Daya Penyembuhan dan Kuasa Kebangkitan Yesus Tersedia Bagi Orang Percaya

Renungan Harian Misioner
Senin, 30 Agustus 2021
P. S. Heribertus

1Tes. 4:13-17; Mzm. 96:1,3,4-5,11-12,13; Luk. 4:16-30

Renungan Harian Misioner dari Yung-Fo, Pangkalpinang

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom!

Menjelang akhir Agustus 2021 ini, kita diberi kesempatan untuk mengenal “keadilan” dan “kesetiaan Tuhan” yang ditawarkan kepada kita melalui Yesus Kristus Putera-Nya. Dan bahwa tidak semua orang mampu menerima tawaran itu dan mengalami keadilan serta kasih-setia-Nya. Bacaan-bacaan hari ini akan membukakan rahasia ini kepada kita!

Firman Tuhan pada hari ini Senin, 30 Agustus 2021, mempertemukan kita dengan Sang Pemazmur, yang menegaskan bahwa “Tuhan akan datang untuk menghakimi dunia”, dan bahwa entry point untuk penghakiman Tuhan tersebut adalah “keadilan” dan “kesetiaan Tuhan sendiri” (Mazmur 96:4).

Tema tentang “keadilan & kesetiaan Tuhan ini,” juga menjadi poin pewartaan Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika, dalam Bacaan Pertama hari ini. Wujud keadilan Tuhan itu adalah bahwa “Dia membangkitkan Yesus dari alam maut”, dan selanjutnya “orang-orang yang telah meninggal di dalam Yesus”, akan ikut dibangkitan. Dan pada akhirnya, ketika Tuhan turun dari surga, kitapun akan dibangkitan juga (1Tesalonika 4:14. 16-17a).

Di dalam Injil, kita menjumpai Tuhan Yesus Kristus yang sedang “mudik” alias “pulang kampung” (Lukas 4:16-30). Ada dua hal penting yang terjadi ketika Yesus berada di kampung halaman-Nya. Pertama: di dalam rumah ibadat di kampung-Nya itu, Yesus mengumumkan tentang tugas perutusan-Nya, yakni bahwa Dia telah diurapi oleh Tuhan dan diberi Roh-Nya, “… untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”. Dan bahwa tugas-perutusan-Nya itu, mulai berlaku saat Dia membacakan nas dari Kitab Nabi Yesaya tadi (Lukas 4:189-21).

Kedua: tidak lama setelah Yesus mengumumkan bahwa tugas-perutusan-Nya sudah mulai berlaku, orang-orang di kampung-Nya bahkan menolak Dia. Untuk meyakinkan mereka, Yesus menegaskan tentang pentingnya membuka hati untuk menerima rancangan keselamatan Tuhan, dengan contoh kasus tentang perempuan janda di Sarfaat, di tanah Sidon, dan tentang Naaman, orang Siria (Lukas 4:24-28). Dalam kisah Lukas ini, Yesus tidak dapat melakukan apa-apa di Nazaret oleh karena ketertutupan hati orang-orang di sana. Namun Markus mencatat di dalam Injilnya, bahwa Yesus menyembuhkan beberapa orang sakit di sana (Markus 6:5).

Daya penyembuhan dan kuasa kebangkitan Tuhan ditawarkan kepada semua orang. Dan itulah bukti keadilan dan kasih-setia-Nya. Naaman, orang Siria itu, mengalaminya. Begitu juga si janda dari Sarfaat merasakannya. Orang-orang sekampung dengan Yesus tidak mampu mengalaminya. Hanya beberapa orang sakit mendapatkan kesembuhan! Ada hal yang sama, yang ada pada sang janda di Sarfaat, pada Naaman, dan pada beberapa orang sakit yang disembuhkan di Nazaret itu. Yakni, bahwa mereka membuka hati untuk menyambut Yesus, dan oleh karena itu keadilan dan kasih setia-Nya bekerja atas mereka. Mereka disembuhkan dan hidup mereka diperbaharui oleh Yesus. Apakah kita harus terpapar sakit penyakit dahulu, baru membuka hati untuk menerima Yesus dan kuasa-kuasa-Nya? Jadi teringat lirik-lirik lagu berikut ini: “Tuhan Yesus, sembuhkanlah kami, orang buta, orang congkak hati, dari mati hidupkanlah kami, dari dosa sembuhkanlah kami. Tuhan Yesus.” [RMG]

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s