Pesan Paus untuk Hari Orang Miskin Sedunia 2021

“Orang miskin akan selalu ada padamu”

(Mrk 14:7)

[1] “Orang miskin akan selalu ada padamu” (Mrk 14:7). Yesus mengucapkan kata-kata ini saat makan di Betania, di rumah seorang Simon, yang dikenal sebagai si kusta, beberapa hari sebelum Paskah. Sebagaimana diceritakan Penginjil, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya dan dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus. Hal ini menimbulkan keheranan yang luar biasa dan memunculkan dua penafsiran yang berbeda.

Penafsiran pertama adalah kegusaran beberapa orang yang hadir, termasuk para murid, yang, mengingat nilai minyak urapan – sekitar 300 dinar, setara dengan gaji tahunan seorang pekerja – berpendapat minyak itu seharusnya dijual dan hasilnya diberikan kepada orang miskin. Dalam Injil Santo Yohanes, Yudas mengambil posisi ini: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Santo Yohanes melanjutkan dengan mencatat bahwa “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya” (12:5-6). Bukan kebetulan bahwa kritik keras ini datang dari mulut sang pengkhianat: itu menunjukkan mereka yang tidak menghormati orang miskin mengkhianati ajaran Yesus dan tidak bisa menjadi murid-Nya. Origenes berkata keras sehubungan dengan hal ini : “Yudas tampaknya peduli dengan orang miskin… Jika di zaman kita sekarang ada yang memegang kas Gereja dan, seperti Yudas, berbicara mewakili orang miskin, tetapi kemudian mengambil apa yang mereka simpan, biarlah mereka ambil bagian dalam nasib Yudas” (Ulasan Injil Matius, 11, 9).

Penafsiran kedua adalah tentang Yesus yang membuat kita menghargai makna mendalam dari tindakan perempuan tersebut. Ia berkata, “Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku” (Mrk 14:6). Yesus tahu bahwa kematian-Nya semakin dekat, dan Ia melihat dalam tindakan perempuan tersebut sebagai tindakan awal pengurapan tubuh-Nya yang tak bernyawa sebelum ditempatkan di dalam kubur. Hal ini melampaui apa pun yang bisa dibayangkan oleh orang lain yang hadir. Yesus sedang mengingatkan mereka bahwa Ia adalah orang pertama dari kaum miskin, orang yang paling miskin dari kaum miskin, karena Ia mewakili mereka semua. Demi kaum miskin, kaum yang kesepian, kaum yang terpinggirkan dan korban diskriminasi, Putra Allah menerima sikap perempuan itu. Dengan kepekaan seorang perempun, ia sendiri mengerti apa yang sedang dipikirkan Tuhan. Perempuan tanpa nama itu, yang mungkin dimaksudkan untuk mewakili semua perempuan yang selama berabad-abad dapat dibungkam dan menderita kekerasan, dengan demikian menjadi perempuan pertama yang hadir secara berarti pada saat-saat puncak kehidupan Kristus: penyaliban, kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya. Kaum perempuan, yang begitu sering didiskriminasi dan dikucilkan dari posisi tanggung jawab, terlihat dalam Injil memainkan peran utama dalam sejarah pewahyuan. Yesus kemudian menghubungkan perempuan itu dengan perutusan besar penginjilan: “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Mrk 14:9).

[2] “Empati” yang kuat yang dibangun antara Yesus dan perempuan tersebut, dan penafsiran-Nya atas pengurapan perempuan tersebut yang berlawanan dengan pandangan tercela Yudas dan orang-orang lainnya, dapat mengarah pada refleksi yang bermanfaat tentang hubungan yang tak terpisahkan di antara Yesus, orang miskin dan pewartaan Injil.

Wajah Allah yang diwahyukan oleh Yesus adalah wajah seorang Bapa yang peduli dan dekat dengan orang miskin. Dalam segala hal, Yesus mengajarkan bahwa kemiskinan bukanlah akibat dari takdir, tetapi sebuah tanda nyata yang menunjukkan kehadiran-Nya di antara kita. Kita tidak menemukan-Nya kapan dan di mana pun kita inginkan, tetapi melihat-Nya dalam kehidupan orang miskin, dalam penderitaan dan kebutuhan mereka, dalam kondisi yang seringkali tidak manusiawi yang di dalamnya mereka terpaksa hidup. Sebagaimana saya tidak pernah bosan-bosannya mengulangi, orang miskin adalah penginjil sejati, karena merekalah yang pertama kali diinjili dan dipanggil untuk ambil bagian dalam sukacita Tuhan dan kerajaan-Nya (bdk. Mat 5:3).

