Semakin Menjadi Manusia, Semakin Kudus

Renungan Harian Misioner
Sabtu, 04 September 2021
P. S. Rosa dr Viterbo

Kol. 1:21-23; Mzm. 54:3-4,6,8; Luk. 6:1-5

Bacaan-bacaan suci hari ini mengingatkan saya terhadap situasi yang sementara ini kita hadapi bersama. Sudah hampir satu setengah tahun kita bergumul dengan Covid-19. Semua kegiatan tatap muka ditiadakan. Para pemimpin agama khususnya Gereja Katolik dan umatnya secara bijaksana mengikuti peraturan pemerintah dalam menangani Covid-19 dengan tidak melakasanakan perayaan ekaristi bersama di dalam gereja. Pertanyaannya, apakah kita melanggar perintah ke-3 dari 10 perintah Allah dengan tidak menguduskanlah hari Sabat/Minggu?

Dalam bacaan pertama hari ini, St. Paulus mengingatkan umat di Kolose untuk tidak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran dan praktik-praktik keagamaan sesat yang mereka dengar dan lihat. Santo Paulus menjelaskan kepada mereka bahwa Kristuslah yang mendamaikan mereka dengan Allah dan menguduskan mereka. Akan tetapi, rahmat keselamatan dan kekudusan dari Allah tersebut perlu dipertahankan oleh mereka dengan memegang teguh iman yang diterima. Selanjutnya dalam bacaan Injil, Santo Lukas mengisahkan perdebatan antara Yesus dengan beberapa orang Farisi yang ingin mencari tahu alasan para murid memetik gandum – bekerja – pada hari Sabat, hari di mana semua orang harus berhenti bekerja demi memuliakan Allah. Yesus menjawab mereka dengan mengisahkan apa yang dilakukan Daud, Raja Israel, dan para pengikutnya ketika mereka lapar dan masuk ke bait Allah untuk memakan makanan persembahan. Di sini, kita melihat bahwa Yesus ingin mengoreksi ajaran dan praktik keagamaan orang-orang Farisi. Dengan mengisahkan kembali apa yang dilakukan Raja Daud dan pengikutnya, Yesus mau mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh para murid-Nya bukanlah sesuatu yang baru dan melawan hukum. Yesus lebih menguasai hukum Taurat dibanding dengan orang-orang Farisi. Lebih dari itu, Yesus menegaskan bahwa Dia sendiri adalah Tuhan dari hari Sabat. Artinya Dia sendiri ‘tidak terikat’ oleh aturan-aturan dan praktik-praktik kegamaan yang dijalankan oleh para orang Farisi, karena Dia adalah Allah yang diimani, disembah dan dipuji dalam perayaan Sabat. Maka itu kita dapat mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi adalah sesuatu yang sesat.

Di sisi lain, Yesus menekankan kemanusiaan dan personal relationship dalam beriman dan bukan legalisme dan formalitas dalam beragama. Ketika sebuah agama hanya menekankan aturan, formalitas, struktur, keselamatan jiwa dan melihat segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan tubuh manusia (seperti; makan, minum, olahraga, menari, kesehatan fisik, dll) sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan oleh Allah, maka agama tersebut tidak sehat. Agama dan ajarannya seharusnya membantu kita untuk lebih menjadi manusia. Semakin kita menjadi manusia yang utuh dan penuh, semakin kita menjadi kudus. Dalam bacaaan-bacaan suci hari ini, kita diajak untuk mengevaluasi aturan-aturan agama kita yang dipengaruhi oleh ajaran-ajaran sesat yang tidak membantu kita untuk mengapresiasi kemanusiaan kita. Kita perlu mengapresiasi para pemimpin agama kita yang memutuskan agar kita tidak mengadakan perayaan ekaristi setiap hari minggu di gereja secara bersama karena alasan Covid-19 yang mengancam kehidupan; alasan kemanusiaan dan kemuliaan Allah. Kita tetap dapat menguduskan hari Minggu sebagai hari Tuhan dengan berdoa di rumah Bersama keluarga.

(RP. Erik Tjeunfin, SX – Misionaris Xaverian)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gaya hidup yang ramah lingkungan: Kita berdoa agar kita semua bisa membuat keputusan yang berani untuk gaya hidup yang sederhana dan ramah lingkungan, bersukacita bersama orang muda kita yang dengan tegas berkomitmen dengan hal ini. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Mereka yang tertekan masalah ekonomi: Semoga mereka yang tertekan oleh masalah ekonomi bisa menemukan usaha-usaha baru yang bisa menjadi sumber nafkahnya. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah mengarahkan sejarah hidup kami seperti sejarah hidup Santo Yoseph, yang Kau bimbing menyatu dengan para Leluhurnya, sebagaimana nampak dalam Alkitab. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s