Ketika Cinta Harus Memilih

Renungan Harian Misioner
Kamis, 01 Juli 2021
P. S. Teodorikus

Kej. 22:1-19; Mzm. 116:1-2,3-4,5-6,8-9; Mat. 9:1-8

Kisah orang lumpuh yang disembuhkan Yesus hari ini adalah awal dari serangkaian kejadian menakjubkan dalam bab ini, yang menunjukkan betapa berkuasa dan berbelaskasihannya Tuhan Yesus. Penyembuhan si orang lumpuh membawa kita untuk memperhatikan bahwa Yesus melihat iman mereka: si lumpuh dan teman-teman yang membawanya. Iman yang kuat, percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan si lumpuh, sehingga mereka tidak ragu membawa si sakit itu dengan segala kerepotannya. Iman mereka juga iman yang rendah hati, bukannya meminta Kristus datang, dalam kelumpuhannya dia yang berusaha datang menjumpai Yesus. Begitulah iman yang bekerja dalam diri orang yang percaya terhadap kuasa dan kebaikan Kristus, mereka tidak peduli dengan berbagai rintangan untuk segera datang kepada Kristus.

Hal berikutnya yang menjadi perhatian utama adalah belas kasih Kristus. Dalam kalimat, “Percayalah, hai anak-Ku dosamu sudah diampuni,” terkandung sapaan yang memulihkan orang yang sedang sakit, memberi rasa nyaman, meringankan beban dan sekaligus membangkitkan semangatnya. Tidak adanya perkataan dari mereka yang mengantar maupun yang sakit, juga menunjukkan bahwa Allah selalu aktif memberi perhatian kepada manusia yang membutuhkan belas kasihan-Nya. Dia lebih mengetahui kebutuhan kita yang terdalam, yaitu: bukan hanya kesembuhan fisik yang lumpuh tetapi lebih kepada kesembuhan jiwa yang lumpuh karena dosa yang membelenggu. Pengampunan dosa membebaskan dan memulihkan kesehatan jasmani dan jiwa kita (lih. Mzm. 32).

Dalam hukum keagamaan Yahudi, pengampunan menuntut langkah: pertobatan, pengakuan dosa, persembahan/korban penebus salah, dan pengampunan dosa (absolusi). Namun Yesus tidak menuntut orang melakukan hanya kewajiban keagamaannya, Dia segera memberikan pengampunan dosa, serta menghapus dosanya sehingga orang itu mampu bertobat! Belas kasih Allah melulu hanya anugerah, inilah logika iman yang bertolak belakang dengan logika agama yang menuntut balas jasa apabila sudah memenuhi syarat tertentu.

Mengampuni adalah kuasa dan wewenang Allah. Allah menganugerahi kita anak-anak-Nya dengan pengampunan yang cuma-cuma dan kasih tanpa pamrih. Jika menerima pengampunan adalah tindakan manusia yang terbesar, yang menjadikan kita hidup sesuai dengan harkat kita sebagai anak-anak Bapa, maka tanggapan kita seharusnya adalah juga mengampuni sesama kita, sehingga kita menjadi anak-anak yang serupa dengan Bapa. Setiap orang yang telah diampuni, juga mampu mengampuni. Yesus tidak sekadar mengajak orang meminta pengampunan dari Tuhan, tetapi juga mengajak kita untuk saling mengampuni, karena pengampunan dari Tuhan itu hanya mulai bekerja di dalam diri kita jika kita mengampuni orang lain (Luk. 11:4 – Doa Bapa Kami).

Manusia adalah makhluk yang berelasi, yang pertama dan terutama adalah relasi dengan Allah, lalu dengan sesama. Dosa telah mematahkan relasi tersebut, namun melalui pengampunan relasi itu dapat dipulihkan. Iman kepada Allah tidak menuntut persembahan dari kita, namun sebaliknya Tuhan telah menyerahkan diri-Nya sendiri untuk pengampunan dosa kita dan meminta kita menyambut-Nya. Dengan menyambut pengampunan itu, kita semakin mengenali bahwa Allah adalah Bapa yang mencintai diri kita sebagai anak-Nya bukan karena kita baik, tetapi karena anugerah semata tanpa menuntut jasa kita. Iman adalah awal mukjizat, karena relasi yang dipulihkan mempersatukan kembali manusia dengan Allah, sumber segala kebaikan yang tanpa henti, yang dari sumber ini setiap orang menimba karunia sesuai dengan kebutuhannya.

Iman adalah keberanian berhasrat atas sesuatu yang mustahil, persatuan dengan Dia yang bagi-Nya tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37). Abraham adalah teladan pergumulan iman ketika diperhadapkan dengan pilihan mustahil antara menyerahkan anaknya sebagai korban karena ketaatan dan kasihnya kepada Allah, atau mempertahankannya itu oleh karena kasihnya pada diri sendiri. Dan iman Abraham tidak membuatnya mempertanyakan janji Allah kepadanya. Kasihnya kepada Allah, mengalahkan keinginannya untuk mempertahankan haknya. Abraham pun tidak memikirkan hal-hal jahat di dalam hatinya, seperti ahli-ahli Taurat yang meragukan otoritas kuasa Allah.
Ketika cinta harus memilih antara mempertahankan apa saja yang Anda cintai, ego maupun kelekatan pada dosa, atau melepaskannya demi kesetiaan dan kasih kepada Kristus, serta datang untuk mohon pengampunan-Nya, apa pilihan Anda? (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persahabatan Sosial: Kita berdoa agar dalam situasi konflik sosial, politik dan ekonomi, kita berani dan penuh semangat menjadi sarana dialog dan persahabatan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para pendidik: Semoga para pendidik semakin hari semakin kreatif, dengan berusaha mengembangkan materi pendidikan melalui media sosial dan teknologi. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah melimpahkan Roh Sukacita, agar kami boleh merasakan sukacita dalam mendidik para muda, seperti Santo Yoseph, yang bersama Bunda Maria mendampingi pertumbuhan Sang Putera, dalam Keluarga Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s