Sedalam Apa Imanku?

Renungan Harian Misioner
Minggu, 08 Agustus 2021
HARI MINGGU XIX

1Raj. 19:4-8; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; Ef. 4:30 – 5:2; Yoh. 6:41-51

Dalam Injil Yohanes, Yesus sering memanfaatkan kesalahpahaman pendengar-Nya sebagai titik tolak untuk pendalaman. Perempuan Samaria, misalnya, memahami “air hidup” sebagai “air yang mengalir” saja. Itu contoh salah paham, atau paham yang dangkal. Yesus tidak mencela, justru menjadikannya awal dialog yang lebih mendalam tentang jati dirinya sebagai sumber kehidupan. Bagi Yesus, selalu ada kesempatan untuk mengajar Kabar Gembira. Semuanya, termasuk salah paham, dapat menjadi titik tolak dialog yang memperkaya. Kedangkalan adalah kesempatan dan ajakan untuk pendalaman, untuk menukik ke inti misteri.

Orang Yahudi bersungut-sungut karena Yesus berkata “Akulah roti yang telah turun dari Surga”. Mereka terpaku pada yang tampak dan yang mereka kenal. Mereka tahu “asal” Yesus dari mana. Dia itu anak desa mereka. Mereka kenal ibu-bapa-Nya. Ia dari lingkungan mereka. Tidak mungkin Ia “turun dari Surga”. Mereka terpenjara oleh paham dan konsep sendiri. Mereka tidak mau terbuka pada pemahaman baru. Gerutu dan protes mereka berkaitan dengan kekurangan dan kedangkalan iman. Pengajaran Yesus pun menyasar sisi terdalam itu. Pertama, iman kepada Yesus itu anugerah Bapa. Kita mampu datang dan percaya kepada Yesus hanya karena “ditarik oleh Bapa” (ay. 44). Bapa menghendaki semua orang selamat, maka Ia mengajar semua orang (ay. 45). Ia tidak mengecualikan dan mengucilkan siapapun. Problemnya: bersediakah manusia diajar oleh Allah dan terbuka pada tuntunan-Nya, yang Ia sampaikan melalui kata dan karya Yesus? Itulah akar permasalahan pendengar Yahudi. Yesus itu hanya ‘anak desa’ mereka. Ia kerabat mereka. Mereka sudah tahu siapa dia! Mereka tidak dapat menerima dan percaya bahwa Dia “datang dari Surga”: yang mengajarkan kehendak Bapa, dan menghadirkan kasih Bapa di dunia. Iman tidak mendalam, saat kita mengira kita tahu dan kenal siapa Tuhan. Kepercayaan itu fiktif, saat Sang Ilahi tidak lagi menjadi “Yang Lain”, tetapi hanya proyeksi diri, keinginan, hasrat, lamunan, pengetahuan, kesepian dan pencarian diri!

Kedua, Yesus adalah Roti yang turun dari Surga. Dialah makanan yang memberi kehidupan kekal, berbeda dengan manna di gurun yang hanya memberikan kehidupan sementara. Bagaimana Yesus menjadi “makanan” yang memberi kehidupan sejati? Dengan memperkenalkan Bapa kepada manusia. Menyambut Yesus sebagai pewahyuan diri dan kasih Bapa berarti kita “makan” roti kehidupan dan mengambil bagian dalam kehidupan ilahi sendiri. Itulah “keselamatan” dalam bahasa Yohanes. Ia tidak memakai bahasa abstrak dan konseptual. Ia memakai simbol “makan-minum”, kegiatan manusia yang paling biasa, tetapi mendasar. Saat kita makan, kita memasukkan sesuatu dari luar ke dalam diri kita. Yesus adalah “makanan”, karena Ia berasal dari Bapa, dari Surga, bukan ‘produksi’ dunia dan diri kita! Saat kita makan, makanan itu melebur dirinya karena dikunyah, ditelan, dicerna untuk memberi kita tenaga, pertumbuhan dan kehidupan. Makanan itu “menyatu” dengan kita yang makan. Itulah Yesus, yang memberikan diri-Nya, yang meleburkan diri-Nya agar kita menyatu dengan-Nya dan ikut menikmati kehidupan milik-Nya.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s