Hidup Bukan Sekadar Menghitung Untung Rugi Semata

Renungan Harian Misioner
Kamis, 8 Juli 2021
P. S. Adrianus III

Kej. 44:18-21,23b-29; 45:1-5; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 10:7-15

Waktu studi di Yogyakarta saya selalu mendengar istilah ‘Wani piro?’ bahkan menjadi bahasa iklan dari salah satu brand yang sangat terkenal sampai saat ini. Mungkin artinya kurang lebih adalah “Berani berapa?” Sebuah ungkapan yang mungkin dapat mencairkan suasana sehingga terdengar seperti ‘guyonan’ atau lucu-lucuan, namun bisa juga menjadi kritik sosial bahkan sebuah satire di masyarakat. Secara sederhana frase ini bisa kita contohkan seperti ini: “Bisakah kamu menolong saya?” Lalu dijawab oleh orang lain, “Oke bisa, wani piro??” Jika antara teman yang sebaya atau sudah akrab, jawaban di atas terasa hanya guyonan saja. Namun bisa jadi ini juga suatu ungkapan serius, “Saya bisa menolong, tapi berani bayar berapa?”

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memberi perintah kepada kedua belas murid-Nya, “Pergilah dan wartakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat…” Kemudian disusul dengan perintah yang lebih spesifik, pergi untuk apa dan wartakan tentang apa. Perintah Yesus jelas; pergi untuk menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta dan mengusir roh-roh jahat. Namun tidak sampai di situ saja. Perintah ini ada syaratnya pula. Tidak boleh membawa ini dan itu, bahkan bekal di perjalanan sekalipun juga tidak boleh dibawa. Masih mending pergi tanpa membawa 2 helai baju, daripada kelaparan di tengah jalan. Seandainya waktu itu, para murid Yesus ikut-ikutan demam ‘wani piro’, mau bekerja hanya jika jelas upahnya berapa, tahu dulu apa konsekuensinya bagi kehidupannya, untungnya berapa dan sebagainya, tentu mereka menolak ajakan Yesus ini. Kalau pun menolak mungkin secara kasar ada yang menjawab begini, “Sudah meminta tolong tanpa memberi gaji, risikonya besar malah diminta lagi untuk mati kelaparan di jalan tanpa membawa bekal makanan.”

Perintah Yesus ini tentu berat. Tantangannya luar biasa; harus mendekati orang-orang sakit yang bisa saja penyakit mereka menular dan kita ikut-ikutan menjadi najis. Namun akhirnya, para murid menyanggupi dan itu membuat saya terkesan, betapa kita hanya perlu percaya kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya karena Tuhan akan mengatasi kekurangan-kekurangan lainnya.

Saat ini sifat dan semangat misionaris seperti murid-murid Yesus inilah yang perlu terus kita kembangkan dalam hidup kita, yang sedang dan terus belajar menjadi murid-Nya yang setia. Tidak mudah untuk percaya kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya apalagi di saat kita juga merasa kurang secara duniawi. Namun yang dibuat oleh murid-murid Yesus terbukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang mau bekerjadi kebun anggur-Nya.

Perintah Yesus kepada murid-murid-Nya saat itu masih berlaku juga untuk kita saat ini. Banyak kekosongan dunia yang perlu kita isi dengan pewartaan kita. Di berbagai tempat kita menemukan kemanusiaan telah hilang, cinta kasih diganti dengan cinta diri, kelaparan di sudut-sudut kota yang gemerlap, kelompok yang satu menghancurkan kelompok yang lain, dan mungkin juga kita menemukan kekosongan itu di dalam keluarga kita sendiri. Mungkin kita menemukan saling menghormati dan mengasihi bukan lagi menjadi keutamaan karena sibuk dengan beban pekerjaan masing-masing. Terlalu mudahnya orang-orang berkata kasar dan saling mengumpat dan kini dipertontonkan dengan vulgar demi viral. Kekosongan-kekosongan inilah yang perlu kita isi dengan semangat misionaris yakni berani diutus untuk mewartakan cinta kasih Tuhan bahkan berani berkorban untuk hal-hal kemanusiaan apalagi dalam situasi saat ini.

Mari mulai belajar mengekang diri dari sikap melihat untung-rugi semata agar kita siap untuk diutus menjadi misionaris-misionaris meski hanya di dalam lingkup keluarga kita atau di tempat kerja kita.

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persahabatan Sosial: Kita berdoa agar dalam situasi konflik sosial, politik dan ekonomi, kita berani dan penuh semangat menjadi sarana dialog dan persahabatan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para pendidik: Semoga para pendidik semakin hari semakin kreatif, dengan berusaha mengembangkan materi pendidikan melalui media sosial dan teknologi. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah melimpahkan Roh Sukacita, agar kami boleh merasakan sukacita dalam mendidik para muda, seperti Santo Yoseph, yang bersama Bunda Maria mendampingi pertumbuhan Sang Putera, dalam Keluarga Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s