Beriman Demi Kenyang dan Puas?

Renungan Harian Misioner
Minggu, 01 Agustus 2021
HARI MINGGU BIASA VIII

Kel. 16:2-4,12-15; Mzm. 78:3,4bc,23-24,25,54; Ef. 4:17.20-24; Yoh. 6:24-35

Palestina abad pertama memang tidak ramah. Rakyat jelata hidup merana di bawah penindasan Roma. Angka kemiskinan dan pengangguran menjulang. Kelaparan merajalela. Dalam kondisi seperti itu, seseorang yang membagi roti dan ikan gratis untuk 5000 orang, akan mudah menarik pengikut dan fans. Itulah yang terjadi di akhir bacaan Injil Minggu lalu. Orang banyak ingin menjadikan Yesus raja mereka. Anehnya, Yesus justru menyingkir. Betapa bedanya Tuhan dengan kita, yang sering justru mencari dan memperebutkan pangkat serta kuasa!

Aspirasi rakyat jelata itu tentu saja wajar, tetapi masih kurang mendalam. Jatidiri Yesus belum sungguh mereka kenal. Maka, Yesus berupaya memperjelas siapa Dia sesungguhnya. Selama Ia hanya memberi dan membagi makanan, rakyat jelata akan terus berfokus pada kepuasan jasmani dan ekonomi. Memang itulah yang sering terjadi, dari dahulu sampai kini. Para pengikut-Nya sering hanya berfokus pada status dan manfaat jasmani. Yesus dicari demi roti. Tuhan dipanggil demi yang jasmani. Dengarkan saja semua ujud doa kita: penuh dengan permintaan akan “makanan yang dapat binasa” (ay. 27). Kita beriman demi kenyang: kenyang perut, kenyang kuasa, kenyang pujian, dll. Kita beragama supaya puas: puas hati, puas diri, puas rohani, puas psikologis, dll.

Yesus tentu saja tidak ingin manusia kelaparan. Ia ingin mengakhiri kelaparan, tetapi Ia tidak mau hanya menjadi tukang perbanyak roti dan ikan! Yesus meminta kita untuk membuat lompatan kualitas iman. Maka, Ia memperkenalkan diri-Nya semakin mendalam: dari Yesus yang memberi roti, menjadi Yesus yang adalah roti. Dan bukan sembarang roti! Proklamasi diri-Nya “Akulah roti kehidupan” mengingatkan kita akan perkenalan diri Allah kepada Musa: “Akulah AKU ADA” (Kel. 3:14). Allah yang dahulu ada dan senantiasa menyertai umat-Nya, sekarang hadir secara aktif melalui Yesus. TUHAN yang dahulu menurunkan manna, sekarang menurunkan Yesus, sang Roti kehidupan. Wahyu Allah melalui Yesus ibarat roti atau bekal yang menumbuhkan hidup sejati dalam diri orang yang percaya, sekaligus memberi mereka bagian dalam kehidupan ilahi.

Apa tanggapan kita terhadap perkenalan diri Yesus sebagai roti yang memberi kehidupan sejati itu? Saya dan Anda dapat saja terjebak seperti pendengar Yesus mula-mula: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah?” Mereka amat menekankan pekerjaan dan upaya manusia, yaitu: perbuatan-perbuatan baik yang dikehendaki Allah. Tentu itu semua tidak disangkal, tetapi jelas tidak menentukan. Yesus justru menegaskan satu pekerjaan saja: “Inilah pekerjaan Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (ay. 29). Pekerjaan yang dikehendaki Allah itu satu saja, yaitu: percaya! Hidup sejati adalah anugerah Allah. Saya dan Anda cukup datang dan percaya kepada Yesus, agar memperoleh hidup sejati itu. Mengapa? Sebab Dialah sang Firman yang menyatakan dan menghadirkan kasih Allah. Menerima Yesus berarti menerima kasih Allah, dan itu berarti kita mendapat bagian dalam kehidupan ilahi dan sejati.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s