Domba yang Cerdik Seperti Ular dan Tulus Seperti Merpati

Renungan Harian Misioner
Jumat, 9 Juli 2021
P. S. Agustinus Zhao Rong, dkk

Kej. 46:1-7,28-30; Mzm. 37:3-4,18-19,27-28,39-40; Mat. 10:16-23

Yesus memperingatkan setiap orang yang turut serta mengemban Misi pewartaan Kerajaan Allah, dan bahwa sebagai murid-Nya, kita akan mengalami nasib yang sama dengan-Nya, Sang Anak Domba. Kejahatan akan terus menghantui bahkan dipikul oleh orang-orang yang tidak melakukannya, seperti Yesus memikul dosa dunia (Yoh. 1:29). Namun karena Ia memikulnya dengan rela, maka Ia dapat mengalahkannya dengan menggenapi kehendak Allah yaitu keselamatan bagi semua orang (Yes. 53:10, 12; 1Tim. 2:4). Dalam kesaksian kita kepada dunia, kita mewartakan kemenangan Anak Domba ini. Hambatan, pertentangan dan penganiayaan tidak boleh menakutkan kita, namun menjadikan panggilan sebagai kemartiran yang mesti dijalani demi kemenangan Kerajaan Kebaikan itu. Dalam Yesus, Sang Anak, segala perseteruan dikalahkan, sama seperti Yusuf yang telah dijual oleh saudara-saudaranya, malah menyelamatkan semua saudara yang telah mencelakakan dia.

Domba adalah binatang yang lemah lembut dan rendah hati. Semasa hidup, domba memberi bahan makanan dan pakaian, dan setelah mati pun menjadi makanan dan pakaian. Domba menjadi lambang Allah, yang sesudah memberi kehidupan dan menjaga martabat manusia, membiarkan diri-Nya dianiaya ‘serigala’, disalib dan menganugerahkan diri-Nya sebagai sumber hidup serta membawa manusia ke dalam kemuliaan-Nya. Yesus mengutus kita sebagai domba yang cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, artinya: kita memerlukan kecerdikan dan ketulusan agar mampu menilai dan bertindak dengan bijaksana, serta dapat hidup sebagai orang yang suci hatinya.

Merpati juga binatang yang lemah lembut, taat dan sabar, tidak menyerang atau berniat jahat. Kita harus menggunakan ketulusan merpati untuk menanggung berbagai penderitaan daripada menyakiti orang lain. Sebagai murid Kristus kita harus terus bersikap tulus dan sopan dalam perkataan dan perbuatan, terutama ketika berhubungan dengan musuh-musuh yang ada di antara kita, agar tidak memancing keributan. Ketulusan merpati membuat orang yang suci hati senantiasa peka akan Roh Bapa yang ada di dalam dirinya, sehingga mereka tidak pernah khawatir akan bagaimana dan akan apa yang harus mereka katakan ketika mewartakan kesaksiannya kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kepekaannya akibat kehadiran Roh dan persatuan dengan Bapa akan membuatnya mendengar kata-kata apa yang dikaruniakan Bapa dalam memberi kesaksian tentang Yesus pada saat itu juga. Roh sendiri yang akan menyediakan kesaksian lisan (dan tulisan) mereka (Mat. 10:18-20).

Penganiayaan selalu merupakan kesempatan bagi seorang murid untuk memberikan kesaksian kemartiran. Namun menjadi martir bukanlah tindakan seseorang yang mencari kematiannya ataupun kematian orang lain dengan sia-sia, melainkan menjadi seorang yang dipenuhi oleh kehendak akan sebuah kehidupan karena kasih yang begitu besar meskipun hal itu menuntut ‘harga’ yang tinggi. Kecerdikan atau kebijaksanaanlah yang memampukan kita memperhitungkan halangan yang akan kita hadapi dalam pewartaan. Berada di tengah-tengah serigala, sikap yang kita butuhkan adalah cerdik seperti ular, bukannya seperti serigala yang cenderung licik dan mencelakakan orang lain, melainkan seperti ular yang menggunakan kecerdikannya untuk membela dan menyelamatkan diri sendiri. Yesus mengajarkan bahwa hikmat orang bijak adalah memahami jalan-jalan-Nya, tidak mendatangkan masalah bagi diri kita sendiri, bijak untuk berdiam diri pada waktu yang kritis dan berusaha menahan diri untuk tidak menyerang di saat yang tidak tepat. Dalam situasi ini kecerdikan ular akan mampu membuat kita melihat kemungkinan untuk lari daripada dibunuh, tetapi sambil melarikan diri terus menyebarluaskan kebaikan Allah (bdk. Kis. 8:4; 11:19-20; Mat. 10:17-18; 21-23).

Sampai hari ini, mengikuti Yesus, menaati dan memberitakan tentang Dia masih selalu membangkitkan berbagai perlawanan. Kesetiaan dan keberanian, juga kecerdikan dan ketulusan mutlak diperlukan untuk menghadapi tugas dan tantangan yang berat. Tapi percayalah, mereka yang bertahan sampai pada kesudahannya, akan menerima kemuliaan dari Allah! (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persahabatan Sosial: Kita berdoa agar dalam situasi konflik sosial, politik dan ekonomi, kita berani dan penuh semangat menjadi sarana dialog dan persahabatan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para pendidik: Semoga para pendidik semakin hari semakin kreatif, dengan berusaha mengembangkan materi pendidikan melalui media sosial dan teknologi. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah melimpahkan Roh Sukacita, agar kami boleh merasakan sukacita dalam mendidik para muda, seperti Santo Yoseph, yang bersama Bunda Maria mendampingi pertumbuhan Sang Putera, dalam Keluarga Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s