 ini berakhir dengan dua “hasil” yang berbeda. Untuk perempuan itu, hasilnya adalah kesadaran tentang dosa yang kemudian mendatangkan pengampunan. Sementara untuk semua yang lain, hasilnya hanya sampai kepada kesadaran bahwa mereka semua juga adalah orang-orang berdosa yang membutuhkan pengampunan. Namun mereka mundur dari hadapan Yesus dan tidak meminta pengampunan itu, sehingga mereka hanya membawa pulang kesadaran tentang diri mereka sebagai pendosa tersebut. Kesadaran dan penemuan diri sebagai orang berdosa, harus diselesaikan dengan datang kepada Yesus untuk memohon ampun kepada-Nya. Dan pengampunan inilah yang tersedia secara melimpah sepanjang Masa Puasa ini. Jadi, luangkan waktumu untuk berdamai dengan sesamamu dan dengan Tuhan Allahmu. Sebab Dia tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannya. Amin (RMG).

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Sakramen rekonsiliasi: Marilah kita berdoa agar melalui sakramen rekonsiliasi, kita membarui diri lebih dalam, sehingga dapat merasakan belaskasih Allah yang tiada batasnya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perhatian pada yang pokok: Semoga umat Katolik selalu belajar untuk lebih memperhatikan hal-hal yang pokok, baik jiwa maupun raga. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Dalam bulan yang dipersembahkan kepada Santo Yoseph ini, izinkanlah kami mendapat Roh, yang terbuka untuk mendengarkan Kehendak-Mu, supaya dapat mengabdi Keluarga Kudus. Kami mohon…

Amin

One thought on “Stop Hakimi Sesama!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s