Orang miskin, selalu dan di mana-mana, menginjili kita, karena mereka memungkinkan kita menemukan dengan cara-cara baru wajah Bapa yang sejati. “Mereka memiliki banyak hal untuk diajarkan kepada kita. Mereka tidak hanya berbagi dalam pelajaran kehidupannya, tetapi juga dalam kesulitan-kesulitan mereka, mereka mengenal Kristus yang menderita. Kita perlu membiarkan diri kita diberi pewartaan Kabar Baik oleh mereka. Penginjilan baru merupakan undangan untuk mengakui daya penyelamatan yang bekerja dalam hidup mereka dan untuk menaruh mereka di pusat jalan peziarahan Gereja. Kita dipanggil untuk menemukan Kristus di dalam diri mereka, untuk meberikan suara kita bagi perkara-perkara mereka, dan juga menjadi sahabat-sahabat mereka, mendengarkan mereka, memahami mereka dan menerima hikmat tersembunyi yang ingin disampaikan Allah kepada kita melalui mereka. Komitmen kita tidak hanya terdiri dari kegiatan-kegiatan atau program-program peningkatan dan bantuan; apa yang digerakkan oleh Roh Kudus bukanlah kegiatan yang berlebihan, melainkan terutama perhatian yang menganggap orang lain ‘sebagai salah seorang dari diri kita sendiri’. Perhatian penuh kasih ini adalah awal dari keprihatinan sejati pada pribadi mereka yang mengilhami saya secara efektif untuk mengusahakan kesejahteraan mereka” (Evangelii Gaudium, 198-199).

[3] Yesus tidak hanya memihak orang miskin; Ia juga ambil bagian dalam perkara mereka. Inilah pelajaran yang kuat bagi murid-murid-Nya di setiap zaman. Inilah makna dari pengamatan-Nya bahwa “orang miskin akan selalu ada bersamamu”. Orang miskin akan selalu bersama kita, namun hal itu seharusnya tidak membuat kita acuh tak acuh, tetapi sebaliknya memanggil kita untuk saling berbagi kehidupan yang tidak memperkenankan keterwakilan. Orang miskin bukanlah orang “di luar” komunitas kita, tetapi saudara dan saudari yang seharusnya kita ambil bagian dalam penderitaan mereka, dalam upaya untuk meringankan kesulitan dan keterpinggiran mereka, memulihkan hilangnya martabat mereka dan memastikan perlunya penyertaan sosial mereka. Di sisi lain, seperti yang kita ketahui, tindakan amal mengandaikan pemberi dan penerima, sedangkan saling berbagi menghasilkan persaudaraan. Bersedekah bersifat kadang-kadang; saling berbagi, di sisi lain, bersifat kekal. Bersedekah beresiko memuaskan orang-orang yang melakukannya dan dapat terbukti merendahkan orng-orang yang menerimanya; saling berbagi memperkuat kesetiakawanan dan meletakkan dasar yang diperlukan untuk mencapai keadilan. Singkatnya, orang-orang percaya, ketika mereka ingin melihat Yesus secara langsung dan menjamah-Nya dengan tangan mereka, tahu ke mana harus berpaling. Orang miskin adalah sakramen Kristus; mereka mewakili pribadi-Nya dan menunjuk pada-Nya.

Banyak teladan para kudus yang menjadikan saling berbagi dengan orang miskin sebagai rancangan hidup kita. Saya mengingat diantaranya, Pastor Damien de Veuster, rasul suci bagi para penderita kusta. Dengan kemurahan hati yang besar, ia menjawab panggilan untuk pergi ke Pulau Molokai, yang telah menjadi tempat tinggal para Yahudi (ghetto) yang hanya dapat diakses oleh penderita kusta, untuk hidup dan mati bersama mereka. Ia menyingsingkan lengan bajunya dan melakukan segala yang ia bisa untuk meningkatkan kehidupan mereka yang miskin, sakit dan terlantar. Ia menjadi dokter dan perawat, mengabaikan resiko yang ada, dan membawa cahaya cinta ke “koloni kematian” itu, demikian pulau itu disebut. Ia sendiri mengidap penyakit kusta, yang menjadi tanda bahwa ia sepenuhnya ambil bagian dalam nasib saudara-saudari yang telah ia berikan hidupnya. Kesaksiannya paling tepat di zaman kita yang ditandai dengan pandemi virus Corona. Rahmat Allah pasti bekerja di dalam hati semua orang yang, tanpa gembar-gembor, menghabiskan diri untuk orang yang paling miskin, berbagi dengan mereka secara nyata.

