Perjumpaan Antara Kasih dan Pertobatan

Renungan Harian Misioner
Jumat, 02 Juli 2021
P. S. Bernardinus Realino

Kej. 23:1-4,19;24:1-8,62-67; Mzm. 106:1-2,3-4a,4b-5; Mat. 9:9-13

Misi:
Senantiasa menghadirkan perjumpaan di mana kasih dan pertobatan saling menatap, menyapa dan berpelukan sehingga sesama kita boleh mengalami pengampunan dan kemurahan hati Tuhan.

Para sahabat misioner yang terkasih dalam Kristus.
Kisah Abraham dalam Kitab Kejadian, yang kita dengar hari ini merupakan kisah yang memiliki tegangan iman yang harus dilalui Abraham. Kisah meninggalnya Sara istrinya membawa Abraham pada ruang kesendirian, namun pada saat yang sama Abraham harus bangkit dari duka dan merencanakan rumah tangga baru bagi anaknya Ishak. Antara kesedihan dan tanggung jawab yang dilaksanakan seorang diri harus dilalui Abraham. Di sinilah IMAN ABRAHAM DIUJI.

Sementara pada Injil Matius yang kita dengar hari ini, Yesus pun dihadapkan dengan dua tegangan yang sama kuatnya. Kasih dan kemurahan hati Yesus untuk mengampuni sedang ditantang oleh celoteh dan buruk sangka kaum Farisi yang selalu menghakimi. Pada titik inilah Yesus menunjukkan bahwa perjumpaan-Nya dengan Matius si pemungut cukai itu adalah perjumpaan kasih dan pertobatan yang harus membuahkan pengampunan. Ini bukan perjumpaan antara kemurahan hati dan ketegaran hati.

Sesama saudara misioner yang terkasih.
Dalam perjalanan hidup dan iman, kerap kali kita berhadapan dengan tegangan yang memaksa kita harus berjalan dalam dua ruang yang sama pentingnya. Kita bisa saja dihimpit oleh keadaan yang mengharuskan kita mengutamakan kepentingan diri namun pada saat yang sama kita dituntut untuk melakukan sesuatu yang terbaik demi kepentingan orang lain, karena pada kesempatan itulah tanggung jawab, ukuran moral serta kualitas iman kita diuji dan ditantang.

Hendaknya kita meneladani tindakan iman dan tanggung jawab sosial Abraham. Dia menempatkan kepentingan anaknya Ishak di atas kesedihannya karena kepergian sang istri terkasih, Sara untuk selamanya. Kita juga memiliki kewajiban iman untuk mengikuti teladan Yesus Sang Guru. Berani mengajak Matius keluar dari kesalahannya, menerima pertobatannya, dan menghadiahkan pengampunan bagi Matius si pemungut cukai itu tanpa peduli pada celoteh gusar, nyinyiran serta protes kaum Farisi yang tidak berhati kasih dan bernurani pengampun.

Para sahabat misioner yang terkasih.
Tidak jarang kita bersikap seperti kelompok Farisi yang merasa diri benar, tanpa memiliki hati yang mengampuni. Sementara kebenaran sejati adalah kesadaran setiap orang akan kesalahan dan kekeliruan, kekurangan dan kelalaian yang sering dilakukannya. Maka sudah pasti bahwa pada diri seorang munafik alias barisan Farisi tidak terdapat kebenaran sejati. Karena kebenaran sejati juga memuat kemurahan hati dan kasih untuk mengampuni.

Sebagai pengikut Kristus kita dipanggil dan diharuskan untuk:
– memiliki tindakan serta tanggung jawab iman untuk mencari sesama yang telah meninggalkan jalan iman.
– membangun budaya iman yang mengampuni, dan membawa sesama kita keluar dari keterpurukan,
– menghargai perjuangan orang lain untuk berubah dan bertobat sekalipun sering kali mereka gagal,
– menemukan sisa-sisa kebaikan dari setiap orang yang bisa mengantar dia pada kemurahan hati Allah dan mengalami keselamatan.

Karena Yesus Sang Guru tidak menghendaki kita selalu buta terhadap kebaikan orang lain lalu terus meneropong dan memelototi kesalahan orang hingga menutup ruang perubahan dan pembaruan pada sesama.

Pada kesempatan ini juga, Yesus mau berjumpa dengan kita untuk mengajak kita agar meninggalkan kesalahan kita, melihat getaran dan denyutan pertobatan kita dalam menyambut Kasih dan Kemurahan hati-Nya, sehingga kita juga boleh mengalami pengampunan dan keselamatan. Amin.

(RP. Hiasintus Ikun, CMF – Dirdios KKI Keuskupan Palangkaraya)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persahabatan Sosial: Kita berdoa agar dalam situasi konflik sosial, politik dan ekonomi, kita berani dan penuh semangat menjadi sarana dialog dan persahabatan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para pendidik: Semoga para pendidik semakin hari semakin kreatif, dengan berusaha mengembangkan materi pendidikan melalui media sosial dan teknologi. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah melimpahkan Roh Sukacita, agar kami boleh merasakan sukacita dalam mendidik para muda, seperti Santo Yoseph, yang bersama Bunda Maria mendampingi pertumbuhan Sang Putera, dalam Keluarga Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s