Kita Menjadi Berarti Jika Orang Terpesona Kepada Allah

Renungan Harian Misioner
Rabu, 16 Juni 2021
P. S. Yulita, S. Cyriacus

2Kor. 9: 6-11; Mzm. 112:1-2,3-4,9; Mat. 6:1-6,16-18

Dalam dunia saat ini, manusia terus digodai oleh kemahakuasaan media komunikasi massa yang dapat menimbulkan dorongan untuk mencari eksistensi diri melalui penilaian orang lain pada diri. Namun, bagi manusia Kristiani, sedekah, doa dan puasa adalah tiga kewajiban keagamaan yang menguraikan relasi kita dengan: orang lain, Allah dan harta-benda. Relasi inilah yang membentuk eksistensi kita, apakah kita menghayati kebenaran kita sebagai anak-anak Allah yang menggenapi, atau sebaliknya melalaikan kebenaran Allah. Kita eksis (existence: keber-ada-an) jika dalam hidup, kita ada dengan hadir, melakukan sesuatu, dan keberadaan itu dapat dirasakan oleh orang lain. Namun penting untuk membedakan apakah kita melakukan sesuatu hanya untuk dilihat orang ataukah agar diri kita berkenan kepada Tuhan? Karena hidup keagamaan selalu bisa berisiko menjadi suatu pertunjukan untuk tujuan eksistensi diri. Itu sebabnya Paulus mengingatkan agar kita jangan menjadi hamba dari penilaian orang lain atau untuk menyenangkan hati orang saja, melainkan sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah (Ef. 6:6).

1.Sedekah
Memberi sedekah adalah keadilan ‘wajib’ bagi semua anak Allah, sebagai sesama saudara satu dengan lainnya. Anak Manusia akan mengakui kita di hadapan Bapa, jika kita melayani-Nya di dalam diri saudara yang paling hina dengan memberi menurut kerelaan hati kita, dengan bebas dan tangan terbuka, dengan sukacita dan wajah ceria, dengan ucapan syukur karena Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kita sehingga kita sanggup berbagi dan memberi kepada orang yang miskin dan menderita (Mat. 25:31-46; 2Kor. 9:7-8; Mzm. 112:9). Bila kita bersedekah dengan keinginan untuk tampil atau pamer, maka hidup kita menjadi suatu penyembahan berhala kepada ego kita. Sadari bahwa menurut Kitab Suci, benda-benda dunia diperuntukkan bagi semua orang, dan segala benda itu disediakan oleh Allah untuk menumbuhkan buah kebenaran dan kemurahan hati kita yang berujung pada ucapan syukur kepada Allah.

2.Doa
Doa adalah tindakan nalar tertinggi di mana kita menelusuri keterbatasan kita, mengenali diri sendiri dan Allah yang daripada-Nya kita berasal. Berdoa berarti menjadi diri kita apa adanya, diam di hadapan Allah sebagai gambar dan rupa-Nya, makhluk terbatas yang terbuka pada Allah Yang Tak Terbatas. Berdoa bukan mencari diri sendiri untuk pamer di hadapan Allah, tetapi mengosongkan diri untuk dipenuhi oleh Allah Sang Pelaku Doa yang benar. Berdoa adalah masuk ke dalam ‘kamar’, tempat terdalam diri kita yaitu hati; di sini seseorang berada sebagai dirinya sendiri dalam persatuan dengan Allah dan semua orang. Doa bukanlah teknik dan rumusan-rumusan, melainkan relasi yang terbentuk oleh sikap hati yang benar dan cinta dalam dialog dengan Allah untuk menemukan apa yang berkenan pada-Nya tanpa banyak kata. Dalam doa kita menceritakan seluruh diri kita di hadapan Allah, bukan semata-mata ingin didengarkan oleh Allah, tetapi justru kitalah yang mesti mendengarkan Dia, menghadap pada-Nya dengan percaya dan berserah diri bahwa kita akan memperoleh segalanya, karena doa membimbing kita untuk menginginkan apa yang Allah ingin berikan kepada kita. Keberadaan, pikiran dan tindakan kita menjadi ilahi.

3.Puasa
Puasa menandakan keprihatinan dan pertobatan. Berpuasa mengajar kita mengerti bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, karena yang terutama hanya Allah dan Firman-Nya. Puasa itu perlu untuk pengendalian diri, untuk mempergunakan benda-benda seperlunya demi mengasihi Allah dan sesama, bukan menjadi budaknya. Dengan berpuasa kita semakin mengenali Anak Manusia yang menerima segalanya dari Bapa, termasuk diri kita sebagai milik-Nya. Akhirnya, puasa yang mutlak di hadirat Allah adalah kematian, di mana kita bebas berjalan menuju kebahagiaan kekal yang kepada-Nya kita dipanggil.

Apabila kita terus merasa minder, maka sedekah, doa dan puasa bisa dilandasi motivasi yang salah untuk mengesankan orang lain demi pengakuan yang fana. Kita tidak perlu mencari perhatian atau pengakuan dari siapapun termasuk dari diri sendiri. Sebaliknya, semua itu harus dilakukan dengan benar supaya tidak membuat orang lain terkesan pada kita, melainkan terpesona pada Allah. Kita sendiri hanya perlu perhatian dari Bapa yang melihat hati yang tersembunyi, yang oleh iman kita, Kristus tinggal di dalam-Nya (Ef. 3:16-17). Di dalam hati, Bapa di surga melihat apakah yang kita lakukan hanya untuk pamer atau tulus untuk memuliakan Dia. Di hati ini juga, kita selalu berada di hadapan Bapa sebagai diri kita apa adanya dan sebagai anak dari Allah Bapa yang melihat dan mencintai kita, menjadikan kita berarti. (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keindahan Perkawinan: Marilah kita berdoa bagi kaum muda yang sedang mempersiapkan perkawinan dengan dukungan komunitas Kristiani: semoga mereka bertumbuh dalam cinta, dengan kemurahan hati, kesetiaan dan kesabaran. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pegiat dan pengguna media sosial: Semoga semua pegiat dan pengguna media sosial dikaruniai keutamaan untuk dapat terus berkreasi menebarkan hal-hal positif dan terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berkenanlah memberi kami hati, seperti Hati Putera dari Bapak Yoseph, untuk mengambil bagian secara tulus dalam membangun Paguyuban Umat Beriman dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s