Yesus & Kesesatan Narasi Kaum Saduki tentang Surga & Hidup Perkawinan

Renungan Harian Misioner
Rabu, 02 Juni 2021
P. S. Marselinus dan Petrus

Tb. 3:1-11a,16-17a; Mzm. 25:2-4a,4b-5ab,6-7bc,8-9; Mrk. 12:18-27

RenHar Misioner dari Yung-Fo, Pangkalpinang

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom!
Selamat datang ke dalam Hari Kedua Bulan Juni Tahun 2021. Secara Liturgis, kita berada dalam Masa Biasa Tahun B/I di mana Firman Tuhan menghadirkan kepada kita sejumlah narasi tentang kehidupan perkawinan dan keluarga. Ternyata ada narasi yang sesat tentang kehidupan perkawinan dan keluarga ini. Di dalam dialog dengan orang-orang Saduki, Tuhan kita Yesus Kristus mengekspos kesesatan narasi yang mereka sampaikan dengan maksud untuk menjebak Dia, sekaligus mengubah “jebakan naratif” itu dan menjadikannya sebagai kesempatan untuk memberikan narasi yang benar, narasi Kristiani tentang kehidupan perkawinan dan keluarga tersebut. Mari kita ikuti sambil berdoa bagi semua mereka yang telah menempuh “panggilan hidup sebagai bapa dan ibu dalam keluarga” agar mereka dapat menghayatinya sesuai dengan rancangan dan kehendak Allah!

1.Pengalaman pahit keluarga Tobit
Firman Tuhan dalam Bacaan Pertama hari ini menyajikan pengalaman pahit yang menimpa keluarga Tobit. Pengalaman yang serupa, terjadi juga di dalam keluarga Raguel di kota Ekbatana. Sara, puteri Raguel ini, telah diperisterikan kepada tujuh pria. Tetapi mereka semua dibunuh oleh Asmodeus, setan jahat, sebelum Sara bersatu dengan mereka sebagaimana layaknya seorang isteri (Tobit 3:8a). Sebagai seorang yang taat kepada Allah, Tobit senantiasa membawa masalah puterinya ini dalam doa kepada Tuhan. Keluarga Tobit dan keluarga Raguel membuktikan diri bahwa mereka adalah orang-orang yang taat beragama dan merawat relasi mereka dengan Allah.

Berbanding terbalik dengan relasi yang mereka miliki terhadap Allah, relasi mereka dengan sesama justru dipenuhi dengan pengalaman yang buruk. Sara, puteri Raguel ini telah berulang-kali gagal membangun keluarga, dan hampir saja mengakhiri hidupnya, karena tidak tahan menghadapi olok-olokan orang (Tobit 3:10-11). Sebagai ganti “menyerah kepada olok-olokan orang”, Sara mengikuti teladan keluarganya, dan menyerahkan perkaranya kepada Allah (Tobit 3:11a-13). Doanya dikabulkan, dan Tuhan mempertemukan Sara dengan Tobia, putera Tobit.

Melalui “narasi tentang perkawinan Sara dan Tobia” ini, kita menemukan, bahwa Tuhan Allah tidak pernah meninggalkan siapapun yang senantiasa mencari pertolongan-Nya. Ketujuh kegagalan Sara dan keluarganya dalam hidup perkawinan sebelumnya, menunjukkan bahwa sekalipun perkawinan merupakan “urusan duniawi,” namun Tuhan Allahlah yang sesungguhnya merancang kehidupan perkawinan itu bagi orang-orang milik-Nya. Belenggu Asmodeus yang bertahun-tahun membelenggu Sara dilepaskan oleh Tuhan, dan kebutaan Tobit dipulihkan oleh malaikat-Nya, Rafael (Tobit 3:16-17).

2.Narasi “sesat” orang-orang Saduki tentang surga dan kehidupan perkawinan
Orang-orang Saduki adalah golongan yang tidak percaya akan kebangkitan orang mati (Kisah 23:8). Karena itu, untuk menolak ajaran tentang kebangkitan orang mati, mereka menciptakan narasi tentang seorang perempuan menikahi tujuh orang bersaudara, satu sesudah yang lain pasangan yang dinikahinya meninggal dunia. Narasi ini ditutup dengan pertanyaan ini, “Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami wanita itu” (Markus 12:20-23). Supaya narasi ini menjadi lebih dahsyat dayanya untuk menjebak Yesus dan mengolok-olok ajaran tentang kebangkitan orang mati, orang-orang Saduki itu menghubungkannya dengan Hukum Musa dan dengan hari kebangkitan (Markus 12:19. 23).

3.Narasi sejati tentang surga dan kehidupan perkawinan
Terhadap narasi mengenai perkawinan dan kehidupan keluarga yang kisah seorang perempuan yang menikahi ketujuh bersaudara tersebut di atas, Yesus menegaskan “di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin atau dikawinkan, mereka hidup seperti malaikat di surga” (Markus 12:25).

Kepada kaum Saduki dan siapapun, yang mengajarkan bahwa di masa kebangkitan orang mati, atau di surga, ada perkawinan, oleh Yesus ditegaskan sebagai “ajaran sesat,” dan orang-orang yang mengajarkan hal itu, dikategorikan sebagai “orang-orang yang tidak mengerti Kitab suci dan kuasa Allah” (Markus 12:25). Kehidupan keluarga dan perkawinan terikat dengan “sisi korporal-ragawi manusia”, sedangkan surga dan kebangkitan orang mati adalah ‘sisi surgawi-spiritual manusia.” Kehidupan di dalam dimensi spiritual (surga) adalah kehidupan yang kekal di mana orang-orang hidup seperti para malaikat, mereka adalah makhluk rohani yang tidak dapat mati lagi. Sementara kehidupan di dalam dimensi korporal-ragawi adalah kehidupan yang bersifat sementara, ketika nafas seseorang berhenti di situlah kehidupannya dan berakhir jugalah ikatan perkawinannya.

Sekalipun terikat dengan kehidupan korporal-ragawi manusia, namun kehidupan pernikahan merupakan panggilan kepada kesucian: para suami dan isteri dipanggil untuk menghadirkan Kristus dan kasih-Nya dalam relasi mereka satu terhadap yang lain (Efesus 5:22-33). Doa kita bagi para pasutri yang Katolik, semoga mereka mampu menghadirkan Yesus Kristus dan kasih-Nya satu kepada yang lain, baik di dalam lingkup keluarga maupun di dalam jemaat dan masyarakat. Amin [RMG].

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keindahan Perkawinan: Marilah kita berdoa bagi kaum muda yang sedang mempersiapkan perkawinan dengan dukungan komunitas Kristiani: semoga mereka bertumbuh dalam cinta, dengan kemurahan hati, kesetiaan dan kesabaran. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pegiat dan pengguna media sosial: Semoga semua pegiat dan pengguna media sosial dikaruniai keutamaan untuk dapat terus berkreasi menebarkan hal-hal positif dan terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berkenanlah memberi kami hati, seperti Hati Putera dari Bapak Yoseph, untuk mengambil bagian secara tulus dalam membangun Paguyuban Umat Beriman dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s