[4] Maka, kita perlu dengan sepenuh hati mengikuti undangan Tuhan untuk “bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15). Pertobatan ini terutama berupa membuka hati kita untuk mengenali berbagai bentuk kemiskinan dan mewujudkan Kerajaan Allah melalui gaya hidup yang sesuai dengan iman yang kita anut. Seringkali orang miskin dipandang sebagai orang yang terpisah, sebagai “kategori” yang membutuhkan pelayanan amal khusus. Namun mengikuti Yesus berarti mengubah cara berpikir ini serta menerima tantangan untuk saling berbagi dan terlibat. Pemuridan Kristiani memerlukan keputusan untuk tidak mengumpulkan harta duniawi, yang memberikan khayalan keamanan yang sesungguhnya rapuh dan cepat berlalu. Dibutuhkan kesediaan kita untuk terbebas dari semua halangan untuk mencapai kegembiraan dan kebahagiaan sejati, agar dapat mengenali apa yang kekal, apa yang tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun atau apa pun (bdk. Mat 6:19-20).

Di sini juga, ajaran Yesus bertentangan dengan keinginan, karena menjanjikan apa yang hanya dapat dilihat dan dialami dengan kepastian penuh oleh mata iman. “Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19:29). Jika kita memilih untuk menjadi miskin karena kekayaan yang sepintas lalu, kekuasaan dan kesombongan duniawi, maka kita tidak akan pernah bisa memberikan hidup kita dalam cinta; kita akan menjalani kehidupan yang terpenggal-penggal, penuh dengan niat baik tetapi tidak efektif untuk mengubah rupa dunia. Oleh karena itu, dengan tegas kita perlu membuka diri terhadap rahmat Kristus, yang dapat menjadikan kita saksi-saksi amal-Nya yang tak terbatas dan memulihkan kehadiran kita yang dapat dipercaya di dunia.

[5] Injil Kristus memanggil kita untuk menunjukkan perhatian khusus kepada orang miskin dan mengenali sangat beragamnya bentuk kekacauan moral dan sosial yang bahkan sedang menghasilkan bentuk-bentuk kemiskinan yang senantiasa baru. Tampaknya ada anggapan yang berkembang bahwa orang miskin tidak hanya bertanggung jawab atas kondisi mereka, tetapi bahwa mereka mewakili beban yang tidak dapat ditoleransi untuk sistem ekonomi yang berfokus pada kepentingan segelintir kelompok elit. Pasar yang mengabaikan prinsip-prinsip etika, atau mengambil dan memilih beberapa di antaranya, menciptakan kondisi yang tidak manusiawi bagi orang-orang yang sudah berada dalam situasi genting. Kita sekarang melihat terciptanya jebakan kemiskinan dan pengucilan baru, yang dibuat oleh para pelaku ekonomi dan keuangan yang tidak bermoral yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tanggung jawab sosial.

Tahun lalu kita mengalami bencana lain yang melipatgandakan jumlah orang miskin: pandemi, yang terus mempengaruhi jutaan orang dan, meskipun tidak membawa penderitaan dan kematian, tetap mengisyaratkan kemiskinan. Orang miskin telah meningkat secara tidak proporsional dan, tragisnya, mereka akan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Beberapa negara menderita konsekuensi yang sangat parah dari pandemi, sehingga orang-orang yang paling rentan kekurangan kebutuhan dasar. Antrean panjang di depan dapur umum adalah tanda nyata dari kemerosotan ini. Ada kebutuhan yang jelas untuk menemukan cara yang paling cocok guna memerangi virus di tingkat global tanpa mempromosikan kepentingan pihak tertentu. Memberikan tanggapan nyata kepada orang-orang yang menganggur, termasuk sejumlah ayah, ibu, dan kaum muda, sangatlah mendesak. Kesetiakawanan sosial dan kemurahan hati yang telah ditunjukkan oleh banyak orang, syukur kepada Allah, bersama-sama dengan proyek-proyek pengembangan manusia yang berpandangan jauh ke depan, memberikan kontribusi yang paling penting dalam keadaan seperti saat ini.

