Karya Misi Sebagai Pemberian Diri

Renungan Harian Misioner
Selasa, 18 Mei 2021
P. S. Yohanes I

Kis. 20:17-27; Mzm. 68:10-11,20-21; Yoh. 17:1-11a

Memahami Doa Yesus dalam kerangka pelayanan misi Rasul Paulus

RenHar Misioner-KKI dari Yung-Fo, Pangkalpinang

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom!
Kita jumpa kembali hari ini untuk merenungkan Karya Misa, yaitu “pemberitaan tentang pribadi, sikap dan tindakan berikut hidup dan ajaran Tuhan kita Yesus Kristus, khususnya tentang kebangkitan-Nya pada Hari Minggu Paskah pagi, yang menjadi jaminan kebangkitan kepada hidup yang kekal bagi semua orang yang percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat (Yoh. 17:8).

Firman Tuhan yang menjadi Bacaan kita pada hari ini, baik Bacaan I (Kis. 20:17-27) maupun Bacaan Injil (Yoh. 17:1-11a) menegaskan kepada kita, bahwa “karya misi” seperti yang kita maksudkan pada alinea pertama di atas merupakan sebuah “karya penyelamatan atas umat manusia” dengan “pemberian diri” sebagai syaratnya. Karya ini dimulai oleh Allah Bapa melalui Tuhan kita Yesus Kristus sendiri, yang selanjutnya dipercayakan Yesus kepada para murid-Nya, dan oleh para murid Yesus, karya ini diteruskan kepada murid-murid dari para murid Yesus tersebut, hingga akhirnya sampai kepada saudara dan saya, untuk diteruskan lagi hingga mencapai semua orang dari segala bangsa dan bahasa yang percaya kepada-Nya.

Dalam renungan ini, kita akan melihat bagaimana “karya misi sebagai pemberian diri” ini bermula dari Allah Bapa melalui Tuhan kita Yesus Kristus, dan kemudian berlanjut kepada Rasul Santo Paulus, dan bagaimana refleksinya bagi pemberian diri kita sebagai pengikut Kristus dewasa ini?

1.Dari Bapa kepada Tuhan kita Yesus Kristus
Karya Misi sebagai “pemberian diri” ini mengalir dari Bapa kepada Putera-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, dan terus mengalir hingga mencapai diri kita semuanya. Di dalam DOA YESUS untuk para murid-Nya, yang kita baca dari Injil Yohanes hari ini, langkah-langkah dan proses pemberian diri di dalam karya misi ini ternyata berkesinambungan secara runtut. Pertama: “Bapa memberikan kuasa” atas segala yang hidup kepada Yesus Kristus, Putera-Nya. Kedua: “Bapa juga memberikan juga orang-orang” kepada Sang Putera ini supaya mereka mengenal Dia. Ketiga: Bapa memberikan pekerjaan untuk diselesaikan oleh Sang Putera ini selama hidupnya sebagai manusia di atas bumi ini. Keempat: Bapa juga memberikan kemuliaan kepada Tuhan kita Yesus Kristus, Putera-Nya.

Selanjutnya, kepada para murid-Nya, atau dalam teks Yohanes disebut sebagai orang-orang milik-Nya Bapa, “Tuhan kita Yesus Kristus memberikan Firman Allah”, yang Yesus terima dari Bapa-Nya. Pemberian Firman dari Bapa melalui Yesus Kristus kepada para murid-Nya itu, kemudian melahirkan dalam diri mereka “pengenalan akan Allah Bapa dan iman kepada Yesus Kristus (Yoh. 17:6-8). Selain memberikan Firman dari Allah, Bapa-Nya, “Tuhan kita Yesus Kristus menerima para murid-Nya itu sebagai milik-Nya, dan kepada mereka Dia memberikan doa, agar para murid tersebut dapat tetap tinggal sebagai milik Bapa dan Putera-Nya ini hingga selamanya (Yoh. 17:9-11).

