Menghadirkan Yesus Kristus Sang AKU Dalam Keluarga di Masa Pandemi Covid-19

Renungan Harian Misioner
Kamis Biasa Pekan XV, 15 Juli 2021
P. S. Bonaventura

Kel. 3:13-20; Mzm. 105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat. 11:28-30

Renungan Harian dari Yung-Fo, Pangkalpinang,

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom! Ketika membawa kita memasuki Pekan XV Tahun B/I ini, Tuhan menegaskan kepada kita bahwa semua orang, dari latar belakang apa saja, semua kita Dia utus untuk menyampaikan warta tentang Kerajaan-Nya sekaligus menghadirkan nilai-nilai Kerajaan itu di dalam sikap dan tingkah-laku serta tutur-kata dan perbuatan kita. Demikian dalam barisan para utusan-Nya, kita dapati orang-orang dari berbagai profesi. Ada petani dan pemungut buah arah hutan serta penggembala kambing-domba seperti Amos. Ada ahli hukum Taurat seperti Saulus yang kemudian menjadi Paulus. Dan ada para penangkap ikan atau nelayan seperti kedua-belas murid Yesus.

Dan… saat dipanggil untuk diutus, tidak ada dari antara mereka yang sakit ataupun pengangguran lho. Artinya bahwa langsung pada hari pertama Pekan XV itu, ada panggilan dan perutusan yang berlaku bagi semua, tetapi juga ada peringatan-Nya. Yakni bahwa bukan orang sakit atau pengangguran yang dipanggil dan diutus. Atau jangan tunggu hingga jadi sakit dan menganggur baru mencari Tuhan dan Kerajaan-Nya, baru memberi diri untuk hidup sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya. Kita dipanggil dan diutus untuk memberitakan Kerajaan Allah dan nilai-nilainya. Bukan karena kita pengangguran atau jadi orang sakit, baru ada waktu untuk Tuhan!!!

Tugas-perutusan Musa
Refleksi tentang tugas-perutusan itu pada hari kelima Pekan XV ini mempertemukan kita dengan Musa. Adapun dasar dari panggilan dan perutusan Musa ini, adalah wujud keprihatinan Allah atas nasib buruk yang menimpa Umat Pilihan-Nya di Mesir. Mereka berada dalam perbudakan dan kerja paksa yang berat. Dan Allah mendengarkan seruan mereka meminta tolong. Firman-Nya kepada Musa, “Aku sudah mengindahkan kalian, dan juga apa yang dilakukan Mesir terhadapmu” (Kejadian 3:16).

Dari Firman ini, kita menemukan bahwa Musa diikutsertakan Allah dalam proyek pembebasan atas Umat Pilihan-Nya. Dialog antara Musa dengan Allah, selanjutnya menunjukkan beberapa hal ini. Pertama bahwa Allah mengakui Israel sebagai Umat Pilihan-Nya. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah nenek-moyang orang Israel. Dia bukanlah Allah yang asing bagi mereka. Kedua, bahwa untuk proyek pembebasan Allah atas umat yang diperbudak itu, Musa dipilih dan diutus. Musa punya pekerjaan sebagai penggembala kambing dan domba mertuanya. Musa bukan pengangguran. Musa diambil dari pekerjaannya untuk suatu tugas yang ditentukan Tuhan bagi bangsanya. Ketiga, bahwa dalam tugas-perutsan itu, Tuhan mengingatkan Musa bahwa akan ada perlawanan dari Firaun. Namun kepada Musa, Tuhan menjanjikan penyertaan-Nya. Jaminan ini diberikan Allah, Sang Aku, kepada Musa, “… Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengah-tengahnya. Sesudah itu raja Mesir akan membiarkan kalian pergi” (Kejadian 3:20).

Tugas-perutusan Yesus
Sebagaimana dengan Musa untuk Umat Allah Perjanjian Lama (UAPL), demikian pula untuk Umat Allah Perjanjian Baru (UAPB), kita dipertemukan dengan Yesus. Keprihatinan Allah atas nasib buruk UAPL muncul kembali dengan UAPB sebagai sasaran dari tugas perutusan Yesus. Sebagai “Sang Aku” untuk UAPB, Yesus membuka kesempatan kepada semua orang untuk datang kepada-Nya, “Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih-lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Dari Musa dan Yesus kepada saudara dan saya
Tugas perutusan Allah tersebut di atas, untuk zaman ini, berada di tangan saudara dan saya. Situasi perbudakan dan kerja-paksa di zaman Musa (UAPL) dan situasi hidup umat yang letih lesu dan berbeban berat di zaman Yesus (UAPB), muncul kembali di zaman kita dalam wujud Pandemi Covid-19. Ke dalam situasi hidup yang mengancam keselamatan dan hajat hidup orang-orang seperti inilah, keprihatinan dan keberpihakan Allah untuk membebaskan umat-Nya harus dihadirkan oleh orang-orang yang Dia panggil dan Dia utus. Apa yang dapat kita lakukan dalam situasi Pandemi Covid-19 ini?

Kesempatan untuk menjadi Gereja dalam Rumah Tangga
Pandemi Covid-19 di satu sisi memang menjadi bencana kemanusiaan. Namun di sisi lain merupakan peluang untuk melaksanakan tugas perutusan. Sebuah gambar yang viral di medsos menampilkan Lucifer dalam dialog dengan Yesus. Kata Lucifer, “Lihat, dengan Covid-19, aku telah menutup banyak Gereja-Mu!” Yesus menjawab, “Engkau keliru Lucifer. Aku telah membuka Gereja-Ku di dalam keluarga-keluarga!”

Kata-kata Yesus dalam dialog tersebut di atas, membuka kesempatan bagi kita semua, supaya di tengah kesibukan perjuangan melawan Covid-19, mari kita tidak melupakan Tuhan, yang telah mendirikan Gereja-Nya di dalam setiap rumah-tangga, melalui ikatan sakramen perkawinan gerejani. Situasi Pandemi Covid-19 memanggil kita, untuk menjadikan keluarga-keluarga kita sebagai Gereja Allah, tempat semua anggota keluarga kumpul dan berdoa bersama, dan memberi ruang dan waktu bagi Tuhan Allah untuk hadir san mengerjakan keselamatan-Nya bagi kita, sebagaimana yang telah Dia lakukan di zaman Musa dan di zaman Yesus. Terima kasih Tuhan Yesus, karena telah menjadikan keluarga-keluarga kami sebagai Gereja-Mu. Amin (RMG).

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persahabatan Sosial: Kita berdoa agar dalam situasi konflik sosial, politik dan ekonomi, kita berani dan penuh semangat menjadi sarana dialog dan persahabatan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para pendidik: Semoga para pendidik semakin hari semakin kreatif, dengan berusaha mengembangkan materi pendidikan melalui media sosial dan teknologi. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah melimpahkan Roh Sukacita, agar kami boleh merasakan sukacita dalam mendidik para muda, seperti Santo Yoseph, yang bersama Bunda Maria mendampingi pertumbuhan Sang Putera, dalam Keluarga Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s