[6] Meskipun demikian, satu pertanyaan, yang sama sekali tidak jelas, tetap ada. Bagaimana kita dapat memberikan tanggapan nyata kepada jutaan orang miskin yang seringkali hanya menghadapi ketidakpedulian, jika bukan kebencian? Jalan keadilan apa yang harus diikuti agar kesenjangan sosial dapat diatasi dan martabat manusia, yang sering diinjak-injak, dapat dipulihkan? Gaya hidup individualistis terlibat dalam menghasilkan kemiskinan, dan seringkali membebani orang miskin dengan tanggung jawab atas kondisi mereka. Namun kemiskinan bukanlah hasil dari takdir; kemiskinan adalah hasil dari keegoisan. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menghasilkan proses pembangunan yang di dalamnya kemampuan semua orang dihargai, sehingga keterampilan yang saling melengkapi dan keragaman peran dapat mengarah pada sumber bersama keikutsertaan yang saling menguntungkan. Ada banyak bentuk kemiskinan di kalangan “orang kaya” yang mungkin bisa diringankan oleh kekayaan orang “miskin”, jika saja mereka bisa sa;ing bertemu dan mengenal! Tidak ada orang yang sangat miskin sehingga mereka tidak dapat memberikan sesuatu dari diri mereka sendiri untuk pertukaran yang menguntungkan. Orang miskin tidak bisa hanya merupakan orang-orang yang menerima; mereka harus ditempatkan dalam posisi memberi, karena mereka tahu betul bagaimana menanggapi dengan murah hati. Betapa banyak contoh berbagi di depan mata kita! Orang miskin sering mengajari kita tentang kesetiakawanan dan berbagi. Benar, mereka mungkin orang yang kekurangan dalam beberapa hal, seringkali banyak hal, termasuk kebutuhan pokok, namun mereka tidak kekurangan segalanya, karena mereka mempertahankan martabat anak-anak Allah dalam diri mereka yang tidak dapat diambil oleh apapun dan siapapun.

[7] Karena alasan ini, diperlukan pendekatan yang berbeda terhadap kemiskinan. Inilah tantangan yang perlu diambil oleh pemerintah dan lembaga-lembaga dunia dengan model sosial berpandangan jauh ke depan yang mampu melawan bentuk-bentuk baru kemiskinan yang sekarang sedang melanda dunia dan secara pasti akan mempengaruhi dekade-dekade mendatang. Jika orang miskin terpinggirkan, seolah-olah mereka yang harus disalahkan atas kondisi mereka, maka konsep demokrasi itu sendiri terancam dan setiap kebijakan sosial akan terbukti bangkrut. Dengan kerendahan hati yang besar, kita harus mengakui bahwa kita sering tidak kompeten dalam perkara orang miskin. Kita membicarakan mereka secara abstrak; kita berhenti pada statistik dan kita berpikir kita dapat menggerakkan hati orang-orang dengan membuat sebuah film dokumenter. Kemiskinan, sebaliknya, seharusnya memotivasi kita untuk membuat perencanaan yang kreatif, yang bertujuan untuk meningkatkan kebebasan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang berkecukupan sesuai dengan kemampuan setiap orang. Berpikir bahwa kebebasan muncul dan tumbuh melalui kepemilikan uang adalah sebuah khayalan yang seharusnya kita tolak. Melayani orang miskin secara efektif menggerakkan kita ke dalam tindakan dan memungkinkan untuk menemukan cara yang paling cocok untuk meningkatkan dan mengembangkan bagian kemanusiaan ini yang terlalu sering tidak diketahui dan tidak bersuara, tetapi yang telah tercetak di atasnya wajah Sang Juruselamat yang memohon pertolongan kita.

[8] “Orang miskin akan selalu ada padamu” (Mrk 14:7). Inilah panggilan agar jangan pernah melupakan setiap kesempatan untuk berbuat baik. Di belakangnya, kita dapat melihat sekilas perintah kuno yang terdapat dalam Kitab Suci: “Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin… janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan… apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu…” (Ul 15:7-8,10-11). Dalam nada yang sama, Rasul Paulus mendesak umat Kristiani komunitasnya untuk datang membantu orang miskin komunitas perdana Yerusalem dan melakukannya “jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor 9:7). Ini bukan masalah meringankan hati nurani kita dengan memberi sedekah, tetapi menentang budaya ketidakpedulian dan ketidakadilan yang telah kita ciptakan terhadap orang miskin.

