Tak Cukup Beragama dengan Ritual dan Formula

Renungan Harian Misioner
Minggu, 05 September 2021
HARI MINGGU BIASA XXIII

Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37

Minggu kemarin Yesus merumuskan ulang konsep “tahir-najis”. Kekudusan Allah tidak perlu diproteksi dan dipagari, justru harus diekspansi dan dibagi. Setelah konsep itu dibongkar, sekat dan batas geografis pun mulai Ia runtuhkan. Ia memasuki wilayah yang sering dicap najis. Ia pergi ke kota Tirus, berdialog dengan perempuan Siro-Fenisia dan menyembuhkan putrinya (Mrk. 7:24-30). Injil hari ini meneruskan karya Yesus untuk membongkar tembok dan sekat pembatas. Ia terus berjalan ke utara (Sidon) lalu berbelok ke tenggara ke wilayah Dekapolis, wilayah bukan Yahudi yang dicap kafir dan najis. Tidak ada satupun wilayah kehidupan manusia yang luput dari perhatian Tuhan!

Tuli dan gagap bukanlah cacat fisik semata. Itu juga tanda manusia terbelenggu roh jahat. Ia simbol manusia yang tak mampu berdialog dengan sesama dan Allah. Ia manusia yang terasing dan terpenjara dalam kesendirian. Roh jahat membuat manusia “tertutup” dalam ego dan kesempitan paham serta keyakinannya. Maka, perintah Yesus pun tegas: “Efata!” yang berarti: “Terbukalah!” Kata “asing” ini dapat disalahpahami sebagai mantra, apalagi ditambah tindakan meraba dan meludah sebelumnya.Tetapi ini pola Yesus yang standar: berkarya lewat kata dan perbuatan! Apalagi Ia mengucapkannya setelah “menengadah ke langit”. Yesus mengandalkan kuasa penyembuhan dari Bapa, bukan daya magis kata-kata. Jangan lupa: menurut paham Yahudi, selain punya daya terapi, ludah juga adalah “napas yang menjadi air”. Jadi, Yesus menyembuhkan manusia dengan napas-Nya, dengan Roh-Nya. Penyembuhan adalah bagian dari misteri Kerajaan Allah yang tengah Ia tegakkan. Maka, Ia melakukan-Nya secara terpisah dari kerumunan orang. Merekapun dilarang untuk menceritakannya kepada siapa saja. Yesus tidak mau dianggap sebagai tabib dan pembuat mukjizat saja. Fokus perbuatan-Nya harus tetap dijaga: Kehadiran Allah yang membebaskan manusia dari aneka belenggu dan kuasa jahat.

Maka, injil hari ini berakhir dengan pujian akan Yesus yang membebaskan, bukan dengan euforia tentang mukjizat. Manusia yang dibebaskan dari kuasa setani akan terbuka telinganya untuk mendengarkan firman. Lidah manusia dilepaskan-Nya dari ikatan roh jahat, agar dapat mewartakan firman yang menerangi dan menyembuhkan. Itulah inti mukjizat Yesus: memampukan manusia mendengarkan dan mewartakan sabda! Intervensi Allah lewat tindakan Yesus sungguh baru. Maka manusia pasti takjub. Tetapi itu belum cukup. Ketakjuban itu harus berakhir dengan pengakuan iman akan jati diri Yesus: “Ia menjadikan segala-galanya baik” (ay. 37). Yesus menghadirkan Allah Pencipta, yang sejak awal menjadikan semuanya “baik” (Kej. 1). Ia juga menghadirkan Allah Pembebas seperti yang dinubuatkan nabi: membuat orang tuli mendengar, dan orang bisu berkata-kata (bdk. Yes. 35:5-6).

Saya dan Anda diingatkan untuk tidak mengandalkan mukjizat, rumusan ataupun ayat! Tidaklah cukup beragama dengan ritual dan formula, yang dihafal dan didaras dalam ibadah. Agama harus menghadirkan kuasa Allah yang menciptakan, memulihkan dan membebaskan. Itulah “mukjizat” Yesus yang harus kita lanjutkan, sebab Ia sudah memerdekakan kita agar mampu mendengarkan dan mewartakan sabda-Nya.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gaya hidup yang ramah lingkungan: Kita berdoa agar kita semua bisa membuat keputusan yang berani untuk gaya hidup yang sederhana dan ramah lingkungan, bersukacita bersama orang muda kita yang dengan tegas berkomitmen dengan hal ini. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Mereka yang tertekan masalah ekonomi: Semoga mereka yang tertekan oleh masalah ekonomi bisa menemukan usaha-usaha baru yang bisa menjadi sumber nafkahnya. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah mengarahkan sejarah hidup kami seperti sejarah hidup Santo Yoseph, yang Kau bimbing menyatu dengan para Leluhurnya, sebagaimana nampak dalam Alkitab. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s