Menjadi Diri yang Dipecah-Pecahkan dan Dibagikan

Renungan Harian Misioner
Jumat Biasa Pekan XV, 16 Juli 2021
P. S. Maria dr Gunung Karmel

Kel. 11:10 – 12:14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; Mat. 12:1-8

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Keluaran 11:10 – 12:14. Perikop ini kita baca juga dalam liturgi malam Paskah untuk mengenang kembali Paskah Perjanjian Lama saat Tuhan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Dari kisah itu, ada poin yang menarik untuk kita perhatikan: darah anak domba yang disembelih itu “harus diambil sedikit dan dioleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas rumah tempat orang makan anak domba itu” (ay. 7). Mengapa Tuhan meminta orang Israel melakukan itu? Jawabannya ada pada ayat 13: “Darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.” Berkat tanda yang berupa darah anak domba yang disembelih ini keluarga-keluarga orang Israel dibebaskan dari tulah kematian.

Ide dalam Perjanjian Lama bahwa Allah menyelamatkan umat-Nya dengan darah anak domba dipakai juga dalam Perjanjian Baru: Allah menyelamatkan umat-Nya dengan darah Yesus Putera-Nya – Anak Domba Paskah. Korban kematian Yesus adalah korban yang sempurna, dan berkat pengorbanan-Nya “kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.” (Ibrani 10:10). Sebagai pengikut Kristus, pantaslah kita bersyukur kepada Allah atas karya penyelamatan-Nya bagi kita ini. Kita mengenangnya setiap kali kita merayakan Ekaristi Kudus. Pada saat itu korban Kristus yang menyelamatkan dihadirkan kembali.

Apa pesan misioner yang bisa kita petik? Pertama, kalau kita sudah bisa memahami dan menikmati kurban Kristus – Sang Anak Domba Paskah, mestinya kita terdorong untuk mewartakan-Nya kepada orang-orang yang belum mengenal-Nya agar mereka pun akhirnya bisa juga menerima Kristus sebagai Juru Selamat. Kedua, setiap hari Minggu, bahkan ada yang setiap hari, kita berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Setelah “menikmati” korban Kristus Sang Anak Domba Paskah, kita mestinya juga merelakan diri menjadi “korban” bagi keselamatan orang lain. Dengan kata lain, setelah kita menerima hasil penyelamatan Kristus dalam rupa roti kudus – yang merupakan Tubuh Kristus – yang dipecah-pecah, sepulang dari Perayaan Ekaristi, mestinya kita juga menjadikan diri kita dipecah-pecah dan dibagikan kepada orang lain agar mereka menikmati keselamatan dari Allah melalui diri kita. Perayaan Ekaristi mengandung dimensi misioner ini. Pada akhir perayaan Ekaristi, setelah berkat penutup, Imam yang memimpin perayaan Ekaristi berkata, “Marilah kita pergi, kita diutus.” Kita diutus untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Dalam masa pandemi virus corona yang semakin mengganas minggu-minggu ini, kita diundang untuk berbagi dengan mereka yang terinfeksi virus ini dan mereka yang terpapar secara ekonomi akibat pandemi ini. Mari kita tanggapi undangan ini dengan berbagi apa yang kita miliki, bukan hanya materi. Kita bisa juga membagi waktu kita untuk sekadar menyapa mereka atau berdoa bagi mereka. Sekecil apa pun yang kita bagikan, sangat berguna bagi mereka yang membutuhkan.

(RP. Yakobus Sriyatmoko, SX – Magister Novis Serikat Xaverian di Wisma Xaverian Bintaro, Tangerang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persahabatan Sosial: Kita berdoa agar dalam situasi konflik sosial, politik dan ekonomi, kita berani dan penuh semangat menjadi sarana dialog dan persahabatan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para pendidik: Semoga para pendidik semakin hari semakin kreatif, dengan berusaha mengembangkan materi pendidikan melalui media sosial dan teknologi. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah melimpahkan Roh Sukacita, agar kami boleh merasakan sukacita dalam mendidik para muda, seperti Santo Yoseph, yang bersama Bunda Maria mendampingi pertumbuhan Sang Putera, dalam Keluarga Nasaret. Kami mohon…

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s