Dalam terang Injil Yohanes 1:1-17, dapat kita katakan bahwa tindakan Yesus dengan memberikan Firman dari Bapa kepada para murid-Nya itu sesungguhnya adalah pemberian seluruh pribadi dan hidup Tuhan kita Yesus Kristus sendiri, baik ke-Allahan-Nya maupun kemanusiaan-Nya, baik hidup dan karya-Nya, serta wafat dan kebangkitan-Nya. Dan melalui doa-Nya kepada Bapa bagi para murid-Nya itu, Yesus menghendaki supaya selama berada di dalam dunia ini, para murid itu diberi-Nya identitas mereka sebagai milik Allah, sebagai orang-orang yang bukan dari dunia ini, yang bisa saja dapat mengalami perlawanan dan bahkan permusuhan dari dunia, sebagaimana yang dialami Yesus sendiri (Yoh. 17:14).

Selain memberikan Firman dari Bapa dan doa bagi para murid-Nya, Yesus juga memberikan Nama Bapa-Nya kepada para murid, dan melalui Nama Bapa-Nya itu, Yesus juga memberikan pemeliharaan-Nya atas hidup dan pelayanan para murid tersebut, dan untuk karya misi yang akan dikerjakan oleh para murid-Nya itu, Yesus memberikan diri serta kekudusan-Nya (Yoh. 17:11b – 12.14-19).

2.Dari Yesus melalui Paulus kepada para bangsa
Dalam terang “karya misi sebagai pemberian diri Yesus kepada Allah dan kepada umat manusia melalui para murid-Nya,” kita menemukan hal yang menarik, bahwa kehidupan para murid Yesus ini, sesungguhnya adalah semacam “replay” atau “putar ulang kehidupan Yesus” melalui “pribadi dan hidup serta sikap dan tindakan para murid Yesus.” Pengalaman ini antara lain nampak dalam diri Paulus dan karya misi yang dia lakukan, seperti yang kita ketahui dari Bacaan Pertama hari ini. Artinya bahwa apa yang terjadi dan telah dialami oleh Yesus, harus terjadi juga dalam diri para murid-Nya. Yesus menegaskan hal ini ketika Dia berfirman, “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya atau seorang hamba tidak lebih dari pada tuannya” (Mat. 10:24-25).

Nah, apa saja “replay” atau “putar ulang pemberian diri Yesus” yang kita temukan dalam diri Paulus dalam kata-kata perpisahannya dengan jemaat di Miletus? Sama seperti Yesus melayani Bapa dengan seluruh hidupnya, demikian juga Paulus melayani Yesus dengan seluruh hidupnya. Hal yang sama juga nampak dalam pelayanan Paulus kepada jemaat yang dipercayakan kepadanya (Kis. 20:18-21).

Di dalam melaksanakan karya misinya, Paulus mengikuti Yesus, yakni memberi diri untuk sepenuhnya dipimpin oleh kehendak Allah dan Roh Allah (Kis. 20:22). Dan Paulus juga menerima bahwa seperti yang telah dialami oleh Yesus, dirinyapun siap sedia untuk menghadapi perlawanan dari dunia, asal saja dirinya dapat melaksanakan tugas-pelayanan atau karya misi yang dipercayakan kepadanya (Kis. 20:23-24). Pada akhirnya, kesetiaan Yesus yang total kepada kehendak Bapa-Nya (Mat. 26:39-42), Pauluspun patuh seutuhnya untuk melakukan kehendak Allah (Kis. 20:27).

3.Refleksi kecil untuk saudara dan saya
Seperti halnya hidup dan karya Paulus merupakan sebuah “replay” atau “putar ulang” dari “pemberian diri Yesus sendiri,” bagaimana dengan hidup dan karya kita, sikap dan tingkah-laku kita sebagai para murid Yesus di zaman ini? Adakah orang-orang di sekitar kita menemukan jejak-jejak kehidupan Yesus berikut sikap dan tindakan-Nya di dalam diri kita ketika kita berinteraksi dengan sesama kita? Selamat berefleksi, Tuhan Yesus memberkati. [RMG].

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dunia Keuangan: Marilah kita berdoa bagi mereka yang bertanggung jawab dalam keuangan agar bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatur bidang keuangan dan melindungi warga dari bahaya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para buruh: Semoga pemerintah dan pengusaha dapat segera menemukan jalan untuk mengatasi krisis pengangguran dan berusaha untuk sedapat mungkin mencegah terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah menjadikan Santo Yoseph pelindung para pekerja kami, sehingga mampu melaksanakan tugas mereka dalam keluarga dan masyarakat luas, sehingga menemukan kebahagiaan dalam tugas mereka. Kami mohon…

Amin

One thought on “Karya Misi Sebagai Pemberian Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s