Jadikan Mereka yang Empunya Kerajaan Sorga

Renungan Harian Misioner
Sabtu, 14 Agustus 2021
P. S. Maksimilianus Maria Kolbe

Yos. 24:14-29; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,11; Mat. 19:13-15

Membaca Injil hari ini, mengingatkan kita akan cerita tentang seorang anak kecil yang ditempatkan di tengah-tengah Yesus dan para murid-Nya ketika mereka berada di dalam sebuah rumah. Anak itu diletakkan Yesus di pusat komunitas kristiani sebagai lambang Diri-Nya sendiri, Dia-lah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga (Mat. 18:1-5). Tradisi Ibrani dan Yunani tidak memperhitungkan seorang anak kecil, tetapi dalam iman kristiani Dia justru berada di pusat komunitas karena Dia adalah Tuhan sendiri! Yesus adalah yang terkecil di antara mereka yang dilahirkan oleh seorang perempuan, tetapi Ia adalah yang terbesar, sang Anak yang menerima dan menyambut anugerah Bapa serta menjadikan diri-Nya anugerah bagi saudara-saudari-Nya.

Dalam terjemahan Yunani, kata anak yang dimaksud adalah ‘paidion’ yang menunjuk pada kelompok anak di bawah usia 7 tahun. Pada zaman Yesus anak kecil ini tidak diperhitungkan; mereka belum merupakan bagian dari komunitas karena mereka belum mampu memahami dan menaati Firman. Tetapi pada episode ini, Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Sorga diperuntukkan bagi ‘anak-anak kecil’ itu, maka jalan masuk kepada Yesus adalah: kita mesti menjadi seperti anak-anak kecil itu. Ini tampaknya yang menjadi dasar teologis bagi praktik Pembaptisan anak-anak. Melalui Pembaptisan, kita dijadikan anak-anak Allah, berkat rahmat yang diberikan kepada kita, bukan karena jasa kita.

Kisah yang singkat ini pun ditulis dengan bingkai dua kali tindakan Yesus ‘meletakkan tangan atas anak-anak kecil’ itu (Mat. 19:13,15). Tangan melambangkan kuasa dan kuasa Yesus adalah kuasa seorang Raja! Meletakkan tangan-Nya adalah tanda menyalurkan kepada anak-anak ini berkat-Nya sebagai Anak, yaitu Roh-Nya sendiri, yang menyatakan hak anak-anak kecil ini untuk turut serta dalam kumpulan anak-anak Allah. Seorang anak akan hidup dan bertumbuh menjadi dewasa ketika mampu menerima kenyataan bahwa ia diterima dan dicintai dalam segala keterbatasannya. Ia hidup dari kepercayaan penuh pada kasih orang-orang yang menyambutnya, sebab manusia hidup dari relasi. Melalui baptisan yang kita terima, kita sadar bahwa di dalam diri kita ada materai ilahi yang mengarahkan kita untuk terus menerus berelasi dengan Sang Pemberi Rahmat. Dengan berelasi dengan Allah Bapa, kita memperoleh identitas diri sebagai anak-anak-Nya, dan segalanya akan kita hayati sebagai anugerah.

Menjadi orang tua kristiani pada masa kini adalah sebuah tantangan untuk memberi teladan kepada generasi yang lebih muda. Kehidupan pada zaman ini semakin memperlihatkan ketidaktakutan manusia kepada Allah dan Gereja. Kepekaan Yosua akan kondisi umat Israel yang lemah dalam hal kesetiaan kepada Tuhan, mengingatkan kita untuk menuntun generasi muda dan para saudara untuk memiliki ketulusan hati seperti anak-anak kecil. Supaya kepada mereka dinyatakan misteri yang tersembunyi bagi orang bijak dan orang pandai dan yang hanya diwahyukan kepada kanak-kanak, yaitu hikmat sang Anak: misteri bahwa Allah adalah Bapa yang telah memberi manusia martabat yang sama dengan martabat Yesus, Sang Anak, yaitu sebagai yang sama-sama dikasihi oleh Bapa (lih. Yoh. 17:23). Jika Yosua menuliskan semua pengajaran itu agar dapat diteruskan kepada generasi-generasi selanjutnya, kita pun harus terus menerus mengajarkan bagaimana mengungkapkan keyakinan, penyerahan dan ungkapan syukur kepada Allah yang telah memilih kita, supaya terukir dalam hati anak-anak kita. Dengan demikian mereka juga bisa mengalami, bahwa memiliki Allah dan berelasi dengan-Nya merupakan hal yang tiada duanya. Mereka akan mampu menyadari bahwa Allah dapat hadir sedemikian dekatnya, sehingga di kegelapan malam pun Dia selalu mengajar dan memurnikan hati nurani mereka; mereka dapat memandang-Nya dengan jelas dan akan bersukacita karena Dia memberitahu mereka jalan menuju Kerajaan-Nya (Yos 24:14-26; Mzm 16:1-2, 5 7-8,11). (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s