Dalam konteks ini, kita sebaiknya mengingat kata-kata Santo Yohanes Krisostomus: “Orang-orang yang murah hati seharusnya tidak meminta pertanggungjawaban atas perilaku orang miskin, tetapi hanya memperbaiki kondisi kemiskinan mereka dan memenuhi kebutuhan mereka. Orang miskin hanya memiliki satu permohonan: kemiskinan mereka dan kondisi membutuhkan yang mereka temukan di dalam diri mereka. Jangan meminta apa pun dari mereka; tetapi bahkan jika mereka adalah orang yang paling jahat di dunia, jika mereka kekurangan makanan yang diperlukan, marilah kita bebaskan mereka dari kelaparan. … Orang yang berbelas kasihan laksana pelabuhan bagi orang yang membutuhkan: pelabuhan menyambut dan membebaskan dari bahaya semua orang yang kapalnya karam; entah mereka pelaku kejahatan, orang baik, atau apa pun mereka, pelabuhan melindungi mereka di dalam jalan masuknya. Kamu juga, oleh karena itu, ketika di darat kamu melihat seorang pria atau wanita yang menderita karamnya kapal kemiskinan, jangan menghakimi, jangan meminta pertanggungjawaban atas perilaku mereka, tetapi bebaskan mereka dari kemalangan mereka” (Ceramah tentang Lazarus Si Miskin, II, 5).

[9] Menumbuhkan kesadaran kita akan kebutuhan orang miskin, yang selalu berubah, seperti halnya kondisi kehidupan mereka, sangatlah penting bagi kita. Saat ini, pada kenyataannya, di daerah-daerah yang lebih maju secara ekonomi di dunia, orang-orang kurang bersedia menghadapi kemiskinan dibandingkan di masa lalu. Keadaan kita yang telah terbiasa relatif makmur membuat kita semakin sukar untuk menerima pengorbanan dan kekurangan. Orang-orang siap untuk melakukan apa saja daripada kehilangan buah-buah perolehan yang mudah. Akibatnya, mereka jatuh ke dalam bentuk kebencian, kegugupan dan tuntutan yang mengarah pada ketakutan, kecemasan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Ini bukan cara untuk membangun masa depan kita; sikap-sikap itu sendiri merupakan bentuk-bentuk kemiskinan yang tidak dapat kita abaikan. Kita perlu terbuka untuk membaca tanda-tanda zaman yang meminta kita menemukan cara-cara baru untuk menjadi penginjil di dunia masa kini. Bantuan langsung dalam menanggapi kebutuhan orang miskin tidak boleh menghalangi kita untuk menunjukkan kejelian dalam menerapkan tanda-tanda baru kasih dan amal Kristiani sebagai tanggapan terhadap bentuk-bentuk baru kemiskinan yang dialami umat manusia saat ini.

Saya mengharapkan agar perayaan Hari Orang Miskin Sedunia, yang sekarang memasuki tahun kelima, akan tumbuh di Gereja-Gereja lokal kita dan mengilhami gerakan penginjilan yang bertemu secara pribadi dengan orang miskin di mana pun mereka berada. Kita tidak bisa menunggu orang miskin mengetuk pintu kita; kita perlu segera menjangkau mereka di rumah mereka, di rumah sakit dan panti jompo, di jalan-jalan dan di sudut-sudut gelap tempat mereka terkadang bersembunyi, di tempat penampungan dan pusat penerimaan. Pentingnya memahami bagaimana perasaan mereka, apa yang sedang mereka alami, dan apa yang diinginkan hati mereka. Marilah kita jadikan permohonan kita yang tulus permohonan Pastor Primo Mazzolari: “Aku mohon kepadamu untuk tidak menanyakan kepadaku apakah ada orang miskin, siapa dan berapa banyak mereka, karena saya khawatir pertanyaan-pertanyaan itu mewakili gangguan atau dalih untuk menghindari seruan yang jelas kepada hati nurani kita… Aku tidak pernah menghitung orang miskin, karena mereka tidak dapat dihitung: orang miskin harus dipeluk, bukan dihitung” (“Adesso” no. 7 – 15 April 1949). Orang miskin hadir di tengah-tengah kita. Betapa injilnya jika kita dapat mengatakan dengan segenap kebenaran: kita juga miskin, karena hanya dengan cara ini kita benar-benar dapat mengenali mereka, menjadikan mereka bagian dari hidup kita dan sarana keselamatan kita.

Roma, Santo Yohanes Lateran,

13 Juni 2021, Peringatan Santo Antonius dari Padua

.

FRANSISKUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s