Mengenang Leluhur, Wujud Bakti pada ALLAH

Renungan Harian Misioner
Senin, 26 Juli 2021
P. S. Yoakim dan Ana, Orang tua SP. Maria
Sir. 44:1.10-15; Mzm. 132:11.13-14.17-18; Mat. 13:16-17

Penghormatan kepada Bapak/Ibu, Opa dan Oma merupakan tradisi yang dipegang teguh oleh kebanyakan bangsa di seluruh dunia. Namun bakti kita kepada Bapak dan Ibunya Maria menjangkau melampaui hasrat bakti manusiawi. Sebab Maria diakui oleh Yesus (Mat. 12:46-50) karena Bunda-Nya mendengarkan Pesan Bapa dan menyambut-Nya dengan ucapan iman: “Aku ini hamba Allah, terjadilah padaku menurut Kehendak-Mu”. Dalam suasana itulah hari ini dirayakan dalam Gereja.

BACAAN PERTAMA – SIRAKH 44:1.10-15:
Dalam bacaan dari leluhur Maria ini, dikenangkan para leluhur. Dengan demikian, dilanjutkan bagaimana tradisi budaya, seperti agama dan bangsa lain. Sementara itu, dijelaskanlah bahwa dalam penghormatan para leluhur itu termaktub pula bakti kepada Allah, yang Perjanjian-Nya dikenangkan dari generasi ke generasi, dalam iman mendalam. Dengan kata lain, pujian kepada para leluhur, seperti Yoakim dan Ana, memadukan warisan budaya dengan iman “yang lebih lanjut” dalam hubungan dengan “Sang Cucu”, yaitu Yesus dari Nazaret. Harapannya adalah bahwa “cara itu dilanggengkan oleh generasi-generasi bangsa manusia, sampai lanjut” (termasuk kita-kita di zaman sekarang). Dari satu sisi penghormatan melampaui bakti budaya; dari sisi lain, diresapkanlah iman ke dalam bakti budaya masuk ke dalam Paguyuban Umat Beriman, yang tanpa batas manusiawi.

Refleksi kita: Dari satu sisi, janganlah kita segan menghormati Yoakim dan Ana, seakan-akan menyembah manusia; dari sisi lain marilah kita melantunkan ibadat sebagai bakti kepada Allah, yang sudi memilih Yoakim dan Ana, sebagai “yang menurunkan Maria, yang siap melibatkan diri ke dalam Peristiwa Penjelmaan”. Maukah kita sekarang melibatkan diri dalam Pelayanan Penebusan, sebagaimana dipesankan Cucu mereka, yaitu Tuhan Kita Yesus Kristus?

BACAAN INJIL – MATIUS 13: 16-17:
Bila mengkontemplasikan bagian singkat dari Injil Matius ini, perlulah kita memperhatikan, bagaimana Matius senantiasa mengingat kaitan erat antara Tradisi Yahudi dari Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Dalam hal ini, “Perjanjian” tidak dilantunkan sebagai lagu atau pembacaan belaka, melainkan sebagai pengenangan atas Peristiwa Agung, yaitu “menjadi bapak-ibu dan kakek-nenek” yang melimpahkan Kejadian Manusia sejak Awal Manusia dan Dunia. Yoakim dan Ana dipandang sebagai wujud peristiwa agung, bagaimana Allah “menghembuskan Nefesh-Nafas-Kehidupan kepada makhluk baru” (Kej. 2:7), yang nantinya menjadi jalan terjadinya Penjelmaan Sang Putera menjadi manusia. Bapaknya dan Ibunya Maria adalah sepasang Kekasih, yang melahirkan “Buah Kasih yakni Maria”, yang siap membangun cinta serta menghasilkan “Buah Tubuhnya, Yesus”. Dalam hal ini, Doa Salam Maria mempunyai kaitan yang sekaligus manusiawi dan ilahi. Matius mengkontemplasikan seluruh peristiwa sebagai bagian dari wujud Fil. 2:1-11: bagaimana Sang Putera mengosongkan diri dalam keluarga manusia biasa (perhatikan, bahwa keluarga Yoakim dan Ana itu lain dengan “Keluarga Terhormat” yang menurunkan Yusuf, dari Raja dan Nabi Daud). Dan kelahiran Yesus adalah melalui “keluarga sederhana”, sebagaimana manusia seluruhnya juga “makhluk biasa”. Kehormatan datang ya karena Sang Putera sudi menyatukan diri dengan keluarga kecil ini.

Refleksi kita: kita diikutsertakan Sang Putera dalam Kemuliaan-Nya, bukan karena jasa dan keagungan manusiawi kita, melainkan karena karunia Ilahi. Apakah kita pernah mensyukuri cinta kasih Ilahi, yang sudi melibatkan kemanusiaan kita dalam Kemuliaan-Nya? Marilah kita mensyukuri rahmat yang mahabesar itu. Marilah kita mohon St. Yoakim dan dan St. Ana untuk mendoakan kita supaya menyambut iman dengan rendah hati. Kemudian, Pujilah Allah yang mahabaik dan mahakasih.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persahabatan Sosial: Kita berdoa agar dalam situasi konflik sosial, politik dan ekonomi, kita berani dan penuh semangat menjadi sarana dialog dan persahabatan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para pendidik: Semoga para pendidik semakin hari semakin kreatif, dengan berusaha mengembangkan materi pendidikan melalui media sosial dan teknologi. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah melimpahkan Roh Sukacita, agar kami boleh merasakan sukacita dalam mendidik para muda, seperti Santo Yoseph, yang bersama Bunda Maria mendampingi pertumbuhan Sang Putera, dalam Keluarga Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s